Media Terverifikasi Dewan Pers
Beli Tema IniIndeks
banner 728x250
Uncategorized  

Polda Metro Jaya Bongkar 3 Kelompok Penjahat Perbankan Tulung Selapan, OKI, Sumsel

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, –Kapolda Metro Jaya mengapresiasi keberhasilan jajarannya yakni Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya mengungkap tiga kasus pembobolan bank dan menahan 11 tersangka yang melibatkan warga Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Keberhasilan mengungkap kasus Kelompok Tulung Selapan ini diharapkan akan semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada kepolisian sekaligus juga menunjukkan profesionalisme polisi yang sanggup mengimbangi modus baru kejahatan yang semakin modern.

“Kasus-kasus kejahatan perbankan ini cukup memprihatinkan dan meresahkan masyarakat khususnya bagi para nasabah. Kami dari kepolisian memang berupaya maksimal dan kita fokus untuk memberantas secara tuntas sehingga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan pemerintah juga terjaga,” ujar Kapolda Nana kepada awak media di Mapolda Metro Jaya, Jumat, 6/3/2. Kapolda menyebutkan kelompok Tulung Selapan, ogan komering ilir Sumatera Selatan ini merupakan tindak lanjut dari kasus-kasus yang terjadi pada Desember 2019 dan Januari 2020.

banner 325x300

Menurut penelusuran, kelompok Tulung Selapan ini terkait dengan pembobolan rekening wartawan senior Ilham Bintang di Commonwealth Bank. Pelaku utama pembobolan ini adalah Desar alias Erwin, 28, warga Tulung Selapan Ilir, Tulung Selapan, OKI, Sumsel.

Yang menjadi tersangka, kata Kapolda, P yang membantu Desar menonaktifkan kartu telepon seluler (SIM Card) dan mengganti dengan yang baru dari provider sehingga data yang diperlukan untuk membobol rekening dapt dihimpun secara lengkap dan memperlancar upaya itu.

Kasus kedua melibatkan tiga tersangka yang dipimpin F. Kelompok F ini membobol virtual account (rekening elektronik) Bank BCA dengan memanfaatkan celah waktu ketika berlangsung perawatan (maintenance) sistem online menggunakan perangkat seluler mobile banking (m-bank). “Para pelaku melakukan transaksi top up free tanpa mengurangi saldo di rekeningnya,” jelas Kapolda.

Dari kelompok F ini petugas menyita sejumlah barang bukti. Antara lain tiga kartu ATM BCA dan buku tabugannya, 2 kartu OVO dan dua telepon genggam.”Pembobolan BCA oleh para tersangka menimbulkan kerugian transaksi senilai Rp63,9 juta,” terangnya.

Sedangkan kasus ketiga adalah psk bln pos n kartu kredit yang melibatkan tujuh tersangka yang dipimpin oleh YA. Setelah menguasai kartu kredit korban, para pelaku melakukan transaksi belanja online. “Mereka membobol kartu kredit korban dengan menanyakan kode verifikasi belanja online secara random melalui telepon dengan mengaku sebagai petugas bank,” kata Kapolda

Menurut Kapolda, para korban kelompok YA ini adalah nasabah Bank BCA. Sedangkan total jumlah kerugian para nasabah tak kurang dari Rp 22 miliar. “Salah satu pelaku sudah tewas ditembak petugas karena melawan. Dari para tersangka juga disita dua pucuk senjata revolver dan lima telepon genggam,” jelas Kapolda.

Sebelumnya pada Senin, 2/3/20 petugas Jatanras Polda Metro Jaya memang menembak mati Yopi, 30, seorang pelaku kelompok dari Tulung Selapan ini di kampung halamannya karena melawan. Sempat terjadi baku-tembak namu Yopi akhirnya tewas. Sedangkan ayah Yopi, Helmi, 50, menyerah dan dibawa ke jakarta

Kapolda Nana mengakui Polda Metro Jaya mengerahkan 60 personel untuk membekuk para pelaku di Tulung Selapan. Dengan berkoordinasi dengan Polda Sumsel yang membantu 40 personil lagi guna melakukan penangkapan. “Tentu koordinasi dengan Polda Sumsel untuk penangkapan ini,” fungkasnya.

Kapolda menegaskan, jajarannya terus mendalami Kelompok Tulung Selapan ini. “apakah mereka memiliki ikatan keluarga atau saudara masih kita dalami,” tandasnya.

Namun, untuk proses hukum selanjutnya, Kapolda Nana mengungkapkan, petugas menjerat kelompok Desar dengan pasal-pasal psl 362, pasal 372 KUHP.
“Kemudian Pasal 2, 3, 4, dan 5 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian uang dengan ancaman maksimal pidana penjara 20 tahun,” kata Kapolda.

Sedangkan untuk Kelompok F, pembobolan virtual account, dijerat dengan pasal 362 serta 372 KUHP. Untuk kelompok YA, dijerat dengan Pasal 372 juga pasal-pasal pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010.

Penulis: Okta

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published.