Hadiri Bahtsul Masail, Bima Arya Ungkap 3 Hal Kekaguman Terhadap NU

0
12 views

Bogor – Wali Kota Bogor Bima Arya menghadiri pembukaan Bahtsul Masail Pra-Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2020 di Pondok Pesantren Al-Falakiyah Pagentongan, Loji, Bogor Barat, Minggu (1/3/2020).

Bima Arya mengaku bangga dan menjadi kehormatan luar biasa karena untuk pertama kalinya Kota Bogor ditunjuk sebagai tuan rumah Bahtsul Masail. “Ini sebetulnya selaras dan senafas dengan sejarah di Kota Bogor. Ulama, para wali, semua tidak bisa terlepaskan dari sejarah bumi Pasundan dan Kota Bogor kita tercinta. Jadi, tidak bisa kita memisahkan peran ulama dalam sejarah Jawa Barat dan juga sejarah di Kota Bogor ini,” ungkap Bima.

“Kalau hari ini ulama dan umaro berdampingan, kalau hari ini Kota Bogor kondusif, kalau Kota Bogor arus utamanya moderat, arus utamanya Islam sebagai Rahmatan Lil’alamin, itu karena ikhtiar para ulama, terutama ulama dari NU,” tambahnya.

Mengenai tempat berlangsungnya kegiatan, yakni Pondok Pesantren Al-Falakiyah Pagentongan, Bima Arya menyebut bahwa tempat tersebut dikenal dengan semangat cinta tanah air sejak dulu.

“Bagaimana KH Tubagus Muhammad Falak betul-betul menyandingkan antara Keislaman dan Kebangsaan di Kota Bogor ini. Jika tanpa para wali, jika tanpa para ulama, Kota Bogor ini akan menjadi Kota yang jauh dari budaya Islam karena pengaruh kolonial atau Belanda yang sangat kuat di Kota Bogor ini,” katanya.

Bima Arya secara pribadi juga mengagumi NU dalam tiga aspek. “Pertama, yaitu tradisi silaturahminya yang dahsyat. Saya banyak belajar, banyak diingatkan juga oleh para kyai tentang pentingnya silaturahmi. Makanya ketika Alm Gusdur jadi presiden, kegiatannya, jalan-jalannya, ke mancanegaranya melebihi presiden manapun di Indonesia. Kita tangkap itu sebagai semangat silaturahmi dari NU,” ujar Bima.

“Yang kedua, yang sangat saya kagumi juga adalah tradisi, adab dan ilmunya yang dahsyat luar biasa. Jadi, semangat yang sangat mencerahkan, menginspirasi, terobosan-terobosan pemikiran yang kadang nyeleneh. Tapi hari ini perlu yang nyeleneh. Ketika cara-cara biasa sudah tidak mempan, untuk menghadapi yang khilaf-khilaf tadi,” tambahnya.

Yang ketiga, lanjut Bima, adalah tradisi nasionalisme atau semangat cinta tanah airnya. “Jadi kalau di Bogor ini ada pejuang-pejuang khilaf tadi, yang paling di depan biasanya Banser NU, GP Ansor, dan teman-teman NU lainnya. Dengan segala cerita dan dinamikanya. Ada yang suka, ada yang tidak. Tapi menurut saya penting yang seperti ini untuk disikapi secara serius kalau itu menyinggung atau mengganggu kebersamaan kita sebagai bangsa,” tandasnya.

Bima berharap, kegiatan Bahtsul Masail ini bermanfaat bagi kemajuan bangsa. “Kita berharap betul mendapat berkahnya. Barokah bagi Kota Bogor, barokah bagi Indonesia Raya. Saya melihat dari draft-nya, dari komisi-komisinya semua dibahas, membahas tentang mulai dari masalah impor lobster, kemudian ada juga masalah UU Cipta Kerja dan para kepala daerah melalui asosiasi walikota (Apeksi) baru akan membahas minggu depan. Sekarang NU sudah membahas duluan. Jadi luar biasa. Mudah-mudahan hasilnya memberikan manfaat bagi kita semua,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.