Restrukturisasi Diduga Jadi Modus Perusahaan Meraup Keuntungan

  • Whatsapp

Gunungsitoli – Perusahaan pembiayaan non bank, PT. MCF Cabang Gunungsitoli, Sumatera Utara diduga memanfaatkan restrukturisasi atau keringanan pembayaran kepada konsumen sebagai modus meraup keuntungan besar.

Hal tersebut terungkap dari pernyataan salah seorang nasabah PT. MCF cabang Gunungsitoli, Yamasokhi Mendrofa yang sebelumnya telah menyurati PT. MCF cabang Gunungsitoli pada 28 Maret 2020 dengan perihal “Mohon dispensasi penundaan pembayaran”. Namun surat tersebut tidak mendapat balasan dari MCF, sehingga pihak MCF pada 18 April 2020 menghubungi Yamasokhi dan meminta untuk datang kekantor cabang di Jalan Diponegoro untuk mengisi formulir permohonan restrukturisasi.
“Saya sudah menyerahkan formulir permohonan restrukturisasi tersebut dan dalam permohonan, saya mengajukan agar diberi keringanan membayar 50% dari nilai angsuran saya seharusnya, meski dalam surat saya sebelumnya kepada MCF meminta agar selama 1 Tahun kedepan angsuran saya ditunda pembayarannya sesuai pidato Presiden RI yang meminta pihak perusahaan pembiayaan non bank dan bank memberikan penundaan cicilan kepada nasabah selama 1 Tahun kedepan pasca ancaman virus corona (covid-19), justru bukan meringankan beban nasabah, malahan nilai yang harus dibayar membengkak” Ujar Yamasokhi yang akrab disapa Ama Hendrik itu kepada wartawan, (22/4).

Dijelaskan Yamasokhi yang berprofesi sebagai juru parkir di Kota Gunungsitoli, angsurannya setiap bulan atas 1 unit kendaraan roda dua sebesar Rp 1.321.000.-. Atas pengajuan restrukturisasi yang dimohonkannya, MCF memberikan kelonggaran dengan membayar setiap bulannya sebesar Rp. 1.045.000.- dengan penambahan tenor menjadi 36 bulan, sehingga total yang harus dibayarnya adalah Rp 37.620.000.-. Sementara, jika tanpa restrukturisasi, Yamasokhi yang memiliki sisa tenor cicilan dari bulan maret lalu adalah 24 bulan pembayaran lagi, dengan total Rp. 31.704.000.-. Sehingga Yamasokhi masih berpikir -pikir menerima restrukturisasi tersebut.

“Jelas ini namanya bukan restrukturisasi/keringanan pembayaran. Justru menurut saya, pemberlakuan restrukturisasi ini salah satu upaya mencekik nasabah. Memang nilai cicilan yang dibayar berkurang sedikit, tetapi tenornya bertambah dan selisih total pembayaran lumayan besar bertambah” kata Ama Hendrik.

Ama Hendrik menghimbau kepada nasabah MCF lain yang sudah menerima restrukturisasi ini agar mencermati atau menghitung kembali. Sebab, kita bukan beruntung karenanya melainkan kita dirugikan.

Dikatakan Ama Hendrik, dalam waktu dekat, dirinya akan menyurati Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan menguasakan ini kepada Lembaga Perlindungan Konsumen Nasional (LPKN) Direktorat Pimpinan Kota (DPK) Gunungsitoli, Sumatera Utara untuk mengusut dugaan modus perusahaan meraup keuntungan dengan dalih restrukturisasi.

Direktur LPKN DPK Gunungsitoli, Sacrist Bredwan Harefa, SH yang ditemui wartawan, Rabu (22/4) berpendapat atas kasus ditemukan tersebut berdasarkan pengaduan konsumen (PK). Bahwa, hal tersebut telah menyalahi aturan yang dibuat oleh OJK.
“Melihat peraturan OJK No. 11/POJK.3/2020 tentang stimulus perekonomian nasional sebagai kebijakan countercyclical dampak penyebaran corona virus disease 2019. Bahwa restrukturisasi mencakup, 1). Penurunan suku bunga;
2). Perpanjangan jangka waktu;
3). Pengurangan tunggakan pokok;
4). Pengurangan tunggakan bunga;
5). Penambahan fasilitas kredit/pembiayaan; dan/atau
6). Konversi kredit/pembiayaan menjadi Penyertaan Modal Sementara.

Sementara, berbeda dengan kebijakan MCF cabang Gunungsitoli kepada konsumennya yang dinilai memberatkan. Sacrist berharap kepada MCF cabang gunungsitoli sebagai perusahaan pembiayaan non bank tetap berpedoman pada aturan yang ada dan mengedepankan azas kemanusian sehingga terciptanya satu keadilan bagi seluruh rakyat indonesia, ujarnya.

Kepala Cabang MCF Gunungsitoli yang ditemui dikantornya, Rabu (22/4), salah seorang staf menyatakan jika beliau sedang kelapangan.( Arman Zebua )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *