Bupati Trenggalek : Penerapan New Normal  Dilakukan Bertahap

oleh -1 views

Trenggalek,Infobanua.co.id – Menerapkan new normal tanpa menginventarisir resiko adalah sebuah tindakan konyol, tegas Bupati Trenggalek,Mochamad Nur Arifin saat sosialisasi langkah-langkah penerapan new normal melalui video conference di Gedung Smart Center Trenggalek,Senin (15/6/2020).

Hal ini menjadikan alasan Pemerintah kabupaten Trenggalek, dalam hal ini Bupati kenapa menerapkan kondisi new normal secara bertahap. Ada beberapa sektor yang diperbolehkan melakukan aktivitas normal namun dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Sedangkan beberapa sektor lain masih belum bisa dilakukan karena sangat beresiko penyebaran, seperti sektor hiburan wayangan, orkes, pesta pernikahan dan beberapa sektor yang lain.

Meskipun pemerintah memperbolehkan penyelenggaraan hajatan perkawinan namun jumlah orang yang hadir di luar ataupun di dalam gedung dibatasi hanya boleh maksimal 30 orang saja.

“Tentunya dengan batasan banyaknya orang yang boleh hadir dalam satu tempat ini, kegiatan hiburan diatas tidak mungkin bisa dilaksanakan, kecuali bila dilakukan secara live dan penontonnya dari rumah masing-masing,” ucap Bupati Nur Arifin

Lebih lanjut Bupati mengatakan “Karena pertimbangan ini, untuk sementara waktu sektor hiburan, pekerja seni dan sejenisnya masih belum diperkenankan new normal,” terangnya

Masyarakat juga diperkenankan untuk keluar rumah, namun harus mematuhi protokol kesehatan atau minimal menggunakan masker saat keluar rumah. Sembari itu satgas desa diminta untuk memantau warga dan mengingatkan mereka bila tidak mematuhi protokol kesehatan.

Sektor lain yang diperbolehkan adalah kegiatan peribadatan, aktifitas pondok pesantren, pasar, pusat perbelanjaan dan aktivitas kesehatan. Dan semuanya tetap diminta untuk mengedepankan protokol kesehatan.

Khusus aktivitas pondok pesantren dipersilahkan untuk santri lokal, karena belum ada kasus tranmisi lokal di Trenggalek. Namun untuk santri luar khususnya dari daerah PSBB kalau datang diminta membawa hasil Rapid Test dan pondok diminta menyiapkan ruangan khusus untuk santri luar ini melakukan isolasi mandiri 14 hari sebelum bergabung dengan santri lain.

“Untuk kegiatan pengajian yasinan diperbolehkan dengan jumlah jamaah tertentu dan mematuhi protokol kesehatan. Namun bila ada kasus penyebaran Covid 19 melalui cluster ini, yang diakibatkan kelalaian tidak mematuhi protokol kesehatan, gugus tugas Desa bisa menghentikan aktifitas ini, ” pungkasnya

penulis : Sarno

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.