Khaerul Rahman Sang Pelopor

  • Whatsapp

MARABAHAN – Orangnya sederhana dan milenial meskipun ia sebagai kepala desa selama 9 tahun di Desa Antasan Segra Kecamatan Mandastana kabupaten Barito Kuala desa masih kategori tertinggal setelah naik status dari desa sangat tertinggal.

Desa duapuluh tahun silam adalah hutan galam rawa lebak monoton dan lahan kering dimusim kemarau hanya kebagian 4 bulan setahun ,dawerah terendah dan tempat bertemunya kanal kanal kecil dari bagian hulu dari kabupaten Banjar sebagai kabupaten tetangga Barito Kuala.

Sejak hadirnya rehabilitasi lahan dengan program Selamatkan Rawa SejahterakanPetani (SERASI)dipenghujung tahun 2019, desa Antasan Segra Kecamatan Mandastana bertetangga dengan Kecamatan Jejangkit dimana tempat perhelatan akbar Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 tahun 2018, mulai bangkit dan perekonomian warga desanya mulai menggeliat, karena adanya ketersediaan lahan hasil normalisasi saluran dan pembangunan tanggul pemisah petakan sawah den gan pematang panjang rata rata 250 meter dan lebar 3 meter sehingga memudahkan petani untuk bercocok tanam palawija ,horti tanaman keeras produktiv sepeeti jeruk dan sayur mayus seperti cabai sayur dan cabai rawit yang tahun ini sedang digandrungi masyarakat binaan.

Kadesnya sendiri sebanyak 30 Kepala Keluarga bertani pada budidaya cabai hasilnya diluar dugaan . Kepala desa Antasan Segra Khaerul Rahman akrab dipanggil Pembakal Arul (Pembakal = kades) adalah sang pelopor pertanian dibidang pangan dan hortikultura, yakni tanam padi unggul dan tanam cabai hingga puluhan ribu tegakan.

Petani milenial dan nyentrik pembakal Arul saat dilahan miliknya seluas 5 hektar dan diseluruh pematangnya ditanami cabai merah pada awal tahun 2020 berhasil meraih keuntungan ratusan juta rupiah dan tanam kedua pada bulan Mei siap panen pada bulan Juli 2020 dari tanaman 20 ribu tegakan diperkirakan hasil panennya akan melimpah.

Karena menurutnya tanaman pertama setiap minggu lebih dari1 ton cabai sayur hijau mengalir kepasar pasar di kota Banjarmasin dan kota lain disekitarnya, bahkan panen Juli nanti siap kirim ke Kalimantan Tengah.

Pembakal Arul bercita cita ingin desa yang selama 8 tahun berpredikat sebagai desa tertinggal bisa maju dengan mengambil inisiatif memotifasi warganya memelopori sektor pertanian maju dan modern. Dahulu desa minus multicultur dbidang budidaya tanaman sifatnya monoculture hanya bertanam padi lokal sekali setahun yang terus berpacu dengan waktu karena masih mengandalkan ketergantungan kepada alam dan varietas lokal secara turun temurun. Hasilnya tidak menguntungkan karena produktivuitasnya rendah paling banyak 3 ton padi lokal.

Kepada warga desanya pembakal Arul mengajak tatakelola lahan dengan variasi tanaman minimal padi dan sayur mayur. Padi unggul produksi tinggi seprti IR yang mereka kenal sekarang yakni varietas unggul inpara mulai dijamah warga desa Antasan Segra karena minimal bisa tanam dan panen dua kali setahun di sambung dengan panen palawija seperti cabai atau sayur sayuran lainnya.

Keberhasil dirinya dibidang pertanian, semuanya belajar dari Youtube dari telepon genggam android miliknya, yang menurut lelaki 45 tahun itu dunia ilmu pen getahuan ada digenggaman bukan cerita khayal atau dongeng tetapi fakta membuktikan.

Ia berhasil membeli mobil,baru sepeda motor baru bangun rumah gedung baru dari hasil bertani dalam setahun setelah dilaksanakannya program Serasi yang di bidani kementerian pertanian.

Sehingga secercah harapan bagi wara desa tertinggal selama ini kedepan siap menuju gerbang desa maju karena tingkat kesejahteran masyarakatnya berubah berkat adanya uluran tangan pemerintah dalam hal ini kementerian pertanian melakukan perubahan struktur tatakelola air dan memperbaiki unsur tanah.mSemula keasamannya tinggi kini berangsur tercuci dan subur untuk tanaman apa saja yang kami mau katanya sangat bangga.

(Ayi Kuswana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *