Perceraian di Blitar Raya Turun Selama Pandemi Covid-19

0
10 views
Pengadilan Agama Blitar, jalan Imam Bonjol 42, Kota Blitar.

Blitar, Infobanua.co.id – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim), rupanya mempengaruhi juga menurunnya angka perceraian di Blitar.

Ini terlihat dari pengajuan cerai talak ataupun gugat cerai yang diproses di Pengadilan Agama (PA) Blitar.

Walaupun Blitar tidak termasuk wilayah yang menerapkan PSBB, namun warga juga enggan keluar rumah kecuali untuk keperluan mendapat stok logistik dan kesehatan saja.

Hampir semua jalan yang masuk lingkup RT ditutup portal, sehingga warga tidak bebas keluar masuk rumah.

“Karena ada faktor PSBB, jika kita lihat data perceraian di PA Blitar ada tren penurunan. Apakah ini ada korelasinya dengan covid-19, kami tidak bisa menjustifikasi. Namun pergerakan warga ada pembatasan, sehingga masyarakat yang ingin ke PA kemungkinan ditunda sampai situasi normal,” kata Panitera Muda Hukum PA Blitar, Nur Kholis Akwan, kepada awak media, Sabtu 06-06-2020.

Menurut Nur Kholis, apakah hal ini benar atau tidak, bisa dilihat dari angka pengajuan cerai saat situasi kembali normal. Adapun tren penurunan perceraian tampak sejak Indonesia dinyatakan darurat covid-19, pada 16 Maret 2020 yang lalu.

Pada bulan itu, pengajuan perceraian hanya terdata sebanyak 86 kasus. Kemudian pada bulan April naik menjadi 262 kasus, dan Mei turun lagi menjadi 138 kasus. Angka ini mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan pada Januari yang ada 536 kasus, kemudian Pebruari sebanyak 342 kasus.

“Sejak adanya pandemi virus covid-19 angkanya memang turun drastis. Kemudian naik lagi pada April, dan turun lagi ketika marak penerapan PSBB pada Mei,” jlentrehnya.

Menariknya, angka perceraian yang turun signifikan adalah dari pengajuan talak cerai. Atau cerai yang diajukan oleh pihak suami. Terdata untuk talak cerai sejak Januari sebanyak 159 kasus, Pebruari 95 kasus, Maret 65 kasus, April 62 dan Mei ada 35 kasus, pengajuan talak cerai.

Sedangkan untuk gugat cerai, juga cenderung menurun walaupun tidak sebanyak talak cerai. Seperti terdata pada Januari ada 377 kasus, Pebruari 247, Maret sebanyak 21, April 200 dan Mei ada 103 kasus gugat cerai.

“Memang ada pergeseran life style sekarang. Pihak istri banyak yang menggugat cerai dan alasan karena ada perselisihan atau pertengkaran. Ekonomi sekarang jadi faktor kedua,” jelas Nur Kholis.

Masih menurut Nur Kholis, selama masa pandemi covid-19 persidangan di PA tetap berjalan lancar. Hanya saja jumlah persidangan dibatasi dengan protap kesehatan yang ketat. Dan ada juga persidangan dengan sistem teleconference.

“Sidang teleconference ini sangat membantu pihak yang posisinya tidak berada di Blitar, maupun tidak bisa menuju Blitar. Alhamdulillah berjalan lancar dan mereka pun diuntungkan. Baik secara waktu, maupun biaya untuk perjalanan,” pungkasnya. (Eko.B)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.