Paribasa dan Ungkapan Banjar, Refleksi Budaya Noorhalis Majid

117 0

BANJARMASIN – Menurut data yang disajikan oleh Summer Linguistic, Indonesia memiliki kurang lebih 746 bahasa daerah. Namun sayangnya, kekayaan bahasa tersebut tidak dirawat dengan baik, yang menyebabkan kurang lebih 25 bahasa di Indonesia berstatus hampir punah, sementara 13 bahasa daerah dinyatakan telah punah.

Menilik fenomena itu, Noorhalis Majid—salah satu tokoh muda Kota Banjarmasin tergerak untuk melestarikan paribasa (peribahasa) dan ungkapan dalam satu buku. Sejak tahun 2019, mantan Ketua KPU Kota Banjarmasin yang kini menjabat Kepala Perwakilan Ombudsman RI Kalsel mulai tergerak hatinya mengumpulkan paribasa dan ungkapan khas Banjar.

“Sudah 380 tema saya tulis setiap hari satu tema, kalau hari ini sudah 380 tema, berarti sudah sejak 380 hari yang lalu saya mengumpulkan,” katanya, Sabtu (01/08/2020).

Kata Majid, didasari paribasa Banjar ini takut akan hilang dan belum ada yang menulis, mengulas dalam kontek kekinian, paribasa banjar ini. Dirinya tergerak mengumpulkan paribasa dan ungkapan ini. “Generasi muda di Banjarmasin sudah banyak yang kurang memahami, sehingga kuatir jika tak dilestarikan paribasa Banjar ini bisa hilang dan dilupakan,” terangnya.

Majid sudah mencetak paribasa Banjar ini dalam bentuk buku yang berisi 200 tema. Buku kedua sedang dipersiapkan.  Menurut Majid, sebagian besar paribasa didapatkan dari ibunya.“Orang tua saya selalu mengucapkan paribasa banjar untuk mengomentari sesuatu, baik itu negatif, maupun positif. “Rumah kaya kapal pecah”, dia ucapkan saat pulang ke rumah dan kondisi rumah berantakan oleh kami semua yang suka “bahamburan”, tidak mengembalikan ke tempat semula. “Jantik paliran”, dia ucapkan pada adik saya yang sedikit-sedikit menangis, padahal tidak pantas untuk ditangiskan.

“Baguna tahi larut”, dia sampaikan saat melihat orang yang kesehariannya tidak memberikan manfaat pada manusia lainnya atau “bungul pada kalum”, dia sampaikan saat melihat orang yang dianggap bertindak bodoh dan merugikan orang lain.  Dan banyak paribasa lainnya. Paribasa yang dia ucapkan tidak pernah saya konfirmasi maknanya, langsung saya ingat dan paham karena saat diucapkan ada konteksnya, sehingga maknanya langsung tergambar di depan mata,” katanya.

Majid berkata, di dalam buku paribasa yang sudah dicetaknya itu memuat 200 paribasa, tidak semuanya berbentuk paribasa. Ada juga berbentuk ungkapan, tapi karena memiliki makna yang dalam, menjadi nasehat dan pelajaran hidup, maka ungkapan juga saya masukan dalam buku ini.

“Memang sulit memisahkan paribasa dan ungkapan, seringkali kita akan berdebat panjang apakah itu paribasa atau ungkapan. Ada yang mengatakan paribasa itu lebih dari satu kata, tapi ada pula yang berpendapat tidak mesti lebih dari satu kata, hanya satu kata kalau maknanya luas juga bisa menjadi paribasa. misalnya “manimpakul”, atau “diwaluhinya”, hanya satu kata, tapi maknanya sangat luas dan bisa menjadi pelajaran hidup. Saya tidak ingin berdebat soal itu, karena yang terpenting bagaimana kita mampu menginventarisirnya dan menuliskan agar tidak hilang,” tegasnya.

Berikut contoh 20 paribasa dan ungkapan Banjar — sebuah refleksi budaya Noorhalis Majid yang terus ditulis nya dan dikumpulkan tiap hari.

  1. BAGUNA TAHI LARUT

Menjadi manusia haruslah bermanfaat bagi orang lainnya

 

Paribasa ini sepintas seperti kasar. Atau mungkin memang kasar. Biasanya memang diucapkan dengan nada marah, kecewa dan segala macam kekesalan. Maknanya adalah kritik tajam pada orang yang tidak memberi manfaat atau tidak berguna pada suatu kelompok, atau suatu komunitas.

  1. TALINGA RINJINGAN

Tindakan hendaknya terukur, sesuai porsi dan derajatnya. Kalau ingin mengetahui minyak di periuk dingin atau panas, cukup pegang kuping periuknya. Kuping periuk, refresentasi minyak di dalamnya. Kupingnya panas, minyaknya juga panas.

Sebuah sindiran pada orang yang suka panas, marah, emosi bila mendengar sesuatu. Bereaksi, tanpa mengkonfirmasi. Apalagi kalau yang bersangkutan pemberani, jawara, ahli beladiri, taguh alias kebal terhadap senjata tajam, semakin cepat reaksinya mendengar sesuatu yang dianggap menyinggung diri atau keluarganya.

 

  1. DIMAMAH HANYAR DITAGUK

Bila ketahanan budaya lemah, berita bohong dapat menjadi penghancur

Dikunyah baru ditelan. Bermakna, agar cerdas dalam menerima suatu informasi. Tidak asal percaya suatu berita yang diterima. Cek ricek. Mencari sumber kebenarannya dahulu. Bila sudah pasti benar, baru diterima.

Juga dapat dimaknai, mempertimbangkan dengan matang sebelum mengerjakan sesuatu. Tidak grasah-grusuh. Cermat, teliti, penuh perhitungan.  Dilihat baik dan buruknya, agar tidak penyesalan dikemudian hari.  Berpikir sebelum melakukan seuatu. Menempatkan bahwa berpikir itu hal yang utama sebelum berbuat. Jangan berbuat dulu baru berpikir.

 

  1. KADA MAMAK DIJARANG

Kalau nasehat sudah tidak didengarkan, adakah lagi yang bisa diharapkan?

Singkong atau ubi yang enak itu kalau direbus sebentar saja sudah renyah alias mamak dimakan. Singkong atau ubi  yang sudah menjadi kayu, walaupun lama merebusnya, tidak akan menjadi renyah. Kada mamak dijarang, bengumpamakan singkong yang tidak renyah tersebut. Maknanya orang yang tidak bisa diberi nasehat. Sudah diberi tahu tapi tidak menurut. Nasehat-nasehat yang disampaikan diabaikan, tidak dipedulikan.

 

  1. MANIMPAKUL

Hidup harus jujur, punya prinsif, pendirian, komitmen, empati, atau berintegritas. Diambil dari kata Timpakul, nama binatang yang hidup di dua alam. Karena hidup di dua alam, mudah beradaptasi. Mampu  hidup pada situasi apapun. Saat air pasang hidup, air surut juga tetap hidup. Bisa hidup di atas  tanah, di dalam lumpur dan bisa pula di batang yang hanyut di sungai. Pada kondisi apapun dia bisa hidup dengan nyaman.

 

  1. DIGUGUT LAYAT DIBUANG SAYANG

Digigit alot, dibuang sayang. Suatu dilema. Ingin dimanfaatkan, tidak berguna, dibuang juga sayang. Ada beberapa padanan dari paribasa  ini, antara lain tasimpan kupiah buruk. Ingin dipakai, tidak pantas, dibuang banyak kenangan. Malah ada yang berbunyi, kaya kitab buruk, dibaca tidak jelas hurufnya, kertasnya lapuk dimakan gagat, dibuang takut kualat.

Ada waktunya dihadapkan pada situasi sulit. Keputusan harus dipilih, serba salah dan tidak mudah. Sama-sama mengandung konsekuensi. Padanan paribasa lain yang lebih universal berbunyi, dimakan mati uma, kada dimakan mati abah. Pilihan tidak mudah dan mengandung resiko yang sama berat.

 

  1. ENGKEN BARAJUT

Banjar hulu menyebutnya ingkin, banjar kuala mengatakan engken. Tempat menyiman uang terbuat dari kain, diikat di pinggang. Mungkin lebih aman, karena poisinya terikat pisit pada pinggang dan mudah diraba. Engken yang semula nama benda, berubah menjadi nama sifat.

Engken menggambarkan sifat orang yang pelit. Engken atau pelit sendiri dalam bahasa banjar memiliki beberapa kata. Pamalar, pangasit, pahitungan, medit, seke, hingga ada paribasa serupa berbunyi kada titik banyu di ganggam, yang dapat dimaknai lebih luas dari sekedar pamalar.

 

  1. KADA JADI BARAS

Pragmatisme tumbuh subur diperhelatan politik, Tidak jadi beras. Paribasa yang sangat populer. Khas masyarakat agraris. Meminjam beras, makanan pokok sebagai paribasa. Mendekatkan hal yang paling akrab, kebutuhan utama, untuk mengukur, menilai, mempertimbangkan derajat kepentingan suatu urusan. Memadankan beras yang “pokok” pada sesuatu yang dianggap “substantif”.

Bermakna melakukan hal sia-sia dan tidak berguna, sekedar omong kosong, kegiatan tidak berfaedah. Tidak menjadi apa-apa, tidak penting diperhatikan, apalagi dikerjakan. Ditempatkan pada banyak peristiwa atau situasi. Untuk menilai, mengukur kemanfaatan suatu keadaan.

 

  1. KAYA API DIKUBUI BANYU

Kemarahan, mudah padam oleh kelembutan. Seperti api diguyur air. Api yang berkobar, ketika disiram dengan air, padam seketika. Ilustrasi api, menggambarkan amarah, kemarahan yang amat sangat. Api dipakai sebagai metafora, karena bila kecil menjadi kawan, besar menjadi lawan. Api besar sangat berbahaya.

Peristiwa kebakaran sering terjadi, Melahirnya kosa kata yang cukup banyak. Kaapian, Kasalukutan, kamandahan, kabakaran, kagusangan. Semua kata itu menggambarkan api sebagai lawan. Api yang meluapkan kemarahannya. Hingga kemudian dipinjam menjadi paribasa, kaya api dikubui banyu.

  1. SAKIT PADA KAYAP

Kayap, atau dompo, biasa juga disebut herpes zoaster (cacar ular),  merupakan penyakit kulit menular. Rasanya sakit sekali. Kulit terasa terbakar, nyeri luar biasa. Umumnya menyerang  orang berusia lanjut, di atas 50 tahun. Dengan fisik yang tidak lagi kuat, penyakit ini bahkan dapat berakhir dengan kematian.

Begitu sakitnya kayap, untuk mengambarkan sesuatu yang sangat sakit, dipinjam sebagai perumpamaan. Sakit pada kayap, berarti sakit melebihi apapun, hingga kayap yang begitu sakit pun terlampaui. Kata benda berupa penyakit, berubah menjadi kata keadaan, gambaran suatu situasi.

(bersambung)

 

 

 

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *