Anggaran APBN Mubassir Jadi Pasar Hantu Didesa Sebrang Sebatik Utara

355 0

Nunukan – Pasar Rakyat di Desa sebrang tidak Jelas Statusnya hingga menjadi Pasar Hantu dan pasar dibangun tahun 2007- hingga sekarang tahun 2020 dibiarkan oleh Pemerintah pada hal sumber anggarannya dari APBN.

Desa Sebrang Sebatik Nunukan, 08/08/2020 Pasar Rakyat di Desa Sebrang Sebatik Utara bagaikan Pasar Hantu sejak dibangun tahun 2007 Hingga Sekarang tidak di Fungsikan daN tidaj Jelas Statusnya.

Ketika itu Bupati Nunukan H.Abdul Hafid Achmad Gencarnya melakukan Pembangunan disemua Sektor utamanya sektor Imprastruktur terkhusus Wilayah perbatasan karena keinginan dan permintaan Masyarakat Desa Pancang kecamatan sebatik kabupaten nunukan ketika Camat Sebatik dijabat oleh Slamet Riadi yang kini Selamet Riadi menjadi pejabat diprovensi kalimantan Utara.

Tahun demi tahun telah berjalan Hingga Pasar Rakyat ini sudah Genap berusia 13 dan saat itu pulau Sebatik hanya satu kecamatan yakni camat Sebatik dan jaman pemerintahan Drs.H Basri dan Hj.Asma Gani sebagai Bupati dan Wakil Bupati Nunukan periode 2010 -2015 Pulau Sebatik mengalami Perkembangan dan kemajuan secara signatifkan hingga dilakukan pemekaran kecamatan menjadi 5 Kecamatan ketika itu sebatik direncanakan sebagai Otonomi Khusus akan dijadikan sebagai Kota Sebatik hingga sekarang belum terwujud.

Begitu juga Basri dan Asmagani sebagai Bupati dan wakil Bupati nunukan melakukan Pemekaran Desa membangun Kantor Desa

Jurnalis ketika duduk disalah satu Coffie di Desa Pancang mendengar Keluhan Masyarakat adanya Pasar Rakyat di Desa sebarang uda berumur 13 Tahun selesai dibangun namun tidak difungsikan layaknya sebagai Pasar Rakyat lainya.

H.Hambali Kepala Desa Sebrang kec Sebatik Utara Kab nunukan Provensi Kalimantan Utara

Wartawan berusaha konfirmasi kebenarannya kepada H.Hambali Kepala Desa Sebrang menurutnya kami selaku pemerintah desa melihat secara fisik pasar tradisional di wilayah desa sebrang pertama saya selaku kepala desa menyampaikan secara lisan dan tertulis ditujukan kepada pemerintah kecamatan pemerintah daerah melalui Disprindakop agar pasar yang di bangun bertahun- tahun itu segera di Fungsikan jangan sampai berkesan Pasar Tradisional menjadi “pasar hantu”.

Menurut informasi bahwa Pasar ini di bangun tahun 2007 sumber Anggarannya dari APBN ketika itu Drs. Tommy Harun sebagai kepala dinas perdagangan UKM kabupaten nunukan.

Pernah kami sampaikan kepada pihak kecamatan bahwa ada pasar tradisional di bangun di desa sebrang di bangun tahun 2007 sudah 13 tahun lamanya mohon kepada pemerintah Kecamata agar pasar tersebut di koordinasikan kepada pemerintah daerah melalui dinas perdagangan agar pasar tersebut di Fungsikan.

Menurut Hambali bahwa persoalan pasar ini pernah di bahas dalam musrembang Desa dan kami mengundang sekretaris Disprindakop (Pak Arman) dan bahkan pak Arman sudah melihat secara langsung kondisi pasar tradisional tersebut.

Bahkan Drs.H Zulkifli sebagai Camat Sebatik Utara sudah memanggil pak sultan sule selaku pengurus, agar pasar tersebut diselesaikan surat hibanya atau surat pembeliannya setelah itu diserahkan kepada pemerintah daerah ternyata pasar itu belum tercatat di Disprindakop dan UKM.

Menurut H. Hambali selaku kepala desa sebrang berharap kepada dinas perdagangan kabupaten nunukan memanggil pihak pihak pengurus pasar tradisional juga memanggil pemelik tanah untuk di selesaikan.

saya Selaku kepala Desa Sebrang Perna memanggil pak sultan sule dia mengatakan pemilik tanah mengklaim dan akan mengambil tanah tersebut, padahal tanah itu sudah dibeli pak sultan sule sebesar Rp.86.000.000 (delapan puluh enam juta rupiah) kepada Almarhum Bapak Basra.

Saya selaku kepala desa belum tau persis siapa sebenarnya yang diberikan wewenang mengelola pasar tersebut.

Menurut Sultan sule bahwa pemilik tanah atas nama Basra Ahli waris akan mengklaim dan akan mengugat kembali karena lokasi pembangunan pasar itu sudah lama tidak difungsikan.

Menurut Hambali bahwa pembangunan pasar itu saya tidak tau Persis sama sekali baik proses pembelian tanahnya maupun pembangunan pasarnya karna pada saat 2007 itu Desa Sebrang belum terbentuk masi dibawah desa pancang.

sementara desa sebrang baru terbentuk 2010 jadi wajar saja kalau persoalan pasar tersebut saya tidak Tau sama sekali.

Saya selaku kepala desa sebrang tetap berusaha melakukan koordinasi baik pada pengurus pasar tradisional maupun kepada pemilik tanah serta koordinasi kepada camat dan kepada dinas perdagangan sama sama kita berjuang agar pasar tradisional tersebut bisa difungsikan dan tidak terkesan menjadi pasar hantu.

Saya berharap mudah mudahan pemerintah mengambil sikap tegas untuk menyelesaikan sehingga pasar tersebut di pungsikan sebagai paru paru ekonomi masyarakat desa sebrang kecamatan sebatik utara kabupaten nunukan provinsi kalimantan utara.

Amsal Yusuf 

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *