Covid-19 dan Tingginya Kematian Dokter

149 0

Oleh: Pribakti B *)

Saat ini, ada kesan penyebaran virus korona di Indonesia makin tak terkendali. Semua pihak seolah-olah mulai angkat tangan. Pemerintah menyebarkan rasa aman palsu dengan menebarkan janji bahwa wabah akan segera berakhir jika Indonesia memproduksi vaksin.

Kenyataannya, vaksin anti Corona itu masih dalam tahap uji klinis. Peluang keberhasilan dan kegagalannya masih sama besar. Jika lolos uji, perlu waktu untuk kemudian mendistribusikan lalu menyuntikannya kepada ratusan juta penduduk Indonesia.

Padahal kini virus korona telah mengepung kita. Serupa maut menyeringai , mereka mengintai sel-sel darah kita. Saat kita lengah dan saat daya tahan kita ambrol, mereka merusak sel-sel kita dengan pucuk-pucuk runcing mahkota. Ketika tentara-tentara darah kita gagal melawannya, pertarungan mereka menangi. Korban pun berjatuhan. Negara yang pontang panting menghadapi Corona kemudian hadir sebagai pencatat. Mereka sebagai mesin statistik, dimana nyawa manusia hanyalah angka.

Hanya angka! Manusia dilepaskan dari nilai eksistensialnya lalu direduksi jadi data. Tak ada lagi emosi kecuali ketidakberdayaan menerima kenyataan. Lalu data kematian itu dipublikasikan secara dingin setiap hari. Jumlah kasus sekian, jumlah korban sekian, jumlah orang sembuh sekian, jumlah orang dalam pemantauan sekian. Kita membacanya dengan perasaan miris di dada. Miris , karena tidak seorangpun mampu menjamin dirinya terbebas dari Corona yang tidak kasat mata dan selalu berseliweran disekitar kita.

Tragisnya  tatkala banyak korban berjatuhan, Corona merayakan kemenangan . Mereka menulis narasi kematian di nisan-nisan nasib buruk manusia. Narasi kematian itu kita baca. Kita tangkap pesannya : Corona tak pernah ciut nyali menantang kita.

Virus Corona jenis baru ini menghantarkan manusia sejagat berhadapan dengan sang penyambar nyawa yang tak kasat mata. Hingga saat ini belum ada obat dan vaksin yang terkonfirmasi untuk mengatasi atau mencegah perkembangan virus tersebut. Lonjakan kasus kematian terus tertayang dan terus diperbaharui di berbagai stasiun televisi dan media sosial.

Bayangan kematian merasuki pikiran masyarakat yang bahkan sebenarnya tidak sedang terinfeksi. Manusia diminta sembunyi dirumah, menutup mulut dan dilarang bersentuhan . Saat wabah menyergap kota atau lingkungan kita, kepanikan, kegelisahan dan rasa cemas segera mengayuti jiwa. Adakah sebentar lagi giliran kita? Mampukah kita bertahan hidup?  Apakah kita dapat mengantisipasi positif situasi yang mencekam ini? Pertanyaan ini tersimpan dalam pikiran, tak terujarkan.

Maka dari itu tidak ada cara lain, kita harus melawan dengan menghapus narasi kematian virus Corona itu karena alasan memilih hidup jauh lebih mulia dan terhormat daripada menyerah dikoyak-koyak virus. Memilih hidup adalah jalan membangun kebudayaan dan peradaban yang tidak bisa dihentikan oleh apa dan siapapun, termasuk bedebah Corona. Kita memilih jalan hidup demi menyelamatkan generasi yang akan melanjutkan sejarah kita, sejarah umat manusia. Kita percaya setiap krisis selalu melahirkan perubahan menuju kebaikan karena manusia mampu menjawab dengan kecerdasan dan inovasi.

Pertarungan menghadapi virus adalah pertarungan total, pertarungan hidup dan mati. Sikap rendah hati, tidak rakus menguasai alam dan selalu menjaga ekologi kehidupan pun layak untuk dijadikan tumpuan. Dengan cara ini, kita persilakan virus-virus itu pergi dari habitat kita. Bagi pemimpin daerah harus  memiliki satu sikap untuk menunjukkan keberpihakan. Keberpihakan kepada keselamatan masyarakat adalah hukum tertinggi.

Apabila prinsip itu dipegang tanpa ada masalah rivalitas politik personal, bangsa ini akan dapat melalui masa-masa sulit. Mungkin strategi Korsel yang melakukan trace (lacak), test (uji) dan treat (obati) bisa kita contoh. Namun apapun strateginya , arahnya harus dipusatkan pemutusan rantai penularan.

Yang harus dilakukan sekarang bagaimana mendukung tenaga medis memenuhi alat pelindung dirinya. Bagaimana sistem kesehatan masih bisa menopang, jika pasien positif melonjak tajam. Buruknya cara pemerintah menangani pandemic Covid 19 berperan besar pada tingginya angka kematian tenaga Kesehatan di Indonesia. Kisah pengadaan alat pelindung diri hanya satu contoh lemahnya manajemen krisis penanganan wabah ini.

Memang kematian tenaga kesehatan yang tinggi (pertanggal 1 September 2020 sebanyak 181- sebagian besar dokter) bisa didorong banyak faktor . Selain alat pelindung diri yang tidak memadai, ada faktor kurangnya istirahat, kondisi kesehatan dokter  itu sendiri dan tak cukupnya kapasitas medis di negeri ini. Namun kebijakan yang tepat dan cerdas seharusnya bisa mencegah situasi memburuk. Toh, banyak contoh negara lain bisa menjalankan kebijakan kesehatan dengan baik.

Tak berlebihan jika muncul kesimpulan , bukan hanya virus, kebijakan buruk pemerintah ikut andil dalam kematian seratus lebih tenaga kesehatan. Kehilangan dokter dan tenaga medis ditengah wabah seperti sekarang sungguh memilukan. Situasi ini harus segera diakhiri kemudian membangun gerakan sosial yang menggelorakan semangat gotong royong.

Berbela rasa harus ditunjukkan kepada para petugas kesehatan yang bertaruh nyawa demi kemanusiaan, berbela rasa kepada mereka yang dihinggapi korona dan mereka yang terimbas dampak pandemi .

Sungguh pandemi Covid-19 adalah ujian pada eksistensi  negara bangsa. Wabah ini ibarat marathon , bukan sprint. Agar selamat, pemerintah tak bisa hanya mengandalkan gebrakan-gebrakan sesaat. Kalau pemerintah tak segera merapikan barisannya, kita bakal kedodoran ditengah perang panjang melawan Virus Corona.

*) Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com