Bencana Banjir di Kabupaten Banjar Lumpuhkan 11 Pasar

  • Whatsapp

MARTAPURA,infobanua.co.id  – Bencana banjir yang melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Banjar terhitung sejak 26 Desember 2020 lalu, kian meluas.

 

Bahkan, sejumlah pasar pun turut terendam banjir, dengan ketinggian air bervariasi, akibat tingginya intensitas hujan yang terjadi pada 13 Januari 2021 lalu, dan membuat luapan air Sungai Martapura kian meluas.

 

Berdasarkan data pada Perusahaan Daerah Pasar Bauntung Batuah (PD PBB), terdata sebanyak 11 pasar di Kabupaten Banjar terdampak banjir. Akibatnya, aktivitas jual beli pedagang di kawasan pasar lumpuh total.

 

“Sebanyak 11 pasar terdampak banjir. Yakni Pasar Tradisional Martapura terdampak banjir hampir 90%. Pasar Sekumpul 50%, Pasar Ahad Kertak Hanyar 75%. Sedangkan pasar yang terdampak hingga 100% adalah Pasar Astambul, Pasar Pisang Astambul, Pasar Bawahan, Pasar Pengaron, Pasar Kindai Limpuar Gambut, Pasar Sungai Tabuk, dan Pasar Beruntung Baru, serta Pasar Arba Pamangkih. Akibatnya, perekonomian pasar tradisional pun lumpuh total,” ujar Direktur PD PBB, Rusdiansyah.

 

Untuk itu, selaku pilot pasar, Rusdiansyah mengimbau seluruh pedagang pasar tradisional di Kabupaten Banjar, agar selalu waspada. Khususnya bagi pedagang yang saat ini masih menggelar lapaknya.

 

“Terus tingkatkan kewaspadaan, karena intensitas hujan masih tinggi, dan air banjir pun masih belum surut. Diharapkan kepada semua pedagang, agar mengamankan barang dagangannya. Baik yang sudah terendam banjir, ataupun yang masih berada di tempat dagangannya agar tidak terendam banjir,” ingatnya.

 

Rusdi menambahkan, semua pedagang jangan lupa untuk melepas semua aliran listrik di tempatnya berjualan, guna mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.

 

“Mari kita terus berdoa, agar musibah banjir ini cepat berakhir, dan pedagang pun dapat melakukan aktivitas jual beli seperti biasanya di kawasan pasar,” harapnya.

 

Harapan serupa dilontarkan salah seorang pedagang ayam potong di kawasan Pasar Tradisional Martapura, yakni Rini. Begitu banjir melanda kawasan pasar, ia terpaksa menghentikan aktivitas berjualannya, yang tentunya sangat berdampak terhadap perekonomian rumah tangganya.

 

“Setelah musibah banjir yang melanda pasar kemarin, saya langsung tutup. Karena ketinggian air agak menurun, hari ini saya kembali berjualan,” ucapnya.

 

Kendati aktivitas jual beli kembali bisa digelar, namun diakui Rini, untuk saat ini pembeli daging ayam potong masih sepi, karena perekonomian masyarakat terdampak banjir. Ditambah, harganya pun mulai melonjak.

 

“Saat ini, karena akses menuju Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, terputus, maka stok ayam potong saya beli di Trikora Kota Banjarbaru. Tapi harganya lebih mahal, begitupun ukuran daging ayamnya sedikit lebih kecil,” keluhnya.

 

Dengan terguncangnya perekonomian masyarakat saat ini, akibat bencana banjir, Rini terpaksa membanting harga. “Untuk ukuran 1,6 Kg ayam potong, kini sudah seharga Rp45.000, belum termasuk upah untuk membersihkan bulu ayamnya. Saat ini saya hanya dapat menjual seharga Rp50.000 per Kg. Itupun harga modal, daripada tidak laku,” tuturnya.

 

Fad/IB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *