Polisi Ngaji Kitab Kuning, Ini Tanggapan Komisioner Kompolnas RI

  • Whatsapp

Jakarta, infobanua.co.id – Sebagaimana kita ketahui, Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo dinyatakan lolos uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) untuk menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Idham Azis yang akan pensiun dalam waktu dekat.

Dalam uji kepatutan dan kelayakan tersebut dilaksanakan di Komisi III DPR, Rabu (20/1/2021), Listyo Sigit menyatakan anggotanya akan diperintahkan untuk mempelajari kitab kuning, kitab keagamaan Islam yang biasa diajarkan di pesantren-pesantren.

Menanggapi hal itu, Mohammad Dawam selaku Komisioner di Komisi Kepolisian Nasional ( Kompolnas ) RI merespon sangat baik program Kapolri baru tersebut.Menurutnya ada beberapa alasan kenapa Polisi harus mempelajari kitab kuning, diantaranya Sosiologis dan Historis,

Sosiologis,mengingat Indonesia negara satu – satunya di Dunia yang menyepakati Pancasila sebagai falsafah dalam Berbangsa dan Bernegara, Maka Pancasila harus di lestarikan sebagai alat vital Perekat Bangsa.

“Sigit sangat memahami konteks ini, NKRI wajib hukumnya harus terus dijaga, maka separatisasis wilayah melalui gerakan – gerakan radikalisme, terorisme, exstrimisme dan politisasi agama harus benar benar di hindari untuk mempertahankan kedaulatan bangsa ” Ucapnya,Jumat (22/1/2021).

Dawam juga menambahkan bahwa untuk mdmpersempit ruang geraknya harus dicari dulu akar permasalahannya, salah satu faktor utamanya adalah pemahaman agama yang cenderung terpotong – potong, parsial dan tidak komprehensif, Oleh karenanya dibutuhkan pemahaman yang utuh dalam memahami teks – teks agama.

“Dalam posisi ini menarik gagasan pak Sigit bagaimana pemahaman keagamaan Islam utamanya didalami lebih serius dengan harapan bila pemahaman keagamaan dan keindonesiaan bisa utuh maka terorisme, radikalisme maupun ekstrimisme akan bisa ditekan seminimal mungkin”,jelasnya.

Lebih lanjut menurut Dawam Pembelajaran dan pemahaman Agama kitab kuning ( Kitab yang ditulis oleh ulama zaman dulu ) juga banyak menekankan pada 2 aspek,

Aspek yang ke 1 yaitu pemahaman agama sebagai ajaran universal yang menolak segala bentuk kekerasan dalam tindakan maupun pemikiran,

Yang ke 2 memberi dorongan atas kecintaan kita kepada negara dan bangsa, bahkan terdapat kredio yang amat populer di kalangan pesantren, yakni “Hubbul Wathon minal iman” yang artinya ( cinta tanah air sebagian dari iman seseorang ) Tandasnya .

Gus Dawam, sapaan akrabnya juga menjelaskan secara Historis agama-agama di Indonesia sudah ada sejak lama, namun fakta kehadiran dan transmisi Islam di Indonesia yang dibawa oleh para Wali Songo dan pendakwah berjalan dengan damai tanpa ada kekerasan, peperangan dan darah, maka ini menarik untuk dicermati.

” Rupanya Model dakwah wali songo dan para ulama itu menekankan etika pergaulan masyarakat yang kondusif bukan exlusif, sekaligus mengajarkan tradisi berdialog antar masyarakat “,imbuhnya.

Modal utama pemahaman keagamaan dengan dialog inilah dengan cara menggali teks – teks kitab kuning amat relevan, untuk mewujudkan itu dirasa perlu menggandeng beberapa ormas Islam dan kalangan moderat, di Indonesia sendiri ada NU dan Muhammadiyah yang sudah tidak asing dengan kitab kitab kuning, disamping itu mereka sangat aktif dan mendukung dalam mewujudkan kondusifitas Negara.

Dawam juga menyarankan agar kedepannya Polri melakukan pendekatan Solutif, Persuasif, Humanis dan membela kepentingan Masyarakat, Sebab kitab – kitab kuning itu menekankan muatan – muatan seperti itu, jadi positif untuk pembekalan personal dan memberikan spirit Kenegaraan.(*)

indra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *