Syaifullah Tamliha ,Sambut Baik Militer AS akan Sidangkan Tersangka Bom Bali Yang di Tahan di Pangkalan Militer Guantanamo

  • Whatsapp

Jakarta – Setelah 17 tahun penahanan dan tidak ada kepastian hukum terhadap pelaku tindak pidana teroris bom Bali yang di tahan di tahanan pangkalan militer AS di Guantanamo (kuba), akan segera di lanjutkan kembali.

Anggota DPRRI Komisi I Syaifullah Tamliha terkait hal tersebut menyambut baik keputusan pemerintah Amerika Serikat yang akan menyidangkan tindak pidana teroris asal Indonesia Hambali Pimpinan Jemaah Islamiyah Asia Tenggara,yang di tahan di Pangkalan Militer Guantanamo (Kuba).

Setelah penundaan yang tidak ada penjelasan, Pentagon pada Kamis (21/1) mengumumkan rencana untuk melanjutkan pengadilan militer bagi tiga orang yang diduga terlibat pengeboman mematikan di Indonesia, pada 2002 dan 2003. Ketiganya ditahan di pangkalan AS di Teluk Guantanamo, Kuba,seperti di lansir dari VOA Indonesia,Jumat (22/1/2021).

Seorang pejabat senior hukum militer menyetujui sejumlah tuntutan yang tidak diancam hukuman mati, yaitu konspirasi, pembunuhan, dan terorisme terhadap ketiga tersangka tersebut. Ketiganya telah ditahan oleh pemerintah AS selama 17 tahun atas dugaan peran mereka dalam pengeboman klub malam di Bali pada 2002 dan setahun kemudian pengeboman Hotel JW Marriott di Jakarta.

“Keputusan untuk menyidangkan ketiga pelaku tindak pidana teroris bom Bali yang saat ini ditahan di pangkalan militer Guantanamo, Amerika Serikat dari sisi hak asasi manusia patut kita sambut baik,”kata Syaifullah Tamliha lewat Pesan singkat Whatsap,Sabtu (23/1/2021).

“Penahanan tanpa proses pengadilan merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hak asasi manusia dimana setiap manusia berhak untuk mendapatkan keadilan di muka bumi,”kata Politikus PPP tersebut.

Kita juga akan bisa menyaksikan di pengadilan bagaimana modus terorisme yg mereka lakukan agar sebagai negara tempat kejahatan terorisme tersebut bisa mengantisipasinya ke depan secara lebih baik dan komprehensif,pungkas Syaifullah Tamliha.

Hambali diduga sebagai pemimpin Jemaah Islamiyah, afiliasi Al-Qaeda di Asia Tenggara. Pentagon mengatakan dalam sebuah pernyataan singkat tentang kasus itu bahwa dia bersama Mohammed Nazir Bin Lep dan Mohammed Farik Bin Amin, dituduh merencanakan dan membantu serangan tersebut. Nazir dan Farik berasal dari Malaysia,.

Jaksa militer mengajukan tuntutan terhadap Encep Nurjaman atau yang dikenal dengan nama Hambali, dan dua orang lainnya pada Juni 2017. Kasus tersebut ditolak oleh pejabat hukum Pentagon yang dikenal sebagai otoritas sidang karena alasan yang tidak diungkap kepada publik.

Pengeboman di Bali pada Oktober 2002 menewaskan 202 orang, kebanyakan turis asing, termasuk 88 warga Australia. Pengeboman Hotel J.W. Marriott di Jakarta pada Agustus 2003 menewaskan 12 orang dan melukai sekitar 150 lainnya.

indra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *