Kanker, Apa Yang Baru?

  • Whatsapp
  • Refleksi Hari Kanker Sedunia, 4 Februari

oleh Pribakti B *)

 

Angka kanker dunia terus meningkat. Juga di Indonesia . Sekurangnya 200 ribuan kasus kanker baru muncul di Indonesia setiap tahun. Bahkan di Amerika Serikat, satu dari tiga penduduk Amerika berisiko terkena penyakit kanker dalam hidupnya. Karena itulah , Badan Kesehatan Sedunia (WHO) mengeluarkan pedoman untuk pencegahan dan deteksi dini kanker. Upaya ini penting karena sebagian besar kanker dapat dicegah, sedangkan deteksi dini akan meningkatkan keberhasilan terapi. Pada umumnya kanker yang ditemukan pada stadium dini memiliki keberhasilan terapi tinggi, pilihan terapi lebih sederhana dan biaya terapi juga lebih murah.

Terapi kanker juga mengalami kemajuan. Disamping terapi pembedahan , radioterapi dan kemoterapi, sekarang juga ada imunoterapi. Terbaru dalam bidang kanker berhasil meningkatkan angka survival , tetapi untuk mengatasi masalah kanker yang paling memberi dampak adalah upaya pencegahan dan deteksi dini. Adalah peraih Nobel 2018 Tasukio Honjo dari Jepang bersama James Allison dari Amerika Serikat berbarengan menemukan revolusi pengobatan kanker, yakni dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh  .  Ini karena sistem kekebalan tubuh menurun atau rusak, baik dengan bertambahnya umur selain yang diakibatkan oleh tindakan kemoterapi. Kekebalan tubuh dapat menurun juga bila tubuh kekurangan nutrisi. Itulah maka suplemen vitamin dan mineral selalu diperlukan, selain tubuh kecukupan asupan protein hewani yang tidak lebih banyak dari asupan protein nabati.

Sekurangnya tubuh kita ini perlu protein hewani 1,2 gram/kg berat badan/hari , atau sepotong daging atau ikan atau unggas agar kekebalan tubuh terbentuk optimal. Termasuk menambahkan kecukupan vitamin D yang banyak diderita orang sekarang , rata-rata akibat takut terpapar sinar matahari, baik alfa maupun beta ultraviolet yang diperlukan dalam metabolisme vitamin D. Peran vitamin D pada kasus kanker ternyata banyak terkait.

.

Di sisi lain faktor menu harian zaman now, zat tambahan dalam makanan dan minuman (food addictive), polusi dimana-mana, pemakaian hormon, merokok, selain gaya hidup sendiri, kini jadi pencetusnya. Harus diakui pada kenyataannya kanker tergolong penyakit gaya hidup juga. Peran faktor genetik kecil saja, walau dianggap bahwa kombinasi faktor genetik , lingkungan dan gaya hidup masih terus diamati sebagai pokok masalah kenapa kanker di dunia terus meningkat. Dan sejatinya ini urusan sifat sel tubuh yang berubah.

Seperti diketahui, setiap inti sel tubuh (nucleus) terdiri dari pembawa sifat masing-masing individu. Ibarat sebuah buku, unsur gen dan unsur kromosom atau genom itu sebagai bukunya, yang pada manusia terdiri dari 23 bab atau kromoson dan susunannya terdiri dari 22 autosom dan 1 sex kromosom. Setiap bab mengandung 48-250 juta huruf gen dan setiap gen mengandung sekitar 3 miliar DNA (deoxyribonucleic acid). Variasi sekian banyak variabel itulah yang menerangkan tidak ada satupun individu punya potret genom sama persis.

DNA ada dalam inti setiap sel dan kanker terjadi lantaran DNA dalam inti sel berubah sifat. Diketahui dalam perjalanan kehidupan, sel terus mengalami pertumbuhan selain perbaikan. Setiap saat sel akan mengalami kerusakan oleh proses metabolik selain oleh faktor lingkungan, khususnya radiasi, serta faktor dari luar lainnya. Struktur DNA mengalami kerusakan  dan untuk memulihkan itu ada upaya tubuh melakukan perbaikan atau DNA repair. Kerusakan sel dari dalam terjadi oleh proses oksigen reaktif, sedangkan kerusakan dari luar oleh faktor lingkungan, termasuk oleh virus, bahan kimiawi, selain faktor gaya hidup.

Apabila proses DNA repair yang dilakukan tubuh gagal terjadi, maka sel akan mengalami perubahan yang disebut mutasi, sementara proses bunuh diri sel (apoptosis) tidak berlangsung, maka oleh karenanya kemudian berlanjut terbentuk sel kanker. Selain kanker , gangguan pada proses DNA repair bikin tubuh jadi lekas menua. Makin menua tubuh , makan banyak terjadi mutasi sel, makin rentan terbentuk sel kanker. Itu sebabnya kenapa kanker lebih banyak terjadi pada usia lanjut. Sel kanker yang berubah sifat tidak lagi mengikuti keteraturan dalam berbiak dan membelah diri.

Adapun perubahan sifat sel itu terjadi akibat faktor luar sebagaimana sudah disebut faktor lingkungan, bahan kimiawi sebut saja asbes, bahan plastik, aromatik, selain carcinogenic dalam polusi dan yang dicampurkan dalam makanan minuman. Sebagai akibat sel terkena pengaruh dari dalam yakni aktivitas metabolik, maupun dari luar akibat polusi, lingkungan serta bahan kimiawi carcinogenic sel yang semula normal berubah sifat dalam mengaktifkan proses berbiaknya sel yang tidak lagi mengikuti aturan normal. Singkatnya sel berbiak melebihi normal selain sifat sel sendiri berubah.

Gen yang mengaktifkan sel berbiak abnormal kita kenal sebagai oncogen. Dan tubuh juga punya gen yang mampu menekan sel untuk berhenti berbiak, yakni Tumor Supressor Gen (TSG). Selama TSG tubuh aktif kendati oncogen masih terus aktif , kejadian kanker batal muncul. Hal itu terjadi oleh karena sel normal yang DNAnya sudah menjadi rusak, akan dimasuki oleh protein khusus sebagai supresor tumor maka sel abnormal yang DNAnya sudah rusak akan berubah sifat dan akan menjadi calon kanker itu akan mati atau kita sebut peristiwa apoptosis, sehingga dengan demikian kanker tidak jadi muncul.

Bahwa dalam setiap tubuh terbawa bibit kanker yang belum tentu tampak atau terdeteksi pada pemeriksaan medik standard. Sel kanker bertumbuh 6-10 kali lipat sepanjang hayat. Apabila sistem kekebalan tubuh bagus, sel kanker akan dihancurkan. Sebaliknya apabila sistem kekebalan menurun atau hancur , sebagaimana bisa terjadi pada tindakaBn kemoterapi. Sel kanker akan menyebar (metastasis).Bila sistem kekebalan tubuh menurun, maka tubuh akan rentan terinfeksi, sel kanker makin bermutasi yang oleh karenanya sel kanker sudah tak mempan dihancurkan oleh kekebalan tubuh lagi, dan itu yang kemudian berujung terjadi komplikasi. Untuk alasan ini  kanker harus dilawan dengan membuat sel kanker kelaparan dengan cara stop mengonsumsi gula dan susu, untuk menyebut satu-dua zat yang bisa bikin sel kanker subur.

Kita bisa terus berupaya untuk mencegah kanker menimpa diri kita. Sudah disebutkan , selain menghindar dari semua polusi, bahan kimiawi dalam kemasan plastik, zat kimiawi dalam makanan –minuman jajanan dan industri pangan , stop mengonsumsi daging olahan sebagaimana imbauan WHO. Bahwa untuk menjadi sehat itu murah hanya apabila gaya hidup kita memilih yang menyehatkan dengan cara jalan kaki tergopoh-gopoh setiap hari selama 30 menit atau seminggu 6 kali, menu seimbang dengan 60 persen karbohidrat, 25 persen protein dan selebihnya lemak juga pantang makanan tertentu bagi yang sudah mengidap penyakit. Kalau semua itu tekun kita lakukan sepanjang hayat , maka tubuh kita akan mampu membatalkan ancaman semua penyakit, termasuk ancaman kanker, yang faktor-faktor pencetusnya berada sangat dekat dengan kita setiap hari.

Pertanyaannya, mengapa diluar negeri keberhasilan terapi kanker lebih tinggi? Ini disebabkan masyarakat telah menjalani deteksi dini dengan baik. Kanker di luar negeri 70 persen ditemukan dalam stadium dini sehingga hasil pengobatannya baik. Sebaliknya, di Indonesia sebagian kanker ditemukan pada stadium lanjut sehingga hasilnya kurang memuaskan. Mari kita laksanakan gaya hidup sehat agar masyarakat kita terhindar dari penyakit kanker. Semoga Anda sekeluarga dalam keadaan sehat selalu. Selamat Hari Kanker Sedunia, 4 Februari!

 

*) Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *