Elevasi Air Laut Masih Tinggi, Tanggul Sungai Mrican Belum Siap Dibuka

  • Whatsapp

Pekalongan, infobanua.co.id – Upaya revitalisasi sungai Mrican masih dalam proses pengerjaan. Saat ini pintu klebnya  belum jadi. Untuk itu warga di sekitar Sungai Mrican dimohon bersabar dan tidak memaksakan kehendak untuk segera membuka bendung /tanggul sungai Mrican karena  elevasinya masih tinggi yang dari utara. Hal ini disampaikan bupati Pekalongan Asip Kholbihi SH.,M.Si dalam tinjauannya ke sejumlah lokasi terdampak banjir, Minggu (07/02) sore.

“ Tadi kita lihat banjir yang ada di wilayah Wonokerto, Bebel, Wonokerto kulon, wetan Pecakaran dan sekitarnya. Kita masih merevitalisasi sungai Mrican ini. Pintu klebnya  belum jadi. Untuk   sementara nanti kalau elevasi dari laut lebih rendah daripada air yang dari darat, nanti akan kita buka pintunya. Ini belum jadi,kita masih menggunakan pompa yang sudah ada sambil menunggu pompa sungai Mrican jadi, “ungkap Bupati Asip disela-sela tinjauannya.

Dalam tinjauannya tersebut  Bupati meminta warga untuk bersabar  menunggu satu dua hari, ketika rob  sudah lebih rendah daripada air hujan maka akan dibuka sambil menunggu penyelesaian pompa /kleb rumah pompa yang sedang dibangun.

“ Untuk banjir  yang ada di kecamatan Tirto, utamanya daerah Tegaldowo,Mulyorejo,Karangjompo dan Jeruksari, itu memang satu satunya cara adalah dengan mengaktifkan pompa, melakukan pompanisasi, karena ini banjirnya adalah banjir air hujan  yang selama dua  hari ini curah hujannya  tinggi hingga menggenangi pemukiman, “lanjutnya

Dikatakan Bupati, Pemerintah sudah punya peta jalan untuk menyelesaikan persoalan banjir yang ada di wilayah utara kabpatenu Pekalongan. Karena wilayah utara dianggap yang paling krusial. Skema penanganannya step by step, kemudian program ini juga terintegrasi program dari pusat berkaitan dengan tanggul, penataan sungai baik Mrican,Meduri dan penyempurnaan pembuatan rumah rumah pompa.

“Dengan cara seperti itu Insyaalloh dua tiga tahun ke depan banjir yang selama ini menjadi fenomena tahunan bisa kita kendalikan, “ tandasnya

Khusus yang di kecamatan  wonokerto dan sebagian Wiradesa, menurut Bupati Asip,  ini tergantung dari efektifitas pengelolaan manajemen yang ada di sungai Mrican. “Hari ini masih kita tutup, nanti kalau memungkinkan kita buka dengan harapan setelah sungai Mrican ini kita buka, sambil menunggu pintu permanennya jadi maka air yang dari daratan bisa mengalir ke laut,” ucapnya.

Terkait pengungsi, ada beberapa pengungsi di sejumlah titik, antara lain di Dupantex, rumah kepala desa Tegaldowo, juga  di masjid AnNur Karangjompo. Semua pengungsi sudah tertangani dengan baik dan dalam kondisi sehat.

“ Kita sudah menetapkan status tanggap darurat untuk 14 hari ke depan sehingga semua operasionalisasi yang berkaitan dengan pengungsi, dari dinas terkait sudah menangani seperti Dinsos, BPBD, juga terima kasih atas bantuan dari masyarakat dan relawan . Secara umum kondisi pengungsi sehat dan mereka dalam pengungsian tetap harus menggunakan protokol kesehatan ,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Pekalongan Budi Rahardjo mengungkapkan ada 3 kecamatan yang mengalami banjir terparah yaitu Kecamatan Tirto, Wonokerto dan Siwlayan.  Dan titik pengungsi yang paling banyak berada di kecamatan Tirto.  Pihaknya mencatat data  sementara  jumlah pengungsi sebanyak 415 orang tersebar di 8 titik pengungsian.  Budi Rahardjo juga menghimbau masyarakat agar  tetap waspada dan jaga diri karena curah hujan tinggi, selanjutnya apabila terjadi sesuatu bencana diharap lapor ke posko Induk Bencana di BPBD Kabupaten Pekalongan. (Agus E)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *