Bantu Korban Banjir di kalsel,PT. Indocement Juga Berikan Trauma Healing

  • Whatsapp

Kotabaru, infobanua.co.id – Bencana alam banjir yang melanda di beberapa wilayah kabupaten dan kota di bumi Lambung Mangkurat membuat warga banua berduka.

 

Dimana dalam menghadapi dampak yang ditimbulkan pasca bencana banjir, tahap rehabilitasi itu membuat salah satu produsen semen yang berada di Kalimantan Selatan dengan brand Tiga Roda, PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk berinisiasitif membentuk tim yang berkolaborasi bersama komunitas relawan dari Tim PPALC Banjarmasin melalui GJB dan PPALC Tabalong melalui Yayasan Sayangi Sesama Tabalong, di Kalimantan Selatan untuk memberikan bantuan pemulihan trauma (trauma healing) pada anak-anak dan para warga korban bencana banjir di posko pengungsian yang berlokasikan di  tiga titik.sementara lokasi bencana dan kegiatan berlangsung selama 2 hari.

 

Untuk diketahui bersama,” tiga titik lokasi tempat kegiatan trauma healing yang digelar oleh tim kolaborasi relawan gabungan selama dua hari terfokus di Desa Alat Seberang, Kecamatan Hantakan, (HST), Desa Bumi Makmur, Kecamatan Kurau, Tanah Laut dan terakhir adalah Desa Pantai Hambawang, Kecamatan Mandastana, Barito Kuala.

 

Nanik Hayati selaku Ketua Tim GJB, Komunitas Sosial PPALC Banjarmasin, bersama rekan relawan Triwahyuningsih menyampaikan”, tidak hanya orang dewasa saja secara psikis terdampak dari peristiwa tersebut, terlebih kepada anak-anak yang paling besar merasakan dampaknya.

 

“Sehingga, dibentuklah tim trauma healing dengan harapan akan mampu membantu dan tepat untuk mengurangi trauma dari anak-anak bagi pengungsi korban banjir yang terjadi.

 

“Saat ini tim kami rencananya akan keliling di tiga titik lokasi pengungsian banjir, dan tim relawan kami siap diterjunkan ke lokasi bencana guna menghibur anak-anak korban terdampak banjir.

 

pemulihan trauma ini menjadi salah satu prioritas kami agar anak-anak  korban banjir dapat ceria kembali,” tutur Nanik.

 

Adapun kegiatannya, agar anak-anak bisa dihibur dengan kegiatan mendongeng oleh seorang yang sudah mumpuni dibidangnya dan pernah menjuarai lomba dongeng.

 

Selain itu juga, anak anak diajak menyanyi dan menari bersama sama bermain dan bergembira agar betul-betul tidak memikirkan bencana banjir tersebut.

 

“Kami ingin anak-anak lebih mawas diri, mengenal banjir bukan sesuatu hal yang menakutkan,akan tetapi lebih kepada mereka tetap bisa dan siap mengenai apa yang harus disikapi ketika musibah atau bencana itu datang, dan tidak berlarut-larut sedih memikirkannya,” ujarnya.

 

Dikesempatan yang sama, koordinator lapangan Tim Indocement Peduli, Tri Winarno menuturkan, pihaknya berkolaborasi bersama tim relawan gabungan dari PPALC Banjarmasin dan PPALC Kabupaten Tabalong inisiasi menghibur anak-anak dengan beragam metode permainan agar kondisi mental mereka kembali membaik pasca bencana.

 

“Karena dikhawatirkan anak-anak yang menjadi korban bencana alam akan mengalami masalah gangguan kesehatan mental yang akhirnya berdampak perilaku sosial anak sehari-hari, untuk itu tim kami berkolaborasi bersama tim relawan dari komunitas sosial,” ungkapnya.

 

Senada dengan itu, Hj. Eva Ariani bersama Sudirman Noor selaku Ketua Tim Relawan Indocement Peduli di posko Hulu Sungai Tengah, Mantikei selaku koordinator lapangan posko Barito Kuala bersama Dwi Ruspandi selaku koordinator lapangan posko Tanah Laut menyampaikan”, menurut mereka pemulihan trauma dan psikologi pasca bencana sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan psikologi anak-anak ke depan.

 

“Anak harus mendapatkan pendampingan dan bimbingan agar bisa melewati trauma akibat musibah yang terjadi di sekitar mereka, sehingga mereka bisa ceria kembali seperti sebelum terjadinya musibah dan sama seperti para orang tua,” papar Eva mewakili rekan-rekan lainnya.

 

Dijelaskannya lagi, kegiatan trauma healing yang dilakukan oleh tim relawan dalam menjalankan misi kemanusiaan adalah usaha untuk menyembuhkan para korban dari trauma yang dihadapinya pasca bencana alam untuk di berikan motivasi, semangat agar mampu kembali menerima kondisi dan bangkit baik secara mental maupun kondisi sosial.

 

“Dengan trauma healing para korban  diharapkan dapat benar-benar sembuh dari traumanya dan bisa menjalani kembali kehidupannya sebagaimana sebelum mengalami bencana banjir yang terjadi.

 

Trauma Healing hanya terjadi pada sekitar 10%  dari 100% orang.

 

Namun, jika tidak disembuhkan maka akan mempengaruhi dan berakibat buruk bagi mental psikologis anak anak,” jelasnya.

 

(JL).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *