Catatan Kecik Ketua Iwo Barut, Sebuah Ironi Di Masa Pandemi Covid-19 Haruskah Perilaku SPBU Yang Bermasalah Harus Di Kawal Oknum TNI dan Polri.

  • Whatsapp

Barito Utara, infobanua.co.id – Terdapat tujuh unit usaha SPBU. Keberadaan tujuh SPBU diharapkan dapat mencukupi ketersediaan kebutuhan BBM untuk masyarakat. Belakangan ini hampir semua SPBU terlihat sangat kewalahan melayani pembeli BBM.

Ironisnya pada situasi kelangkaan BBM, SPBU terlihat sangat serius melayani pelanggan usaha eceran sehingga masyarakat yang seyogyanya diprioritaskan hanya bisa jadi penonton, pemerhati dan penunggu antrian yang setia walaupun umpatan dan sari warga sesekali terdengar karena rasa kecewa dan kesal, masyarakat tidak mampu berbuat banyak.

Asa dedekdot dimasyarakat “yang penting benda ada belum”.

Yang penting BBM nya ada, berapapun harganya pasti di beli masyarakat, mengantri lamapun akan selalu setia menunggu giliran.

Pemandangan seperti ini sudah pemandangan biasa di SPBU Barito Utara.

Pertanyaan Kenapa dan Ada apa?

Pertanyaan tersebut mungkin menjadi pertanyaan publik namun tidak pernah diungkapkan. Sebab sering sekali BBM di 7 SPBU kosong?

Ada pendapat bahwa warga takut teriak dan protes karena SPBU di beking Preman dan acap juga terlihat pada saat pelayanan SPBU, pihak polisi dan TNI berseragam berada standby di SPBU. Jelas masyarakat akan takut dan atau setidaknya segan untuk teriak dan protes.

Di SPBU APMS jalan Pendreh, Barito Utara misalnya. Pada (Kamis, 17/02/21) antrian pelansir BBM yang menggunakan sepeda Motor dan mobil minibus serta pikup sangat banyak mengantri. Terlihat juga oknumTNI dan Polri standby melakukan pengamanan?

Pada saat Kru Media mendatangi SPBU APMS tersebut, terlihat mobil mobil tidak beraturan. Hampir semua pembeli adalah pelansir. Apakah hati itu khusus untuk pedagang eceran BBM?

Kru media bertanya dan sekaligus minta tolong kepada Oknum TNI yang saat itu hanya memakai kaos bertuliskan TNI dimana jalur umum.

Oknum TNI menjawab, disana pak, sambi menunjuk ke arah kerumunan Pelansir.

Kemudian kru media bertanya ke oknum Polisi yang saat itu memakai pakaian dinas posisi pelanggan atau jalur umum.

Oknum polisi menunjukkan salah satu jalur pengisian BBM yang jelas jelas bahwa jalur yang di tunjuk oknum Polisi adalah jalur Pelansir pada pada saat itu posisi ada dua mobil saling membelakangi. Mobil kru media pun urung mengisi BBM.

Sebuah ironi di masa Pandemi Covid-19 yang seharusnya pemerataan kebutuhan BBM dapat diberikan kepada warga.

Pertanyaan media, apakah pengawalan Oknum Polisi dan TNI di SPBU tersebut seijin Pimpinannya?

Kalau ya, alangkah kejamnya orde merdeka ini.

Kapolda dan Pangdam segogyanya menertibkan anggota nya, Kapolda diharapkan turun langsung menertibkan SPBU yang memakai tangan preman dan memproses usaha SPBU yang melanggar aturan.

Kalau pengusaha SPBU di biarkan melakukan pelanggaran, bagaimana warga yang melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sama?

Masyarakat juga ingin mendapat keadilan di negeri tercinta ini.

Berbeda dengan SPBU Batara Membangun milik pemerintah daerah yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Barito Utara tentu membangun gairah dan semangat masyarakat untuk pemenuhan ketersediaan BBM. Akan tetapi ternyata kehadiran SPBU Batara Membangun belum sepenuhnya mampu mencukupi pemenuhan ketersediaan BBM untuk masyarakat. Buktinya beberapa kali terlihat SPBU Batara Membangun tutup karena kehabisan stok BBM.

Sementara sangat jelas terlihat bahwa dalam praktek pelayanan usaha SPBU Batara Membangun kepada konsumen, SPBU Batara Membangun tidak pernah melayani pelanggan yang membawa jirigen atau jenis tempat lainya selain ke Tanki kendaraan. Warga mendapatkan pelayanan yang baik. Lalu kenapa sering kehabisan stok? Bahkan beberapa hari ini stok BBM habis dan kalau BBM sedang ada volumen penjualan BBM kepada pelanggan roda empat dibatasi, maksimal pembelian 200 ribu. Pelanggan tentu sangat bersyukur sebab BBM di beberapa SPBU yang ada di Muara Teweh justru tutup karena kehabisan BBM?

Di SPBU Batara Membangun, sama sekali tidak ada Pelansir, tidak ada antrian pelansir. Kenapa di SPBU lainnya justru dikuasai Pelansir?

Masyarakat sebagai konsumen SPBU Batara Membangun sangat berharap dapat menambah volumen pembelian BBM sehingga pemenuhan BBM untuk masyarakat dapat terpenuhi.

Ironisnya, kala BBM langka, terlihat di SPBU lainnya, pihak SPBU sering terlihat melayani pelanggan yang membawa jirigen. Tampak jirigen ukuran 5 liter sampai ukuran volume 35 liter dibawa pelanggan dan dilayani SPBU. Bahkan mobil bak terbuka yang mana diatas baknya adalah drum, dan minubus penuh dengan jirigen juga dilayani SPBU.

Ironisnya, disalah satu SPBU yang berlokasi di Jalan Pramuka, Kamis, 03/02/21, sekitar pukul 09.00 wib, terlihat antrian pelanggan sambil menunggu pengisian BBM ke puluhan jirigen yang terang terangan disusun di samping pompa pengisian BBM..

Pelanggan hanya bisa menonton dan mengantri dibelakang pelangga yang membawa jirigen, sementara kelangkaan BBM khususnya Premium dan pertalite terjadi di muara Teweh.

Kemudian pertanyaan mendasar, Bolehkan membeli BBM di SPBU dengan Memakai Jirigen? Tentu Boleh. Tapi ada syaratnya.

Membeli BBM dari SPBU dengan memakai jirigen boleh asal tidak diperjual belikan lagi. Demikian pernyataan vice communication PT. Pertamina (Persero) Fajriyah Usman kepada Detikoto (18/06/20).

Karena menurut UU migas no
22 tahun 2001, PP 36 tahun 2004, bahwa untuk melakukan usaha hilir migas harus mendapatkan persetujuan dari pemerintah dalam hal ini kementerian ESDM (Dirjen Migas) dan mendapatkan ijin usaha niaga tersebut ke BPH migas.

Terkait pembelian solar dengan jirigen, disarankan untuk tidak digunakan sebab jirigen yang tidak sesuai dengan SNI sangat rentan dengan listrik statis yang mengakibatkan insiden di SPBU

Kriteria UMKM mengacu kepada UU 20 tahun 2008, maka untuk UMKM rekomendasi oleh dinas UMKM dan BBM yang dibeli dari SPBU untuk kegiatan usahanya, bukan untuk diperjual belikan kembali.

Perilaku pihak SPBU yang melayani pembeli dengan membawa jirigen bahkan drum dalam mobil minibus dan bak terbuka menurut informasi beberapa warga sudah berungkali dilaporkan kepada pihak yang berwenang, akan tetapi kejadian kejadian yang sama masih saja berlangsung.

Semoga menjadi perhatian pemerintah dan aparat penegak hukum, sebab kecukupan kebutuhan ketersediaan BBM kepada masyarakat seyogyanya menjadi prioritas.

Diketahui bahwa harga peremium di pengecer depan SPBU APMS muara Teweh (17/02/21) seharga Rp.11.000 per liter.

HISON.
KETUA IWO BARITO UTARA (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *