Kakek di Blitar Tewas Korban Lebah Madu Klanceng

  • Whatsapp
ilustrasi Madu Lebah Klanceng.

Blitar, Infobanua.co.id – Bisnis Lebah Madu Klanceng memang sangat menggiurkan, karena Madu hasil dari Lebah Klanceng ini menjanjikan potensi untuk meraup pendapatan yang cukup besar.

Tapi disamping menjanjikan, ternyata juga bisa membuat stres seseorang. Karena stres berat membuat kakek Minto (80), warga Desa Bacem, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, meninggal dengan cara bunuh diri menggunakan tali dengan menjerat lehernya sendiri.

Korban ditemukan sudah tewas menggantung di pohon Mangga, di halaman rumahnya dengan leher terlilit tali plastik, Rabu 17 Januari 2021 pagi.

Diduga, kakek tersebut pusing dan stres dengan masalah dalam kemitraan usaha budidaya Lebah Madu Klanceng di Koperasi Niaga Mandiri Sejahtera Indonesia (NMSI) Kediri, yang ternyata membuat ratusan agen dan mitra kerja tertipu.

Kapolsek Sutojayan, AKP Tamim Anwar, mengatakan bahwa, Polisi masih menyelidiki penyebabnya. Karena korban diketahui tidak ada masalah yang berat, dan kondisi fisiknya juga sehat-sehat saja.

“Tapi menurut keterangan keluarganya, dalam beberapa minggu ini sepertinya korban memikirkan usahanya. Yaitu tentang usaha kemitraan budi daya ternak Lebah Madu Klanceng,” kata Kapolsek Sutojayan, AKP Tamim Anwar, kepada awak media, Kamis 18-02-2021.

Menurut Tamim, bukan karena gagal usahanya, tapi saat akan panen, mendadak Ketua Koperasi penjaring kemitraan dikabarkan sudah tidak bisa dihubungi sehingga membuat korban stress berat.

Masih menurut Tamim, bahwa dugaan adanya investasi bodong dalam kemitraan budidaya Lebah Madu Klanceng di Koperasi NMSI Kediri memang telah ditangani Polisi selama dua pekan terakhir. Sebab uang yang disetor para mitra dan agen diduga dilarikan oleh Ketua Koperasi tersebut.

“Atas permintaan keluarganya, jasad korban tidak dioutopsi karena diketahui murni bunuh diri,” jlentrehnya.

Memang kabar kematian korban sempat menggegerkan warga Desa setempat. Meskipun belum diketahui penyebab pastinya, namun warga menduga jika semua itu dipicu masalah dalam usahanya.

Selanjutnya Tamim menerangkan bahwa, kejadian ini pertama kali diketahui oleh Anggra (34), cucu korban sendiri.

Anggra yang tinggal serumah dengan korban, semula hendak membuang sampah sekitar pukul 05.30 WIB.

Tapi dia seperti melihat orang berdiri di bawah pohon Mangga di halaman rumahnya.

“Begitu didekati, betapa kagetnya Anggra, sehingga berteriak seraya memanggil istrinya, Nafik (34). Seketika itu juga kabar kematian korban menyebar dan warga berdatangan,” pungkasnya. (Eko.B) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *