Yulia: JKN-KIS Bantu Anak Saya Hadapi Thalasemia

  • Whatsapp

Banjarmasin, infobanua.co.id  – Pengalaman jatuh bangun untuk biaya pembayaran pengobatan anaknya sudah dialami Yulia (43) salah seorang warga Kota Banjarmasin. Pasalnya anaknya yang bernama Raihana Ahmad Anfasa (15) tengah divonis thalasemia. Sebuah penyakit langka yang diderita kurang dari 150 ribu kasus per tahun (Indonesia). Thalasemia adalah kelainan darah bawaan yang ditandai oleh kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah dalam tubuh yang kurang dari normal.

 

“Awal mulanya saya mengira anak saya yang berusia 13 tahun itu sakit demam biasa. Namun demamnya tak sembuh-sembuh, panasnya 43 derajat dan tubuhnya gemetar menggigil. Setelah mengetahui dari vonis dokter bahwa anak saya sakit thalassemia, saya merasa kaget dan sedih karena putra kesayangan saya harus berjuang melawan Thalasemia,” tutur Yulia.

 

Kekhawatiran Yulia bertambah saat harus memikirkan dari mana biaya untuk melakukan pengobatan anaknya. Pasalnya pengobatan untuk penyakit thalassemia tidaklah sedikit dikarenakan sang anak memerlukan transfusi darah setiap 1 bulan sekali di rumah sakit. Ditengah perjuangannya untuk mencari biaya pengobatan anaknya, Yulia mendapatkan angin segar karena adanya Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

 

“Sangat bersyukur dan berterimakasih dengan adanya program JKN-KIS, bila tidak, apa jadinya saya dan anak, karena sekali berobat bisa menghabiskan sampai jutaan rupiah perbulan. Saya juga merasa meskipun daftar di kelas 3,  pelayanan yang saya dapatkan sama saja dengan yang lainnya, tidak ada pilih kasih. Selama pengobatan menggunakan kartu JKN-KIS, saya tidak pernah diminta menambah biaya fasilitas kesehatan yang saya terima,” kata Yulia.

 

Yulia berharap agar seluruh masyarakat Indonesia yang lain bergabung dengan mendaftar program JKN-KIS, sehingga apabila sewaktu-waktu mengalami sakit.

 

“Setidaknya biaya pengobatan bukan lagi menjadi halangan untuk berobat. Masyarakat bisa tenang dan tidak khawatir apabila mendapat tagihan setelah berobat. Selain itu kita juga bisa membantu sesama dengan bergotong royong menanggung biaya pengobatan peserta yang lainnya. Terima kasih kepada pemerintah yang telah menghadirkan program yang memberikan rasa aman tanpa khwatir akan kesehatan di masa depan. Dan saya berharap agar pelayanan seperti ini tetap terus bertahan,” tutup Yulia.

 

Rel/IB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *