Diharapkan Normalisasi Kali Bogel Berlanjut Untuk Mengatasi Banjir di Blitar

Kali Bogel di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar.

Blitar, Infobanua.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar, malalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar terus memperhatikan pembangunan normalisasi Kali Bogel di Kecamatan Sutojayan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar, Achmad Cholik, mengatakan bahwa, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar merupakan wilayah yang sering menjadi langganan banjir pada musim penghujan. Untuk itu pihaknya terus memantau daerah tersebut, karena proyek normalisasi Kali Bogel masih belum selesai tahap pengerjaannya.

Karena normalisasi Kali Bogel dipredeksi salah satu jawaban dan upaya terbaik dalam mengantisipasi langganan banjir di Kecamatan Sutojayan.

“Karena pengerjaannya belum selesai, kemungkinan ambrol itu ada. Kemarin juga sudah ada beberapa titik yang ambrol,” kata Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Achmad Cholik, Selasa 23-02-2021.

Menurut Cholik bahwa, banjir di wilayah Sutojayan akibat air kiriman dari Kecamatan Wonotirto dan Kecamatan Panggunrejo. Dimana dua Kecamatan tersebut letaknya berada lebih tinggi dari Kecamatan Sutojayan.

Proyek normalisasi Kali Bogel tepatnya di Desa Sukorejo, Kecamatan Sutojayan itu memperoleh anggaran APBN dari Pemerintah Pusat sebesar Rp185 miliar. Normalisasi dilakukan di dua titik yaitu Kali Bogel dan Kali Gesing, sepanjang 7.100 Meter.

“Kami telah rapat dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang dipimpin bapak Bupati beberapa hari lalu, meminta agar BBWS untuk segera melanjutkan pembangunan normalisasi sungai-sungai lain di sekitar Kali itu,” jlentrehnya.

Masih menurut Cholik, bahwa menunggu kelanjutan normalisasi, pihaknya sudah mengambil langkah dengan memasang sesek di titik titik tertentu di Kali Bogel. Hal itu agar tidak terjadi ambrol di titik tersebut.

“Pemasangan sesek memerlukan alat berat untuk menancapkan tonggak kayu di sesek, dan itu juga harus ada kesediaan warga yang tanahnya dilewati alat berat,” ungkapnya.

Selanjutnya Cholik menjelaskan bahwa, dalam menanggulangi resiko bencana membutuhkan kerjasama dari semua pihak.

Karena tidak ada yang paling bertanggung jawab ketika terjadi bencana.

“Namun itu merupakan tanggung jawab kita bersama dalam menhadapi bencana, sebab bencana adalah urusan bersama,” pungkasnya. (Eko.B)