“Sadranan di Cagar budaya komplek situs makam Pangeran Juminah Kaliwungu Kendal”

  • Whatsapp

Kendal, infobanua.co.id – Kegiatan sadranan ini yang perlu di pahami, arti dari pada kata Sadranan berasal dari kata Sadran yang artinya doa secara bersama-sama. Esensi substansi dari pada sadranan adalah ziarah kubur,berdoa secara bersama-sama.28/3/21.

Mendoakan para leluhur yang telah kembali ke alam baka.Apa yang di lakukan para leluhur,sebagai generasi muda wajib meniru yang baik,untuk sejarah itu sendiri,orang lupa tentang sejarah yang sebenarnya.

Yang perlu di catat,di Indonesia ini ada 3 macam sejarah.

1.Sejarah Jawa/sejarah tradisional.

2.Sejarah Modern.

3.Sejarah Kolonial.

Kalau sudah masuk sejarah kolonial,sejarah bangsa Indonesia khususnya sejarah Jawa,sejarahnya di putar balikan,sehingga jadi sejarah yang mematikan,sehingga sejarah kolonial adalah sejarah yang tendensius.Apa kepentingan kolonial yang menjadi acuan pertama dan targetnya adalah bangsa kita bangsa yang kurang baik.

Sejarah awal sadranan

-Kenapa saya harus menerangkan Sadranan dan yang di sadrani

-Raja Mataram pertama panembahan Senopati Eng Aluko Abdurrahman syayidina Panotogomo Alifatullah ing Mataram,mempunyai banyak istri dan banyak anak,salah satunya adalah pangeran Juminah.Pangeran Juminah ini lahir dari istri Raden Ayu Retno Dumilah dari Madiun.Nama asli Pangeran Juminah adalah Raden mas Bagus,setelah dewasa jadi pangeran Juminah,setelah tua menjadi Pangeran Panembahan Juminah.

– Juminah ini berasal dr gelar eyangnya yaitu Ronggo Jumeno,penembahan Madiun(lidah Jawa berucap menjadi Juminah)

-Hubungan pangeran Juminah dengan Kaliwungu.

Perlu di catat,tanah Kaliwungu itu dulu menjadi gajih(upah).

-Ki juru Martani selaku patih Mataram di beri upah yaitu tanah Kaliwungu.

-Kemudian KiJuru Martani mempunyai anak bernama Ki Juru Mayem.kemudian Ki Juru Mayem mempunyai anak putri yang di nikahi Pangeran Juminah,melahirkan Tumenggung wongso Prono( Ki ageng Lempuyang),dari Ki Ageng Lempuyang ini,kemudian tanah Kaliwungu di serahkan oleh Sultan Amangkurat Agung kepada Tumenggung Mongso Prono( ki Ageng Lempuyang) Kemudian setelah tertata rapi,putra dari Ki Ageng Lempuyang yang bernama Tumenggung Joyonegoro itu di ambil mantu oleh Sunan Amangkurat Agung,kemudian di tetapkan menjadi Bupati Kaliwungu.

Bupati Kaliwungu meliputi Kabupaten yang semula Kendal pisah menjadi 2.

– Kali Blorong ke Barat sampai Kali Kuto di sebut Kabupaten Kendal.

– Kemudian Kali Blorong ketimur sampai Jrakah adalah Kabupaten Kaliwungu.

-Ketika itu Kendal Luasnya 2900 karya dan Kaliwungu luasnya 2000 karya.jadi luas Kendal dari pada Kaliwungu .

-Setelah Tumenggung Joyonegoro menjadi bupati Kaliwungu,namanya di rubah menjadi Raden mas Ronggo Hadi Negoro.

Ronggo menurut tata bahasa artinya gelar administratif seorang bupati.

-Kemudian dari anak keturunan pangeran Juminah,semua jadi Bupati Kaliwungu

-Ronggo Hadi Menggolo

– Ronggo Hadi Menggolo 2

– Ronggo Hadi Menggolo 3

-Ronggo Hadi Menggolo 4.

Kemudian di mutasi untuk menjadi Bupati Batang dengan gelar Hadi negoro, kemudian digantikan oleh saudaranya yang namanya Tumenggung sumo dimuryo.

Azgan Wakalo  hadir selaku ndangan mengatakan. ”  Pelaku sejarah yang terlupan anak anak muda saat ini,karena sejarah ini lah  bukan di tempat Pangeran Joeminah saja,tapi di tempat tempat lain,yang perlu di jaga dan di lestarikan budaya nya,Budaya di Kendal ini memang sangat kental dengan religi ke agamaanya.pungkasnya(Untung T – Vio Sari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *