Pengadilan Negeri Medan Adili Anwar Tanuhadi, Pengusaha Jakarta Terkait Tindak Pidana Penipuan Dan Penggelapan, Sebesar Rp 4 Miliar

  • Whatsapp

Medan, Infobanua.co.id – Pengadilan Negeri Medan menggelar Sidang Kasus Perkara Tindak Pidana Penipuan, dengan Terdakwa, bernama Anwar Tanuhadi, Warga Jalan Lebak Bulus No 8, Kecamatan Cilandak Barat, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, didakwa telah melakukan Tindak Pidana Penipuan, dan Penggelapan, yang mengakibatkan Korbannya, bernama Joni Halim, mengalami kerugian mencapai Rp 4 Miliar.

Jaksa Penuntut Umum, Chandra Naibaho, dalam dakwaan menjelaskan, Kasus Penggelapan Uang Miliaran Rupiah yang dilakukan Terdakwa, berawal pada Bulan Mei 2019 lalu. Saat itu, ada ikatan Perjanjian Jual Beli, antara Budiman Suriato dengan Dadang Sudirman (DPO Polsek Medan Timur) atas Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB), Nomor : 2043/Karang Asih, Seluas 81.246 M2.

“Berdasarkan Perikatan Perjanjian Jual Beli, Nomor 34, Tanggal 22 Oktober 2018, maka Dadang Sudirman meminta tolong kepada Saksi Ir. Diah Respati K. Widi (ditahan dalam perkara lain di Rutan Pondok Bambu Jakarta) untuk mencari Orang yang bisa meminjamkan Uang kepadanya dengan Jaminan Satu Set Sertipikat Hak Guna Bangunan, Nomor : 2043, An PT. Cikarang Indah (tanda bukti hak) yang terletak di Desa Karang Asih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat,” sebut Jaksa dalam Sidang yang berlangsung Virtual di Ruang Cakra IX Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (07/04/2021).

Selanjutnya, Saksi Ir Diah Respati K Widi menghubungi Saksi Octoduti Saragi Rumahorbo, lalu pada 12 Februari 2019, Saksi Ir. Diah Respati K. Widi mempertemukan Dadang Sudirman dengan Saksi Octoduti Saragi Rumahorbo.

“Pada pertemuan, Dadang Sudirman memberitahukan kepada Saksi Octoduti Saragi Rumahorbo, bahwa dia ingin meminjam Uang, sebesar Rp. 4 Miliar, dengan Jangka Waktu Pembayaran Pelunasan Uang Pinjaman tersebut dalam waktu, selama Satu Bulan, dengan Asset Jaminan yang ditawarkannya, Satu Set Sertipikat Hak Guna Bangunan, Nomor : 2043, An PT Cikarang Indah,” jelas Jaksa.

Jaksa melanjutkan membaca dakwaannya, bahwa pada 18 Februari 2019, Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo, dan Saksi Albert, menemui Saksi Korban, bernama Joni Halim, Warga Jalan Flores No. 1-A, Kecamatan Medan Perjuangan, dan menyampaikan keinginan Dadang Sudirman, untuk berniat meminjam Uang, sebesar Rp. 4 Miliar. Nantinya, Uang Pinjaman itu akan dikembalikan menjadi Rp. 6 Miliar, dengan Jaminan SHGB yang dijanjikan, dan lamanya batas waktu peminjan Uang itu, selama Satu Bulan.

Mendengar penjelasan Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo, dan Saksi Albert, Korban Joni Halim yang tertarik, lantas menyetujuinya dan memberikan uang tersebut. Atas Penyerahan Uang tersebut, dibuat Tanda Terima Kwitansi yang ditandatangani oleh Dadang Sudirman, dan saat itu Budianto, bersama Ir Diah Respati K, Alias Petti mengatakan, bahwa Rekannya, Terdakwa Anwar Tanuhadi bisa mencairkan Uang dari Bank dengan menggunakan Sertifikat dalam waktu Satu Bulan, paling sedikit Rp. 50 Miliar, karena Terdakwa Anwar Tanuhadi, Pengusaha yang mempunyai Plafom Ratusan Miliar di Bank.

Kemudian, saat tiba masa waktu yang dijanjikan, hari pengembalian uang, ternyata Dadang Sudirman tidak membayarkan Uang, sebesar Rp. 6 Miliar, yang menjadi Milik Saksi Korban kepada Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo, seperti apa yang terdapat didalam kesepakatan perikatan yang dijanjikannya.

Karena tak mampu membayar, selanjutnya Ir Diah Respati K Widi, dan Budianto, Alias Budi, menemui Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo, dengan tujuan meminjam Satu Set Asli Sertipikat Hak Guna Bangunan Nomor : 2043, An PT. Cikarang Indah yang telah diserahkan kepada Saksi Korban, Joni Halim melalui Octoduti Saragih Rumahorbo tersebut, untuk diagunkan oleh terdakwa Anwar Tanuhadi ke Bank.

Kemudian Budianto, Alias Anto dan Ir.Diah Respati K Als Petti membujuk Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo dengan mengatakan, bahwa hanya Terdakwa Anwar Tanuhadi yang dapat mengagunkan Sertifikat dimaksud, dengan Nilai Uang, sebesar Rp. 30 Miliar ke Bank, karena Terdakwa merupakan Pengusaha Besar, dan memiliki Plafon Pinjaman Ratusan Miliar di Bank.

“Sehingga Saksi Octoduti Saragi Rumahorbo percaya, dan terbujuk dengan perkataan Ir. Diah Respati K, Alias Petti, dan Budianto, Alias Anto tersebut. Kemudian Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo, kembali mendatangi Saksi Korban dan menyampaikan kepada Saksi Korban, sesuai apa yang dinyatakan oleh Saksi Ir. Diah Respati K, Alias Petti, dan Saksi Budianto, Alias Anto. Mendengar usulan pernyataan Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo, Saksi Korban pun merasa percaya, bahwa Uang Miliknya yang diserahkan kepada Dadang Sudirman akan segera dibayar menjadi Rp. 6 M, setelah Sertifikat tersebut diagunkan Terdakwa Anwar Tanuhadi di Bank. Kemudian Saksi Korban pun mau menyerahkan 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan Nomor : 2043, An. PT. Cikarang Indah tersebut kepada Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo untuk diserahkan kepada Dadang Sudirman melalui Saksi Budianto dan Saksi Ir. Diah Respati K Widi, dan ternyata Sertifikat tersebut benar ada diagunkan oleh Terdakwa Anwar Tanuhadi,” ungkap Jaksa.

Namun, setelah Dua Minggu ditunggu, ternyata baik Terdakwa Dadang Sudirman, Saksi Budianto, Alias Anto, dan Saksi Ir. Diah Respati K. Widi, tidak ada menyerahkan Uang Milik Saksi Korban tersebut, sehingga Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo, dan Saksi Albert, mendatangi Kantor tempat diserahkannya Satu Set Sertipikat yang diagunkan tersebut.

“Ternyata Kantor yang didarangi tersebut kosong, dan saat dilakukan pengecekan, Notaris Santi Triana Hasan, SH., maupun Imam Supriadi, tidak terdaftar atau bukanlah Seorang Notaris. Mengetahui bahwa mereka sudah tertipu, maka Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo menemui Saksi Ir. Diah Respati K. Widi dan menanyakan soal sertipikat tersebut,” ucap Jaksa.

Lalu, Saksi Ir. Diah Respati K. Widi mengatakan, bahwa Sertifikat tersebut sudah ada pada Terdakwa Anwar Tabuhadi, sehingga Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo mendesak Saksi Ir. Diah Respati K. Widi. Karena merasa terdesak, lalu Saksi Ir. Diah Respati K. Widi mempertemukan Saksi Octoduti Saragi Rumahorbo dan Saksi Albert kepada Terdakwa Anwar Tanuhadi.

“Kemudian, dilakukan pertemuan antara Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo dan Saksi Albert, dengan Terdakwa Anwar Tanuhadi, dan Saksi Ir. Diah Respati K. Widi, serta Saksi Budianto di Bintaro Plaza Kota Jakarta Selatan, dimana pada pertemuan tersebut Terdakwa Anwar Tanuhadi mengatakan bersabar dengan alasan pinjaman sudah diajukan ke bank, namun masih ada dokumen PT yang masih kurang,” lanjut Jaksa.

Namun setelah ditunggu-tunggu baik Terdakwa Anwar Tanuhadi, maupun Dadang Sudirman tidak juga mengembalikan Uang Milik Saksi Korban, sehingga Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo menanyakan hal tersebut kepada Terdakwa namun Terdakwa memberikan alasan, bahwa pencairan belum ada karena masih ada surat dari PT yang ditunggu sampai ketiga kalinya Saksi Novi Yuliani, dan Saksi Budi Setiawan M.I.Kom disuruh oleh Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo untuk menemui Terdakwa di Cafe yang ada di Jakarta Selatan, dan Terdakwa mengatakan alasan yang sama, dan menuyuruh agar Pihak Saksi Korban bersabar dengan alasan, bahwa pencairan belum ada dikarenakan masih ada dokumen dari PT yang ditunggu.

Kemudian Saksi Octoduti Saragi Rumahorbo yang mendengar alasan terdakwa tersebut, lalu menghubungi Terdakwa, dan meminta agar Terdakwa mengembalikan 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan Nomor : 2043, An. PT. Cikarang Indah tersebut.

“Namun Terdakwa mengatakan kepada Saksi Octoduti Saragi Rumahorbo, bahwa 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan, Nomor : 2043 An PT Cikarang Indah tersebut sudah diserahkan ke Bank untuk diajukan pinjaman, akan tetapi Uang Milik Saksi Korban tidak juga dikembalikan oleh Pihak Dadang Sudirman,” terang Jaksa.

Kemudian, tanpa sepengetahuan Pihak Saksi Korban, maupun Saksi Albert, dan Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo, ternyata Terdakwa sudah menjaminkan 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan Nomor : 2043, An PT Cikarang Indah (tanda bukti hak) tersebut kepada Bank Panin dengan Nilai Peminjaman, sebesar Rp. 50 Miliar.

“Yang melakukan Pembayaran Jual Beli, atas Alas Hak 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan Nomor : 2043, An. PT. Cikarang Indah (tanda bukti hak) tersebut, adalah Terdakwa dengan Budiman Suriato, tanpa memberitahukan kepada Pihak Saksi Korban, maupun Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo, padahal Terdakwa mengetahui bahwa antara Dadang Sudirman selaku Pemilik 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan, Nomor : 2043, An PT Cikarang Indah, telah melakukan Pengikatan Jual Beli dengan Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo, terhadap 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan, Nomor : 2043 An PT Cikarang Indah,” ungkap jaksa.

Atas Penyerahan Uang, sebesar Rp. 4 Miliar, yang telah diterima oleh Dadang Sudirman, namun Terdakwa malah melakukan Pengikatan Jual Beli ke Bank, dengan Budiman Suriato, dan alasan Terdakwa, bahwa sepengetahuan Terdakwa, Pemilik dari PT Cikarang Indah adalah Budiman Suriato, padahal Terdakwa mengetahui sendiri, bahwa 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan, Nomor : 2043, An PT Cikarang Indah tersebut telah dibuatkan Pengikatan untuk Jual Beli, Nomor : 03, Tanggal 22 Februari 2019, antara Dadang Sudirman dengan Octoduti Saragi Rumahorbo, sehingga Terdakwa mengetahui pasti, bahwa Pihak Saksi Korban, yakni Saksi Octoduti Saragih Rumahorbo memiliki Hak atas 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan Nomor : 2043, An PT Cikarang Indah tersebut.

Kemudian saksi Korban yang mengetahui bahwa 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan, Nomor : 2043 An PT Cikarang Indah tersebut, telah diagunkan oleh Terdakwa tanpa sepengetahuan dari Saksi Korban yang berhak atas 1 (satu) Set Sertipikat Hak Guna Bangunan, Nomor : 2043, An PT Cikarang Indah tersebut, maka merasa dirugikan oleh perbuatan Terdakwa bersama Ir Diah Respati K Widi, dan Dadang, serta Budianto, sehingga melaporkan perbuatan Terdakwa dan Ir. Diah Respati K Widi, serta Dadang dan Budianto, Alias Budike, kepada Polsek Medan Timur guna pengusutan lebih lanjut.

Akibat perbuatan Terdakwa Anwar Tanuhadi, maka Saksi Korban mengalami kerugian sebesar Rp 4 Miliar. “Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam Pidana dalam Pasal 378, atau Pasal 372, jo Pasal 55, Ayat (1), ke-1, KUHPidana, atau Pasal 480, KUHPidana,” ujar Jaksa.

Sementara itu, Marimon Nainggolan, SH., MH., Kuasa Hukum Jhoni Halim menambahkan, dari dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum, Candra Naibaho dari Kejaksaan Negeri Medan terungkap, dan terurai dengan jelas peran, dan perbuatan Terdakwa Anwar Tanuhadi, dan ada indikasi sebagai Komplotan dengan Ir Diah Respati K, Alias Petti yang saat ini sedang menjalani hukuman di Rutan Wanita Pondok Bambu Jakarta dalam perkara lain, karena Ir Diah dan Terdakwa Anwar Tanuhadi sudah saling kenal lama, bahkan mengetahui Terdakwa Anwar Tanuhadi mempunyai Plafom Ratusan Miliar di Bank, namun butuh Sertifikat sebagai Agunan, supaya bisa dicairkan Uang dari Bank, sedikitnya Rp. 30 Miliar. Maka Ir Diah Respati K, Alias Petti, menjumpai Octoduti Saragih Rumahorbo, dan Albert , di mana Saksi Korban, Joni Halim telah memerintahkan Octoduti Saragi Rumah Horbo untuk melakukan Perikatan Jual Beli dengan Dadang Sudirman pada Tahun 2019, atas Tanah, seluas 10 Ha, dengan Alas Hak Sertifikat Hak Guna Bangunan, Nomor : 2043, an PT Cikarang Indah. “Mohon Penyidik Polsek Medan Timur blokir SHM, dan mohon disita,” tandasnya.

(William/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *