Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Menerapkan Protokol Kesehatan Dalam Ujian Sekolah Satuan Pendidikan

  • Whatsapp
Widodo(kiri) saat melakukan peninjauan akhir ujian bagi sekolah menengah pertama di kompleks SMP Negeri 2 Nunukan kabupaten nunukan Kalimantan utara

Nunukan, BARITO – Pelaksanaan Ujian Bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau keren disebut kelas 9 telah berakhir pada hari jumat 9/4/2021

“Widodo diwawancarai saat memantau langsung pelaksanaan ujian di SMP negeri 2 nunukan”.

Menurut Widodo kepala bidang pendidikan Dasar dan Menegah pada dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten nunukan Propensi Kalimantan utara.

Widodo selaku Kabid menjelaskan bahwa ujian yang saat ini di dilangsungkan dari tanggal 5 sampai tanggal 9 adalah ujian satuan pendidikan bukan sukses terlaksana dengan baik berlangsung aman dan tertib.

Widodo menjelaskan bahwa Ujian Nasional itu sudah dihapuskan dan ditiadakan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan.

sekarang kementrian pendidikan dan kebudayaan menganti yakni Ujian Sekolah Satuan Pendidikan (USSP) yakni buntuk menentukan kelulusan siswa nilai sekolah, nilai dari satuan pendidikan dengan ujian satuan pendidikan.

saat ditanya peran penting dinas pendidikan dalam ujian sekolah menurut Widodo yang pertama bagaimana memotivasi sekolah dalam upaya mereka agar dalam menyusun soal dalam menyusun soal ujian itu menyesuaikan dengan kondisi siswanya.

Kenapa Ujian Nasional itu ditiadakan dan dihapuskan karena metode pembelajaran setiap satuan pendidikan, kemudian capaian pembelajaran kegiatan pendidikan itu sangat berbeda sehingga sekolah yang lebih tahu untuk mengukur sejauh mana capaian dari siswa ini adalah tugasnya sekolah dari hasil ujian nanti itu akan tergambar di mana kekurangannya dari apa yang belum dicapai dari siswa.

Jadi kami dari dinas pendidikan yang pertama adalah mendorong bagaimana teman-teman dari kepala sekolah memotivasi guru-guru dalam menyusun naskah soal itu mempertimbangkan capaian pembelajaran tersebut.

Perlu kami sampaikan bahwa ujian satuan pendidikan itu bukan untuk menghakimi siswanya ya tetapi untuk menilai sejauh mana kemampuan siswa, dari situ, di mana kekurangannya itu lah kita kan baik seperti itu .

Mungkin perlu diketahui juga porsi penentuan kelulusan kalau tidak salah 30% selebihnya itu diambil dari nilai harian dari siswa tersebut dari gurunya baik dari sikapnya maupun dari kemampuan dia mengikuti proses belajar.

Di masing-masing sekolah punya metode sendiri- sendiri untuk melaksanakan ujian, dinas Pendidikan menerbitkan surat ke sekolah terkait proses ujian sekolah yang pelaksanaannya dalam menggunakan metode yang mana akan diambil oleh sekolah.

Kalau dari persoalan di wilayah-wilayah Perbatasan yang sama sekali tidak ada jaringan internet, itu sangat beda kalau dikota secara otomatis ada alternatifnya adalah luring dengan cara menjadwalkan anak didiknya masuk ke sekolah dengan batasan.

kita dari dinas pendidikan telah membuat surat edaran sudah disebutkan satu itu hanya 30 siswa persepsi satu sekolah makanya lebih banyak shift.

Dinas pendidikan berharap kepada siswa dan orangtuanya, bahwa ujian ini adalah harus dipahami untuk mengukur yang melakukan sehingga dinas pendidikan berharap agar peserta didik khususnya sekolah dalam mengikuti ujian.

Karena kalau dia menggunakan metode sementara kita belum punya alat yang bisa mendeteksi Apakah benar benar ini anak yang mengerjakan sendiri meskipun sudah di pola.

bahwa untuk mengerjakan 1 (satu Soal) itu sekian detik + 3 menit tetapi kita tidak tahu kalau di belakang dia ada orang tua atau Kakaknya yang membantu mengerjakannya. (yuspal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *