Menjelang Bulan Ramadhan, Kepala KUA Sutera Pessel Anjurkan Hal Ini

  • Whatsapp

Pesisir Selatan, Infobanua.co.id – Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, mengajak masyarakat untuk tidak merayakan tradisi balimau dengan cara mandi-mandi ke tempat pemandian atau kesungai saat menyambut bulan ramadan 1442 H, karena saat ini masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

“Kita berharap masyarakat kita tidak melakukan tradisi balimau dalam menyambut datangnya bulan suci ramadan, dengan cara mandi-mandi ketempat pemandian seperti disungai. Karena, sekarang masih dalam kondisi pandemi, “kata Kepala KUA Sutera Toni Nasrianto pada Infobanua.co.id, Jumat (9/4/2021).

Karena menurut Toni, selama ini kebiasaan balimau menjelang datangnya bulan ramadan yang dilakukan masyarakat didaerah itu, tidak hanya dengan mengusapkan limau ke kepala sebanyak tiga kali.

Akan tetapi, ada kebiasaan lain yang juga dilakukan oleh masyarakat. Terutama, dikalangan anak muda dan anak-anak yaitu, dengan cara mandi-mandi disalah satu sungai yang memang menjadi tempat pemandian umum.

Kemudian, pada saat mandi-mandi disungai semua yang datang baik laki-laki dan perempuan mandi bercampur di satu sungai tempat mereka mandi-mandi merayakan tradisi balimau.

“Nah, sebagai urang minang dan beragama muslim. Rasanya, sedikit tidak baik juga laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim mandi bercampur disatu lokasi. Selain itu, karena pandemi juga memicu keramaian yang bisa membuat kerumunan, “ucapnya.

Kalau untuk tradisi balimau menjelang bulan ramadan yang menjadi kebiasaan yang selalu dilakukan masyarakat di paparkan Toni yaitu, cukup mengusapkan limau yang sudah disiapkan kekepala sebanyak tiga kali, dan kebiasaan itu diyakini salah satu bentuk mensucikan diri saat menyambut datangnya bulan ramadan.

“Limau tersebut dibuat menggunakan bahan seperti jeruk nipis, daun pandan, bunga kenanga, akar tanaman gambelu, bunga mawar, dan bunga melati. Setelah itu dimasukkan dalam satu tempat berisi air, dan limau sudah bisa digunakan untuk di usapkan ke kepala kita sebanyak tiga kali, “ujarnya lagi.

Ditambahkannya, setelah menggunakan limau (seseorang balimau) maka kemudian mereka akan saling bermaaf-maafan antar satu dengan yang lainnya dalam menghadapi bulan suci ramadan.

“Usai balimau mereka langsung saling bermaaf-maafan karena bulan puasa ramadan akan datang, dan tradisi itu sampai sekarang masih tetap dilaksanakan. Bahkan, tidak pernah ditinggalkan oleh hampir sebagian masyarakat kita, “tambahnya.

Namun, secara syariat Islam lanjut Toni, tradisi itu tidak ada atau bisa dikatakan salah. Begitupun dengan yang disampaikan para ulama-ulama yang ada.

“Pada intinya, nabi muhammad SAW menyampaikan ketika melakukan kotbah diujung bulan sakban, dimana beliau mengatakan ada 3 doa yang harus diaminkan yaitu, jangan kau terima puasa istri durhaka pada suaminya, jangan engkau terima anak yang durhaka kepada orang tuanya dan jangan engkau terima puasanya orang yang tidak mau memaafkan antar sesama. Makanya, kita wajib mensucikan diri dengan meminta maaf kepada suami bagi istri, seorang anak kepada orang tua dan antar kita sesama manusia, “ungkapnya.

Lanjutnya, ia kembali mengajak masyarakat didaerah itu, untuk tidak merayakan balimau dengan cara-cara yang dirasa kurang baik dan bisa merugikan diri sendiri. Marilah berbahagia menyambut bulan yang suci dan bulan yang penuh ampunan ini sesuai dengan syariat Islam.

“Sama-sama kita berbenah, tingkatkan ke waspadaan kita dengan hal-hal yang bisa membahayakan. Kalau masih tetap merayakan balimau dengan cara mandi-mandi disungai tetap hati-hati. Tetap patuhi Prokes kesehatan Covid-19, sebab Covid belum hilang diwilayah kita Pessel. Terakhir, selamat menyambut bulan ramadan bagi kita orang muslim, “tutupnya.

Secara terpisah, Kapolsek Sutera, IPTU. Welly Anofri mengatakan dan menghimbau masyarakat disekitar wilayah hukumnya, untuk merayakan atau melaksanakan tradisi balimau dirumah saja. Sebab, saat ini masih dalam kondisi dan situasi pandemi Covid-19.

“Mengingat pandemi, alangkah baiknya masyarakat tidak berpegian saat balimau. Hal demikian guna mengantisipasi terjadinya penyebaran Covid-19, karena Covid-19 belum hilang di wilayah kita Pesisir Selatan, “ungkapnya.

Selain itu, melihat kondisi cuaca yang tidak menentu, terkadang baik dan terkadang buruk seperti saat ini, tambahnya, terlalu berbahaya bagi masyarakat ketika berpergian.

“Apalagi pergi balimau mandi-mandi kesungai. Cukup berbahaya, cuaca sering hujan dan disertai badai. Kita harus waspadai terjadinya banjir, longsor dan pohon tumbang. Kemudian, kalau udah rame-rame ngumpul itu juga rawan tindak kriminal copet dan maling. Lebih baik acara balimaunya dirumah saja, “tutup Kapolsek ajak masyarakat di Kecamatan Sutera.

Diketahui, tradisi balimau di Kabupaten Pesisir Selatan, merupakan kebiasaan turun-temurun yang selalu dilakukan dan tidak pernah ditinggalkan oleh masyarakat setempat.

Tradisi tersebut, dilakukan setiap datangnya bulan suci ramadan, dimana filsafatnya balimau di Minangkabau merupakan salah satu bentuk mensucikan diri dalam menyambut bulan yang suci.

Kemudian, tradisi balimau juga diiringi dengan kebiasaan masyarakat setempat, merayakan balimau dengn pergi mandi-mandi bersama disalah satu sungai yang memang tempat pemandian umum. Dan dalam sungai itu, antara laki-laki dan perempuan mandi bercampur dalam satu sungai. (Robi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *