Jelang PSU, Massa NU Sebaiknya tak Mudah Terprovokasi

BANJARMASIN – Menigkatnya suhu politik banua jelang PSU Pilkada Gubernur Kalsel 9 Juni mendatang, menimbulkan kekuatiran banyak pihak.

Pengamat politik Universitas NU Kalsel, HM Syarbani Haira, merasa gundah melihat dinamika politik yang drastis semakin memanas. Ia pun mengajak banyak pihak, khususnya warga NU untuk tak mudah terprovokasi. Apalagi di zaman fitnah yang telah merebak di mana2 sekarang ini. “Saya telah secara khusus melakukan komunikasi dengan banyak pihak agar PSU 9 Juni mendatang tak menimbulkan konflik di masyarakat”, ucap Ketua Tanfidziah PWNU Kalsel periode 2007 – 2017 ini.

Syarbani mengaku belakangan rajin mendatangi dan bersilaturahim dengan elite2 NU, pimpinan pesantren dan Majelis Taklim serta elite2 muslim lainnya. Misi besarnya semata agar ummat jangan terpecah belah karena berbeda pilihan. “Alhamdulillah, para ulama dan elite2 NU sepakat bahwa keharmonisan ummat itu menjadi prioritas” tegas Ketua Dewan Syuro Mesjid Kampus As-Su’ada, Syeikh Abdul Qadir Hasan, Universitas NU Kalsel ini.

Menurut Syarbani, sejak ia masuk jajaran elite PWNU Kalsel tahun 1997 hingga sekarang, ia selalu mengumandangkan spirit tawasuth, tasamuh dan tawazun di kalangan warga nahdliyyin. Sikap tawasuth adalah sikap moderat atau tidak ekstrim kirim dan ekstrim kanan. Tasamuh bersikap baik, lemah lembut dan pemaaf. Tawazun adalah berkeseimbangan, dan selalu di jalan tengah.

Ini adalah sebagian dari doktrin faham ahlus as-sunnah wal-jamaah, yang kemudian diadopsi oleh NU sebagai sikap politik dan sikap bermasyarakat. Jika ini dihayati dengan baik oleh semua pimpinan, aktivis dan jamaah NU, tentu mereka tak akan larut dalam emosional dukungan pilihan politik.

Masyarakat, khususnya warga NU Kalsel, kata Syarbani, pasti bisa hidup damai berdampingan, andai faham2 dan ajaran NU diterapkan dengan baik. Walau pun di antara mereka itu bisa saja berbeda pilihan politik, termasuk saat PSU yang akan datang.

Jika hingga hari ini ada perbedaan pandangan di akar rumput, maka itu tugas elite-nya yang harus bisa mencerahkannya. Jangan sampai elite2 NU malah ikutan memprovokasi ummat nya, yang kesadaran politiknya diakui Syarbani masih beragam dan berfluktuasi. rel/hns