Pelaku UMKM di Kab.Blitar Menjerit, Libur Lebaran Kawasan Wisata Ditutup

  • Whatsapp
Kawasan wisata edukasi kampung coklat, yang tutup pada libur lebaran tahun ini.

Blitar, Infobanua.co.id – Untuk mencegah kerumunan pengunjung dan menekan penyebaran Corona Virus Disease-2019 atau covid-19, akhirnya seluruh kawasan wisata di Kabupaten Blitar ditutup selama masa libur Lebaran sampai dengan Senin 17 Mei 2021.

Kondisi tersebut tidak hanya dikeluhkan oleh para pengelola wisata, namun juga membuat para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjerit.

Ketua Forum UMKM Kabupaten Blitar, Hendri Christiawan, mengatakan bahwa, ada banyak sub-sektor yang berafiliasi dengan pariwisata. Di antaranya sektor UMKM, di Kabupaten Blitar ada ribuan UMKM yang menggantungkan hidupnya dari kunjungan para wisatawan.

“Kawasan wisata menjadi media pemasaran paling efektif bagi UMKM,” kata Ketua Forum UMKM Kabupaten Blitar, Hendri Christiawan, Jum’at 14-05-2021.

Menurut Hendri, bahwa produk UMKM di Kabupaten Blitar saat ini dijual di sejumlah kawasan wisata, seperti di Kampung Coklat, Blitar Park, Negeri Dongeng, Istana Sakura sampai kewisata pantai,” jlentrehnya.

Masih menurut Hendri, bahwa sektor pariwisata di Kabupaten Blitar telah menggerakkan ribuan pelaku UMKM.

Dengan ditutupnya kawasan wisata selama libur Lebaran ini pasti akan membuat para pelaku UMKM kecewa dan menjerit karena rugi.

“Dapat dipastikan jika omzet penjualan UMKM menurun, selama pandemi dalam satu semester ini kami hitung omset UMKM sudah menurun hingga 50% sampai 70 % dengan ditutupnya kawasan wisata selama leberan,” ungkapnya.

Lebih dalam Hendri menerangkan bahwa, sejak jauh hari para UMKM sudah mempersiapkan produk mereka untuk dijajakan pada libur Lebaran.

Karena mereka berharap di Idul Fitri tahun ini akan menjadi ladang berkah untuk mengais rejeki. Namun Pemkab Blitar secara tiba-tiba mengumumkan seluruh kawasan wisata ditutup dari Kamis 13 Mei sampai dengan Senin 17 Mei 2021.

“Biasanya ada peningkatan produksi tiga sampai empat kali lipat untuk keperluan Lebaran. Dan cukup banyak modal yang digunakan untuk produksi tedsebut,” paparnya.

Modal yang dipakai ratusan juta, dengan harapan ada peningkatan penjualan. Karena sebelumnya Pemerintah menerapkan kebijakan tidak boleh mudik, tapi kawasan wisata di daerah tetap dibuka.

Sedang di Kabupaten Blitar sektor pariwisata yang berkembang pesat memunculkan banyak Desa Wisata. Dengan Desa Wisata tersebut melahirkan ribuan UMKM yang menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata.

“Sehingga dengan penutupan kawasan wisata, membuat hidup para pelaku UMKM semakin berat di masa pandemi covid-19 ini,” keluhnya.

Selanjutnya Hendri mengeluhkan jika penutupan wisata di masa libur Lebaran ini sangat mengejutkan. Jika kawasan wisata ditutup, bagaimana nasib para pelaku UMKM.

Kondisi ini akan membuat hidup para UMKM sama dengan kebijakan penutupan kawasan wisata saat di masa awal PPKM skala Mikro. Penutupan selama seminggu saja kerugiannya sudah ratusan juta.

Pada hal seluruh kawasan wisata sudah mempersiapkan sarana dan prasarana protokol kesehatan. Tapi penutupan diumumkan secara mendadak dua hari sebelum hari H. Ini adalah kebijakan yang berdampak mematikan perekonomian daerah. Jika kami menyarankan, sebaiknya kawasan pariwisata tetap dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan yang benar dan ketat.

“Sebenarnya tidak hanya UMKM saja, dengan ditutupnya seluruh kawasan wisata di Kabupaten Blitar, juga membuat warga masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari kawasan wisata juga menjerit, diantaranya pengelola jasa parkir,” pungkasnya. (Eko.B). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *