Pagar dan Taman Equator Rusak Akibat Penebanggan Pohon Lindung di Taman Equator Bonjol

  • Whatsapp

Pasaman, Infobanua.co.id – Taman Wisata Equator berada di tepi jalan raya Bukittinggi, Lubuk Sikaping. Daerah ini masuk ke dalam wilayah Sumatera Lintas Tengah. Titik nol di Kota Bonjol ditandai dengan bangunan bernama Taman Wisata Equator. Di depannya terdapat tulisan, “Anda melintasi khatulistiwa”. Tepatnya di Taman Equator Bonjol Jalan Lintas Sumatera, berada di tepi jalan raya Bukittinggi, Lubuk Sikaping. Ganggo Hilia, Nagari Ganggo, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Senin, ( 17/5/2021 ).

Kondisi saat kini penebanggan pohon lindung di Taman Equator Bonjol Pasaman mendapat kritikan berbagai pihak dan tokoh masyarakat setempat.

Saat di komfirmasi Hendra Bagindo Ratu, Warga Jorong Kampung Sianok, Nagari Ganggo Hilia, Kecamatan Bonjol yang juga salah satu ninik mamak di Bonjol, pelaku wisata arung jeram di Bonjol, yang juga ikut memviralkan Taman Equator Bonjol sebagai Bonjol Titik Nol Derajat Bumi kepada para bikers nasional dan internasional. Saat ini kami sudah mendatangkan 3.000 lebih bikers ke Taman Equator dimulai dari tanggal 23 September 2017. Hendra juga pernah membuat acara Trabas Nasional ” Jelajah Rute Gerilya Tuanku Imam Bonjol ” di 2017 dan memecahkan Rekor Muri meletuskan secara serentak sebanyak 1.821 batang meriam ( Badia – badia batuang ) bambu di 2017. Jelas Hendra.

Lanjut, terkait penebanggan pohon pelindung ketika kita ingin konfirmasi ke Wagub Sabar AS tapi di jawab oleh Kabid Pariwisata Bukhari di WAG Pelaku Wisata Pasaman. Untuk teman-teman ketahui pohon pelindung Mahoni itu tidak cocok untuk Taman Wisata dengan kajian tingkat keguguran daunya yang luar biasa banyak merusak pagar dan pembatas taman yang jelas secara bertahap kita dari Bidang Pariwisata berupaya untuk membenahinya.

“Dulu kami biarkan teman-teman juga ribut., sekarang kami perhatikan teman-teman kok kayak cacing kepanasan.., heran.?”, tangapan ucap Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Olahraga dan Pariwisata Pasaman, Ahmad Bukhari di salah satu WAG Pelaku Wisata Pasaman.

Saat di komfirmasi Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Olahraga Ahmad Bukhari, Hal itu benar sudah di jelaskan di WAG Pelaku Wisata Pasaman. Untuk penebanggan pohon lindung itu dikarnakan sampah pohon disekitaran wisata ada rumah penduduk dan mengakibatkan lapuknya atap rumah warga.

“Penebanggan Pohon itu sudah dilakukan kesepakatan, dan saat ini adanya kerusakan pagar dan tanaman itu akibat penebanggan Pohon Lindung. Semua kerusakan Pagar akan di perbaiki segera mungkin”. Terang Bukhari.

Hendra saat Media Nasional Infobanua menghubungginya menjawab. Yang mengkaji siapa.. apakah ahli pertamanan atau tanaman..? Kalau memang ini setelah dilakukan KAJIAN nya dan memang harus ditebang, mereka harus menjaga agar pagar Taman Equator Bonjol tidak rusak dan hancur. Dan kalau memang yang katanya KAJIAN..kenapa masih banyak kota yang masih mempertahankan Mahoni.

“Hampir di sebagian besar pohon pelindung di Padang adalah pohon Mahoni dan Pemko Padang melakukan pemangkasan untuk merapikan dan mengurangi dahan pohon agar tidak banyak daun yang gugur. Taman Equator Bonjol mempunyai petugas kebersihan, apa gunanya petugas kebersihan kalau tidak untuk membersihkan daun-daun yang gugur”. Jawab Hendra selaku pemerhati Wisata.

Pohon-pohon tersebut sudah berumur sekitar 30 tahunan dan itu bukan waktu sebentar untuk membesarkan pohon pengganti. Ucap Hendra.

Tugu Equator di Kota Bonjol membentuk sebuah bangunan bulat seperti kubah berwarna biru muda, mirip globe. Monumen ini adalah tugu lintasan khatulistiwa berupa bola dunia yang disangga oleh tiga tiang utama. Dari komplek monumen yang memiliki areal seluas 4 ha ini, wisatawan bisa mendatangi Museum Tuanku Imam Bonjol dan beragam souvenir khas Pasaman. Bonjol sendiri terletak di Pasaman, kurang lebih sekitar 110 km dari Bukittinggi atau 200 km dari Kota Padang. Ada yang unik dari monumen yang di bangun sebagai tanda garis khatulistiwa. Sebagai negara yang dilalui garis khatulistiwa, Tanah Air begitu spesial. Sebuah bangunan bola dunia yang di kombinasikan dengan rumah adat minang kabau dan tulisan ” You Are Crossing The Equator “. Garis lintang 0° ini semakin indah dengan desain biru bola dunia yang berada di pinggir jalan raya, dan disandingkan dengan jembatan yang beratapkan seperti rumah adat minangkabau. Terdengar dari namanya, Kota Bonjol merupakan tempat kelahiran salah satu pahlawan nasional yang tak lain adalah Tuanku Imam Bonjol. Daerah ini cukup terkenal karena dilintasi garis khatulistiwa atau equator. Dengan kondisi saat ini pohon pelindung di tebanggi tentunya akan membuat gersang Taman Wisata Equator tersebut.

Saat di hubunggi Via WhatSap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasaman Ir. Rosben Aguswar, M.Si menjawab dalam hal Penebangan pohon pelindung harus seizin Bupati, yang boleh hanya pemangkasan, kalau pemangkasan harus ditinggalkan menimal satu dahan yang masih punya daun.

“Mohon ditanyakan langsung kepada Dinas Pemuda Olahraga yang membawahi parawisata, sebab saya tidak mengeluarkan surat rekomendasi”. Ucap Rosben.

Turut di Komfirmasi Wali Nagari Ganggo Mudiak Aria Barito, S.H kepada media ini membenarkan adanya Penebanggan Pohon Lindung di Taman Equator Bonjol Pasaman.

“Kita sebagai Wali Nagari tidak diberitahu dan diajak berdialog dulu atas kebijakan itu, ketika pada saat penebangan kita ada berada di lokasi dan melihat. Namun hanya bisa melihat saja, kerusakan pagar akibat penebanggan pohon tersebut, karna itu Taman Equator salah satu aset Pemda”. Terang Aria Barito.

Coba di komfirmasi aja ke Dinas Pariwisata dan Dinal Lingkungan Hidup Pemda Pasaman, tutup Aria.

Hingga berita ini diterbitkan Media ini masih berupaya konfirmasi pihak terkait lainnya.

*Hkim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *