Buntut Arogansi dan Intimidasi Pekerja McDonald’s Margonda Depok, Wartawan Warta Kota Buat Laporan Ke Polresta Depok

  • Whatsapp

Depok, Infobanua.co.id – Akibat dari Intimidasi pelecehan peribadi dan profesional dialami wartawati Warta Kota Vini Rizki Amelia oleh pekerja McDonald’s Margonda Kota Depok sewaktu meliput penjualan menu BTS Meal secara Drive Thru McDonald’s, Rabu petang (9/6).

Memantau jualan menu kolaborasi BTS dengan McDonald’s inilah yang Vini melakukan tugas jurnalistiknya. Diperkirakan berpotensi terjadi kerumunan di gerai-gerai McD di sejumlah kota Indonesia lantaran dipadati antrian driver ojek online yang menerima pesanan pelanggan pesan-hantar. Hal ini menjadi evaluasi pelaksanaan Protokol Kesehatan Pandemi Covid-19 berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Menu BTS Meal, diluncurkan Rabu (9/6/2021) dan dapat dibeli di seluruh gerai McD Indonesia. Paket menu BTS Meal dijual seharga Rp 45.455.

Saat melaksanakan tugas jurnalistiknya inilah wartawati Vini Rizki Amelia didera pelarangan peliputan, intimidasi, dan disinyalir pelecehan verbal oleh tiga pegawai McDonald’s yaitu Nurhadi, Second Managers, dan dua petugas keamanan Kiroy dan Adi.

Kronologisnya, disaat Vini sedang tugas peliputan siaran langsung di aplikasi Facebook Warta Kota dari trotoar di Jalan Raya Margonda, secara random ketiga pegawai ini hampiri dengan mengganggu Vini. Alasannya, Nurhadi disuruh oleh atasannya untuk melarang wartawan meliput kegiatan McDonald’s.

Demikian pula, Adi dan Kiroy dapat perintah dari komandan keamanan untuk melarang Vini meliput. Padahal aku Vini, dia melakukan peliputan di trotoar dari luar pekarangan Gedung McDonald’s Margonda. Namun, ketiga pegawai marah situasi McDonald’s diambil gambarnya.

“Bu, wartawan dilarang liputan di sini. Ibu sudah dapat izin belum. Dilarang, ini perintah atasan saya,” demikian sekira ucapan Nurhadi kepada Vini.

“Maaf Pak. Saya meliput dari luar. Dari pinggir jalan. Saya tidak masuk ke dalam,” jawab Vini sambil mengambil video sekitar. Akibat pelarangan ini Vini dipaksa hentikan kerjaan jurnalisnya.

Demikian yang dilakukan Adi dan Kiroy yang aktif terus menghalangi kerja Vini. Raut wajah dan gestur kedua kasar membuat Vini terintimidasi. Kekerasan verbal terjadi. Malah, Vini merasa dilecehkan dari kata-kata Kiroy yang mengatakan, “Gue gak peduli Ormas, Gue gak peduli wartawan, taik anjing,” hardiknya memaki.

Padahal, Vini telah menghentikan liputannya, bermaksud meninggalkan lokasi untuk ke tempat parkir motor. Mendengar, makian ini, Vini menghampiri ketiga pegawai ini, sembari bertanya,

”Mengapa Bapak bicara begitu?,” protes Vini.

“Habis kamu tidak menghormati saya,” hardik Kiroy.

“Hormati bagaimana? Saya sudah hentikan liputan. Saya sudah kasi tanda tabik. Saya pun senyum Bapak tak bisa melihatnya wajah saya karena saya pakai masker,” jawab Vini, meluruskan.

Tentu saja, peristiwa yang tak menyamankan ini, Vindy diintimidasi dan dilecehkan. Rekan-rekan seprofesinya, dari pengurus PWI Kota Depok melaporkan ke Polres Metro Kota Depok, Rabu malam (9/6). Ikut mendampingi Vini di antaranya, Pembina Rido Lingga, Wakil Ketua II, Hendrik I Raseukiy, Wakil Ketua I Maulana Said, Sekretaris Wahyu Saputra, dan Kabid Advokasi Anton Pulung. Mareka ini adalah wartawan yang bertugas di Kota Depok dari RRI, Elshinta, Radar Online, Harian Sederhana, dan. Pos Kota

“Vini sudah dimintai keterangan oleh penyidik di Unit Krimum, Satreskrim Polres Metro Depok. Berdasarkan laporan Nomor: LP/B/1113/VI/2021/SPKT/Polres Metro Depok/Polda Metro Jaya. Saya berkomunikasi dengan Kanitnya AKP Marbun, pelaporan ini untuk menegakkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers, dalam ini diatur di Pasal 19 perihal menghalangi kerja pers,” jelas Rido Lingga di Mapolres Metro Depok.

Rido Lingga memastikan, sebutnya, Manajemen McDonald’s Margonda patut diduga kuat telah menghalangi pekerjaan pers dan mengintimidasi awak pers. Perilaku ini, sitir Rido Lingga melanggar ketentuan pidana dari UU tentang Pers yaitu Pasal 18 ayat dua yakni, ‘Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)’. seperti yang di kutip tributeasia.com

Demikian pula, senada, Wahyu Saputra menyesalkan peristiwa yang mendera Vini. Wahyu menilai, yang dilakukan manajemen McDonald’s Margonda ini sangat tak patut.

“Ini adalah kebijakan manajemen. Ketiga pegawai ini melakukan tindakan pelarangan, intimidasi, dan pelecehan pada kawan seprofesi kami ini adalah berdasarkan perintah atasan mareka yaitu, manajer dan komandan mareka. Kami menuntut pertanggungjawaban mareka,” jelas Wahyu Saputra di Mapolres Metro Depok.

Tegas Wahyu, perilaku premanistik seperti ini tak dapat dibiarkan.

“Apakah harus ada korban fisik dahulu dari wartawan baru kita bergerak menerapkan aturan? Menerapkan undang-undang? Ini tak boleh dibiarkan. Wartawan yang baik harus saling membantu dan mendukung dalam bertugas. Disinilah letak dari peran PWI,” sebut Wahyu.

Rido dan Wahyu sepakat, pers punya hak dan tanggung jawab bertugas yang berkaitan dengan persoalan publik atau masyarakat. Jualan Menu BTS Meal adalah peristiwa publik, ikut juga berlangsung di ruang dan tempat publik, lantaran berpotensi pada fasilitas publik yaitu jalan raya dari peluang kemacetan jalan dan penumpukan antrian orang. Potensi imbas pada pelaksanaan Prokes Pandemi Covid-19. Tentu saja, hal ini harus mendapatkan perhatian semua pihak, termasuk pers. Apalagi, pers adalah termasuk pilar kontrol sosial dan penegakan hukum.

Pengurus PWI Kota Depok sempat datang ke Gedung McDonald’s Margonda, untuk mengklarifikasi peristiwa ini, berjumpa dengan Nurhadi, Kiroy, dan Adi. Mareka akui pelarangan ini dilakukan karena perintah dari pemimpin mareka.( Wahyu )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *