Pasien Corona 65% Meninggal Kurang Dari 24 Jam Ketika Dirawat di RS Kab.Blitar

  • Whatsapp
Dirut RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr.Endah Woro Utami.

Blitar, Infobanua.co.id – Hingga awal bulan Juni 2021, wilayah Kabupaten Blitar merupakan penyumbang kasus kematian Corona Virus Disease-19 atau covid-19 ketiga di Jawa Timur.

Karena angka kematian pasien covid-19 di Kabupaten Blitar sangat tinggi. Separuh lebih kematian pasien terjadi ketika dirawat kurang dari 24 jam di IGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar.

Hingga awal Juni 2021, tercatat angka kematian pasien covid-19 sebesar 11,3 porsen. Data Satgas covid-19 Kabupaten Blitar telah merilis angka kumulatif jumlah kematian per Kamis 10 Juni 2021 kemarin sebanyak 633 orang.

Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Deny Christianto, mengatakan bahwa, sejak bulan April sampai dengan bulan Mei 2021, sebanyak 62 porsen pasien covid-19 meninggal saat dirawat di IGD kurang dari 24 jam.

Dimana 38 porsen dirawat antara 24 hingga 48 jam, dan 0 porsen yang dirawat lebih dari 48 jam.

“Muaranya adalah, pasien ketika datang ke Rumah Sakit sudah dalam kondisi kritis. Saturasi di bawah 84 dan harus mendapatkan alat bantu pernafasan,” kata Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Deny Christianto, Jum’at 11-06-2021.

Menurut Deny, bahwa kasus kematian pasien terkonfirmasi positif covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit rujukan, 65 porsen meninggal dengan komorbid, dan 35 porsen meninggal tanpa komorbid.

Komorbid atau penyakit penyerta pada pasien covid-19 tersebut, didominasi diabetes melitus sebanyak 38 porsen, hipertensi 27 porsen, dan heart failure atau gagal jantung sebanyak 12 porsen.

Sedang penyakit penyerta lain yang memperparah infeksi virus covid-19 hingga memicu kematian adalah kanker, gagal ginjal, dan HIV/AIDS.

Sementara Dirut RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr.Endah Woro Utami, mengatakan bahwa, pasien datang ke Rumah Sakit rujukan sudah dalam kondisi kritis ini karena ada beberapa faktor. Seperti rendahnya kesadaran warga masyarakat untuk segera datang ke pelayanan kesehatan (yankes) ketika ada gejala mengarah ke covid-19.

“Mungkin adanya ketakutan warga masyarakat karena akan di-covid-kan. Sehingga hal ini menjauhkan mereka untuk secepatnya mencari pertolongan ke yankes,” kata Dirut RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr.Endah Woro Utami.

Menurut Woro, tidak bisa dipungkiri, jika isu di-covid-kan sempat menggema di warga masyarakat saat awal pandemi terjadi.

Sebaliknya, isu yang berkembang saat ini kondisi keuangan negara yang menipis sehingga pasien dengan gejala ringan diminta melakukan isolasi mandiri.

Sehingga, mereka baru dirujuk dirawat ke rumah sakit ketika kondisinya kritis.

“Lepas dari itu, di luar wewenang kami. Yang penting rujukan berjalan baik, pembiayaan pun tidak separah saat datang dalam kondisi buruk. Karena beaya di ICU dengan ventilator justru lebih mahal,” ungkapnya.

Lebih dalam Woro menjelaskan bahwa, pihaknya rutin melakukan evaluasi rujukan. Mulai dari Puskesmas hingga Rumah Sakit rujukan dengan melibatkan organisasi profesi seperti IDI dan PPNI.

Selanjutnya Woro menghimbau kepada warga masyarakat untuk tidak takut. Begitu ada gejala jangan menunggu sampai parah, segeralah berobat.

Karena itu akan membantu penemuan dini, pengobatan dini, angka kesembuhan akan naik, dan kematian akan turun.

“Kuncinya adalah temukan sedini mungkin, obati sedini mungkin,” pungkasnya. (Eko.B). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *