Pj. Gubernur Kalsel: Putusan Pembelajaran Tatap Muka Harus Extra Hati-hati

  • Whatsapp

BANJARBARU – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memastikan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tidak perlu serentak. Setiap kabupaten dan kota nantinya ada satu sekolah yang memulai PTM. “Satu kabupaten dan kota, satu untuk SMA. Jadi, ada 13 sekolah di Kalsel yang akan memulai Pembelajaran Tatap Muka pada tahun ajaran baru ini,” ujar Kadisdikbud Kalsel H M Yusuf Effendi, Sabtu (26/6/2021).

Sedangkan untuk SMK, ada 11 sekolah di tiap kabupaten dan kota, kecuali di Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Barito Kuala (Batola). Untuk SLB nantinya ada enam sekolah pilotting.

Sesuai arahan Pj Gubernur, terang Yusuf, PTM tak perlu dipaksakan. Hanya sekolah yang benar-benar sudah siap yang akan diberi izin untuk menggelar PTM.

Penjabat Gubernur Kalsel, Safrizal ZA, memberikan arahan terkait persiapan pelaksanaan PTM di satuan pendidikan di bawah Disdikbud Kalsel.

Dikatakan Pj Gubernur Safrizal, dalam mengambil keputusan terkait PTM ini harus extra hati-hati, karena ini menyangkut masalah kesehatan dan keselamatan manusia.

Arahan tersebut diantaranya semua guru harus sudah menjalani vaksinasi sebelum dilaksanakannya PTM dalam satu sekolah. “Semua guru harus sudah divaksin, satu saja ada yang belum, maka di sekolah tersebut tidak bisa dilaksanakan PTM,” ujarnya.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam PTM adalah persetujuan dari orangtua, ini mutlak. Artinya, satuan pendidikan tetap memfasilitasi pembelajaran secara daring bagi orangtua yang tidak setuju dengan PTM.

Selain itu, zonasi juga menjadi acuan utama. Terutama terkait dengan jumlah orang yang akan mengikuti PTM dalam satuan pendidikan.  “Setiap sekolah mempersiapkan PTM sesuai dengan SKB 4 menteri. Selanjutnya, Satgas akan mengecek dan memberikan rekomendasi, apakah bisa dilaksanakan PTM atau belum,” jelasnya.

Ditambahkan Safrizal, tidak perlu semua sekolah harus melaksanakan PTM. Bisa saja hanya beberapa sekolah yang sudah siap untuk melaksanakan PTM yang kemudian dievaluasi dan selanjutnya bisa menjadi contoh atau patokan bagi sekolah lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *