Covid-19 Varian Delta, Harus Dikhawatirkan?

  • Whatsapp

Pandemi virus Corona SARS-CoV-2 belum juga berlalu kendati lebih dari satu tahun muncul di Tanah Air. Seperti diketahui penyakit yang umum disebut dengan Covid-19 atau Coronavirus Disease 2019 ini pertama kali diumumkan pemerintah pada Senin 2 Maret 2020 lalu. Kini setelah 15 bulan lebih berlalu, Covid-19 belum juga sirna dari bumi Indonesia.

Setahun berlalu, Covid-19 kini justru bermutasi menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya. Salah satu varian yang menjadi perhatian adalah varian Delta atau B.1.617.2 yang berasal dari India. Mutasi virus ini terjadi karena mekanisme pertahanan diri dari virus corona. Pada saat ini telah ditemukan empat variant of concernatau varian yang diperhatikan perkembangannya di mana varian Delta ini menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan.

Berikut sekelumit mengenai varian Delta seperti dikutip dari ABC:
1. Varian Delta merupakan varian yang menular lebih cepat dibandingkan varian lainnya.
2. Lebih menginfeksi ketimbang varian lain
3. Lebih tahan terhadap kontrol serta pencegahan protokol kesehatan seperti isolasi
4. Menimbulkan gejala yang lebih parah serta bervariasi pada pasien
5. Menular lebih mudah pada anak-anak

Mengkhawatirkannya varian Delta ini membuat otoritas kesehatan Amerika Serikat atau CDC menyatakan bahwa varian ini merupakan varian yang menular dengan sangat cepat. Seperti dikutip dari The Guardian, varian Delta saat ini tengah menghantam Inggris Raya di mana jumlah kasus varian ini meningkat hingga 75.953 hingga Jumat (18/6/2021) – di mana 99% kasus baru Covid-19, disebabkan karena varian ini.

Meningkatnya kasus Covid-19 di Inggris Raya karena varian Delta membuat upaya pembukaan kembali dapat tertunda selama 4 atau 5 pekan. Serbuan varian Delta dikombinasikan dengan relaksasi pembatasan di Inggris diyakini menjadi biang keladi kenaikan kasus Covid-19 di Inggris Raya selama beberapa pekan terakhir. Varian Delta ini membuat rencana PM Inggris Boris Johnson menunda pembukaan penuh pembatasan Covid-19 yang semula dijadwalkan pada 21 Juni mendatang.

Sementara itu di AS, varian Delta hingga Jumat (18/6/2021) telah menyumbangkan 10% dari seluruh kasus di negara Paman Sam. Padahal pada 22 Mei kasus Covid-19 yang disebabkan varian Delta ini hanya 2,7% saja.

Inilah mengapa CDC mengklasifikasikan varian Delta sebagai variant of concern, di mana varian ini membawa risiko penyakit yang lebih parah serta lebih mudah menular.

Gejala dari varian Delta ini adalah:
• Mual dan muntah
• Kehilangan nafsu makan
• Diare dan sakit perut
• Nyeri pada persendian
• Terjadi gangguan pendengaran
• Pembekuan darah
• Terjadi jaringan yang mati akibat infeksi atau kekurangan darah

Menurut data yang dikutip dari The Guardian, saat ini varian Delta telah menyebar ke 74 negara. Varian Delta terkonfirmasi menyebar di Tiongkok, Amerika Serikat, Afrika, Skandinavia serta negara-negara di Pasifik serta tentunya di Tanah Air. Menurut Ashish Jha, Dekan Kesehatan Publik di Universitas Brown, AS menyatakan bahwa varian Delta adalah varian Covid-19 yang paling menular hingga saat ini.

Varian Delta bahkan diberitakan telah berubah menjadi varian Delta Plus atau B1617.2 yang merupakan bentuk baru dari varian tersebut. Hingga saat ini belum ada indikasi bahwa varian serta mutasi Delta Plus itu dapat memicu gejala yang lebih parah. Berdasarkan pernyataan Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemkes), Siti Nadia Tarmizi hingga saat ini varian yang sudah dideteksi di Indonesia adalah B1617 atau varian Delta. Sedangkan untuk Delta Plus mutasi pada protein K417N atau B1617.2 belum ditemukan di Tanah Air.

Nadia menyebutkan, untuk mendeteksi varian baru, pemeriksaan sampel menggunakan Whole Genome Sequencing (WGS). Namun, sifatnya monitor sehingga bentuknya surveilans bukan pemeriksaan rutin.

Sementara mengatasi mutasi varian baru, Nadia mengimbau masyarakat untuk patuh terhadap protokol kesehatan (prokes). Selain itu, pemerintah fokus pada deteksi dini kasus melalui 3T yaitu testing, tracing, dan treatment. Kemudian, mempercepat vaksinasi.

Varian baru atau mutasi virus sebetulnya banyak sekali, karena sejatinya virus mengalami mutasi. Akan tetapi, sejauh ini World Health Organization (WHO) memasukan 2 kategori, yakni variant of interest (VOI) atau mutasi yang perlu diamati dan variant of consent (VOC) atau mutasi yang benar-benar harus secara hati-hati ditindaklanjuti.

Nicko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *