Gairah NU Pasca Penzaliman Orde Baru

  • Whatsapp

Oleh : M Syarbani Haira *)

 

Bulan Maret tahun 2020 lalu saya menghadiri acara pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kotabaru. Upacara pelantikan berlangsung di Gedung Islamic Center Kotabaru, sebuah bangunan megah untuk standar daerah tersebut. Kabupaten berpenduduk 318.853 jiwa ini (data 2017) merupakan kawasan terluar untuk wilayah Kalimantan Selatan.

 

Kawasan ini berbatasan langsung dengan kepulauan Madura di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan juga calon ibukota baru, serta Panajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Perjalanan darat dari Banjarmasin via Tanah Laut ditempuh antara 6 hingga 9 jam, dengan jarak sekitar 320 kilometer. Sedangkan menggunakan pesawat bias ditempuh sekitar 30 menit.

 

Mereka yang senang travelling tentu akan memilih jalan darat. Selain melewati suasana hutan (yang sebagiannya) masih asli, tanjakan pegunungan kadang mendebarkan, serta banyak buah-buhan lokal jika sedang musim. Apalagi jika akan menyeberang ke pulau Kotabaru, dari Batulicin, very yang mengantarkan kita melewati pemandangan yang anggun, seperti pegunungan, ombak, speed boat, nelayan dan sebagainya. Dan dari atas very ternyata ada restaurant dengan beragam minuman seperti kopi, teh, susu,  disertai lagu dangdut lokal, yang uniformnya lumayan norak.

 

Jika ingin merasai gelombang laut yang dahsyat, setiba di Batulicin mampirlah ke pelabuhan kapal. Sejumlah speed boat sudah tersedia. Mereka siap mengantar ke mana saja. Dengan kecepatan tinggi, speed boat melaju di atas ombak, membuat penumpang yang tak biasa akan berasa mual perutnya. Tak hanya itu, yang bersangkutan bisa muntah, mabuk laut. Tetapi yang sudah biasa, tambah enjoy, karena empasan ombak bisa dinikmati sambil menyanyi. Rombongan kami yang sebagian tak biasa, nampak kapok. Tetapi yang lain, begitu enjoy. Kami bisa melupakan wabah dunia, Covid-19. Namun saya mengajak rombongan bersholawat, sholawat tibbil qolb, agar pandemik dunia itu tak serta merta menyerang rakyat kita, yang betul-betul tak siap menghadapinya.

 

Saat pelantikan, di sebelah kanan saya tersedia kursi untuk Bupati Kotabaru, dan disebelah kiri seorang pejabat dari instansi yang tugasnya menangani masalah keamanan masyarakat. Entah kenapa? Baru duduk, tokoh ini sudah meremehkan NU, bahkan bernada melecehkan. Tentu saja ia juga sembari memuja-muja tetangga NU. Katanya, NU itu miskin. Tak punya apa-apa. Sedang tetangganya kaya, punya rumah sakit, perguruan tinggi, dan sebagainya. Saya diam saja, sembari senyum simpul bercampur sinis.

 

Saat Panitia Pelantikan melaporkan sejumlah kegiatan yang dilakukan, termasuk event Lailatul Ijtima’ (sebuah tradisi NU) yang akan dilakukan setiap tanggal 14 dan 15 bulan hijriyah (bulan sempurna). Pejabat yang duduk di samping kanan saya tadi komen lagi dengan langsung menyebut itu “Tradisi Hindu”. Saya yang semula memilih no comment, terpaksa menjawab : “emang gak boleh ada kegiatan jika bulan sedang sempurna?” Rupanya yang bersangkutan mulai sadar jika saya itu orang NU. Maka pertanyaan saya tadi tak dijawabnya, iya pura-pura tak mendengar.

 

Terlebih setelah H. Zainal Ilmi, Wakil Ketua PWNU Kalsel, saat sambutan mewakili Ketua PWNU Kalsel (kala itu masih dijabat HA Haris Makkie), tak bisa datang karena jadwal pesawat yang tak linear. Saya dikenalkan sebagai Katib Syuriah PWNU Kalsel, maka orang tersebut nampak tersadar jika teman bicaranya ini adalah masuk elite PWNU Kalsel. Satu hal yang saya bangga dari sambutan Zainal Ilmi ini ketika ia mengajak warga NU di Kotabaru, khususnya yang punya anak atau keluarga yang akan kuliah masuk Universitas NU Kalsel. Orang tadi semakin kikuk, karena dikira NU tak punya perguruan tinggi seperti tuduhannya. Padahal NU sudah punya tak kurang 400 perguruan tinggi, ratusan rumah sakit, dan puluhan ribu pesantren. Bahwa PT milik NU masih harus berjuang, iya. Tetapi dengan tekad dan semangat yang ada, semua PTNU pada saatnya akan kompetetive dengan PT lainnya.

 

Generasi baru NU hari ini, khususnya pasca reformasi 1998, memang mengalami proses transformasi yang luar biasa dahsyat. Pendidikannya tak lagi hanya berbasis pesantren, melainkan sudah beragam, baik dalam mau pun di luar negeri. Bagi generasi NU yang baru, menghadiri undangan seminar internasional, atau bahkan menjadi nara sumber kini sudah biasa. Kemajuan generasi NU baru bahkan sudah melebihi kelompok-kelompok yang terdahulu terdidik di lembaga-lembaga internasional terkemuka.

 

Di tingkat PBNU misalnya, hari ini banyak diisi generasi baru yang terdidik dari manca negara. Ketua PBNU Prof Muhammad Nuh misalnya, mantan Mendikbud RI 2009-2014 itu mendapatkan gelar doktor di Prancis. Lantas Prof Maksum Machfoed, Wakil Ketua Umum PBNU ini Guru Besar UGM. Ada lagi Prof Muhammad Nasir. Mantan Menristek Dikti ini pakar ekonomi akuntansi, lulusan Universiti Sains, Malaysia, dan sebagainya

 

Itu hanya beberapa contoh transformasi generasi baru NU. Era saya studi di UGM tahun 1990-an banyak sekali generasi baru NU yang studi, baik S2 atau S3. Karena andil Gus Dur, sejak tahun 1980-an, tak kurang dari 60-an (kala itu, kkini sudah ribuan) generasi baru NU meneruskan studi S3 di luar negeri, dengan bidang studinya yang sangat beragam.

 

Sementara yang lulusan pesantren, dan meneruskan ke IAIN, atau sekarang UIN. Mereka umumnya meneruskan studi ke Timur Tengah. Entah itu di Mesir, Syria, Maroko, Tunisia, Kuwait, Yaman, Irak, Iran, dan sebagainya. Tentu juga di Arab Saudi, entah di Mekkah atau di Madinah, salah satu di antaranya adalah Ketua Umum PBNU Prof Said Agil Siraj. Ada juga yang studi Islam di Kanada, seperti Prof Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari.

 

Seiring perjalanan waktu, transformasi kader NU baru ini akan terus bermunculan. Jika hari ini misalnya sistem manajemen dan tata kelola NU masih belum sempurna, tentu pada saatnya akan menjadi sempurna. Ini seiring dengan banyaknya kader-kader NU baru selesai studinya. Mereka hari ini sangat happy dengan NU, tidak seperti era Soeharto, di mana banyak generasi NU tak berani mengaku kader NU.

 

Hal yang menggembirakan, hasil survey LSI terakhir, ternyata  tak kurang dari 49 % penduduk Indonesia mengaku bagian dari NU. Sementara ketika ditanya keanggotaan ormas keagamaan lainnya, semuanya di bawah 5 %. Bahkan kelompok yang suka demo berjilid-jilid pun hanya diakui di bawah 2 %.

 

Ini tentu menarik. Kenapa warga Indonesia ini lebih senang dengan NU? Iya, ternyata jawabannya simple. NU itu memberikan harapan, harapan kehidupan yang lebih baik, di dunia atau akhirat. Sesimpel itu ? Saya penasaran. Saya bertanya lagi. Beberapa hal yang jadi penyebab orang suka NU, antaranya : pertama, beragama di NU itu enjoy. Tidak kaku. Kyai-kyai yang sering ngisi pengajian, menyampaikannya sambil santai. Mereka bisa santai, karena Kyai NU belajar Ilmu Mantiq dan Ushul Fiqh. Ilmu Mantiq bahasanya enak, dan Ushul Fiqh memberikan pilihan-pilihan. Faham beragama di NU juga tak kaku. Beda dengan yang lain, umumnya berat. Orang yang beda sedikit saja dengan mereka, pasti dianggap salah semua. Celakanya lagi, jika sudah salah, ndhalalah dan masuk neraka.

 

Kedua, NU memberikan semacam bonus, atau pahala ekstra. NU banyak mengajarkan amalan-amalan. Beragama di NU, selain menjalankan rukun Islam yang wajib (jika mampu), bisa ditambah dengan amalan-amalan lainnya. Seperti membaca Yasin, Sholawat, Zikir, dan sebagainya. Orang-orang miskin tentu tak bisa menyedeqahkan uangnya (wong dia sendiri miskin), namun Kyai NU bisa memberikan jalan lain, yakni memperbanyak amalan. Pahalanya sama, bahkan bisa lebih besar. Keluarga yang wafat juga yakin bisa dibantu, dengan cara didoakan. Nyatanya jika habis baca yasin, atau zikir, pikirannya tenang, walau utangnya belum lunas.

 

Ketiga, ilmu yang didapat di NU sanadnya tersambung dengan Rasulullah SAW, dan tentu juga kepada Allah SWT yang memberikan firman. Dalam NU tak bisa hanya mengandalkan Qur’an dan Hadist, karena tak semua warganya itu ahli, alim, baik itu sebagai mufassir atau muhaddist. Ilmu-ilmu yang diajarkan di NU selalu ada sumbernya. Bahkan manhaj-nya pun luar biasa dikagumi ilmuan dunia. Belajar ilmu melalui Kyai-kyai di pesantren, pedomannya adalah 4 Imam Mazhab, di mana semuanya merupakan ulama besar yang tersambung dengan Sahabat dan Rasulullah SAW.

 

Keempat, NU membiasakan silaturahim. Maka itu di NU banyak sekali event yang membuat insan akan bersilaturahim tanpa sengaja. Mulai dari tradisi akademik seperti Bahtsul Masail, hingga event Lailatul Ijtima’, Semaan al-Qur’an, Istighosyah, Majelis Taklim, hingga MTQ. Perlu diingat, MTQ itu digagas oleh NU, melalui lembaga JQH (Jami’atul Qurra wa al-Hufaz), lembaga milik NU. Jika ada warganya yang wafat pun mereka rame-rame berkumpul, mulai persiapan memandikan mayat, sholat kifayah hingga tehnis pemakaman. Tak hanya itu, malam pertama membaca Yasin, tahlil dan bacaan-bacaan lainnya, hingga pada malam-malam yang ditentukan. Sebagian jamaah NU bahkan ada yang berkenan membaca al-Qur’an 3 hari 3 malam, pasca kematian seseorang. Keluarga mayit pun tentu tak terlalu berduka, karena dihibur oleh bantuan tetangga dan warga NU lainnya.

 

Kelima, menanamkan semangat kebersamaan. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang mendorong umat Islam untuk selalu bersama. Berdirinya NU pada tanggal 16 Rajab 1341 hijriyah tersebut, luar biasa manfaatnya bagi kebersamaan umat. Melalui NU kini berdiri sejumlah fasilitas sosial dan keagamaan lainnya. Melalui NU, syi’ar Islam bisa menembus wilayah terpencil. Entah di Papua, atau pedalaman Kalimantan. Elite PBNU tak harus hadir ke Kalimantan untuk berdakwah, tetapi syiah Islam Ahlussunnah waa-jamaah bias sampai ke wilayah mereka. Karena dilakukan elite NU lokal. Karena suasana kebersamaan itulah, maka NU punya banyak mesjid, musholla, sekolah, pesantren, rumah sakit, dan sebagainya.

 

Keenam, membangun semangat kemandirian. Pada awalnya NU itu sangat mandiri. Pengurusnya tulus, ikhlas dan istiqomah. Sejak berdiri 1926, pejuang NU tak segan-segan mengeluarkan kocek mereka sendiri. Jika hari ini ada pergeseran, tentu harus dikembalikan. Semangat kemandirian NU ini kembali berhasil, ketika PBNU mengumpulkan koin NU. Melalui koin inilah uang terkumpul sudah mencapai puluhan miliar. Ini juga yang harus diupdate, agar semangat itu merata dan terdistribusi dengan baik. Secara perlahan, aktivis-aktivis NU yang suka minta uang transport, kita harapkan bisa di”pensiun”kan.

 

Ketujuh. NU banyak mengajarkan doktrin kebajikan, amar makruf nahi munkar. Tugasnya, membasmi egoisme, dan merasa benar sendiri. NU juga harus peduli pada kelompok tertindas dan minoritas. Sikap-sikap kemasyarakatan di lingkungan NU seperti sikap thawasuth, tasamuh, tawazun, ‘adalah dan amar makruf nahi munkar selalu digelorakan, dalam proporsi yang tidak berlebihan. Spiritnya adalah untuk kebajikan, untuk keumatan. Di saat wabah Covid-19 yang melanda negeri ini, rame-rame warga dan aktivis NU melakukan guidance untuk umat. Hebatnya, kaum profesional seperti dokter dan dosen, dengan beragam disiplin ilmu, sangat besar hasratnya membantu umat melalui NU.

 

Begitulah ber-NU, sekaligus menjadi warga NU. Kaum profesional, terdidik, dan kelompok masyarakat mana saja, tak salah jika akhirnya memilih bergabung dengan NU. NU terbuka lebar pada siapa saja. Ini terjadi karena NU mengakui 4 Imam Mazhab. Karena itu di NU akan ada “rasa” Wahaby selain ada yang “rasa” Syi’i. NU berlatar belakang PMII sangat banyak, berlatar HMI ada, bahkan IMM sekali pun. Bagaimana implementasinya di lapangan, boleh diadakan penelitian. Hari ini, NU Sumatera dan Sulawesi, lebih didominasi kader HMI. Sedang NU di Jawa dan Kalimantan, lebih didominasi kader PMII. Namun disela-sela itu, ada juga anak-anak IMM dan kelompok-kelompok sosial, bahkan elemen-elemen sekuler lainnya. Untuk itu, saatnya mengerti NU, bahkan saatnya pula bergabung dengan NU. Biar tak salah faham tentang NU.

 

NU dewasa ini jauh berbeda dengan NU era rezim orde baru. Selama 32 tahun Soeharto berkuasa, selama itu pula NU ter”tekan”. Banyak pengurusnya harus berhenti sebagai PNS, karena kedholiman kala itu. Kini pasca reformasi, NU dapat angin segar. Pengurusnya tak lagi tertekan seperti dulu, melainkan sudah jadi rebutan. Sejumlah pejabat pemerintah yang dulu takut ngaku NU, kini ramai-ramai mengaku dan berkiprah di NU. Jika dulu aktivitas NU umumnya di pesantren, kini dilakukan di hotel-hotel berbintang. Kesabaran umat NU menghadapi pendholiman era orde baru, kini sudah dirasakan hikmahnya. Berkaryalah dengan tulus dan ikhlas, meski masih ada yang masih nyinyir pada NU. Dengan sabar, insya Allah NU akan semakin mendunia, juga berpahala. Amiin … !!!

 

*) Syarbani Haira, Ketua Tanfidziah PWNU Kalsel 2007-2017, Dosen Senior dan Ketua Dewan Syuro Mesjid As-Su’ada, Universitas NU Kalsel.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *