JPU Bleng, Penasehat Hukum Terdakwa Kasus Pembunuhan A. Mappesona Mengajukan Keberatan / Eksepsi

  • Whatsapp

Bone, infobanua.co.id – Sidang pembacaan dakwaan kasus pembunuhan yang terjadi di desa pasaka kec.kahu dengan tersangka bernama andi mappesonadan korban bernama Bahtiar binti ecce lappe dalam perkara persoalan tanah di gelar di pengadilan negri (PN) Watampone baru baru ini tepatnya , Jum’at (25/6/2021) menimbulkan tanda tanya

Hal itu dikarenakan saat pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Faisa SH.MH terkesan tidak biasanya terjadi, sebab dimana tindak pidana yang didakwakan dengan menyebut lokus dan tempat kejadian serta waktu terjadinya tindak pidana yang dilakukan yang didakwakan kepada terdakwa pidana bertentangan

Dalam surat dakwaan Penuntut Umum menyebutkan / menguraikan awal dan tanggal itu 3 Desember 2020 dilingkungan tippulue kelurahan Toro kec. Tanete R. Timur lokusdelikti/ tempat pidana korban bernama Bahtiar binti ecce lappe , kemudian berikutnya JPU juga menyebutkan waktu kejadiannya hari Senin 25 Januari 2021 terjadinya di desa pasaka kec. Kahu kajuara karean ada hubungan lokusdelikti tempat , sehingga dia di bawa ke kajuara

Mendengar pembacaan dakwaan JPU terhadap terdakwa (a. Mappesona) Penasehat Hukum terdakwa langsung mengajukan keberatan /eksepsi yang mempersoalkan surat dakwaan.penuntut umum yang di susun tidak secara cermat, jelas dan lengkap, Majelis Hakim PN Bone setelah memeriksanya ternyata benar akhirnya keberatan./eksepsi penasehat hukum terdakwa diterima karena surat dakwaan PU tidak memenuhi syarat materil sebagaimana diatur dalam ketentuan pasal 143 ayat 2 Hurup B
Membuat Majelis Hakim mengeluarkan “Putusan Sela” yang dinyatakan Batal Demi Hukum

JPU saat di konfirmasi terkait pembacaan dakwaannya di batalkan Ironisnya dengan santainya mengatakan ” Namanya manusia tak luput dari kesalahan, begitulah kalau banyak yang di pikir dan itu kadang terjadi, padahal saya sudah baca berulang ulang bahkan mengoreksinya,begitupmi kalau banyak dipikir sehingga blengk ucap Faisa

Melihat kejadian tersebut majelis hakim Khaeruddin Tomo SH.MH yang juga merupakan juru bicara PN Watampone saat ditemui di PN Watampone mengatakan bahwa surat dakwaan seperti itu dalam putusan pengadilan menyatakan, dakwaan yang di susun dengan pencantuman lokusdelikti yang saling bertentangan bisa menimbulkan dakwaan itu kabur , kalau di lihat dari surat dakwaan yang di bacakan JPU seolah olah korban masih hidup lalu tersangka melakukan lagi , yang harus dibuktikan yang mana , kapan kejadiaanya dan dimana lokus tempat kejadian tindak pidana itu makanya dalam perkara dengan register 115/PI/B- 2021 tidak memenuhi syarat materil menyebabkan konsikwensi terdakwa tidak dapat diperiksa lebih lanjut atau dituntut dengan surat dakwaan yang batal demi hukum

Meski begitu terdakwa tetap akan diadili dengan perkara baru setelah jaksa penuntut perbaiki kemudian mengajukan kembali dengan perkara baru , surat dakwaan yang baru yang telah dilimpahkan dengan no.register 141/PIB.B/2021/PN.WPP dan tetap akan di adili . (A.Ida)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *