Akses Jalannya Di tutup Camat Beserta Muspika Berupaya Mediasi Warga Buka Jalan Satu Arah

  • Whatsapp

Bone, infobanua.co.id – Salah seorang warga yang bermukim di jalan manggis kelurahan jeppe’e kecamatan Tanete Riattang Barat kab. Bone bernama Dhany merasa tersolimi oleh warga setempat karena akses jalan yang sehari harinya di lewati menuju rumahnya dipalang dengan sebatang bambu melintang panjang sehingga kendaraan roda empatnya tidak bisa lewat menuju rumahnya

Awalanya Penutupan jalan sebenarnya sangat diapresiasi baik Kelurahan yang memberikan kesempatan kepada warganya maupun Dhani atas swadaya warga tersebut disebabkan adanya perbaikan Decker yang menghubungkan jalan Ahmad Yani dan Jl Manggis maupun rumah Dhani walaupun begitu masih bisa mencapai rumah paling belakang Jalan Manggis dari arah Jl. Langsat, karena akibat egoisme sejumlah warga yang juga tetangga dan keluarga dari istri Dhany sendiri
Sehingga ada pula pembuatan polisi tidur dua bagian dijalan manggis sehingga mengharuskan warga menutup juga dari jalan Langsat sampai batas pembuatan polisi tidur

Sejumlah pihak utamanya Camat Tanete Riattang Barat, Danramil, Babinsa Kelurahan Jeppe’E dan Kepala Kelurahan sudah berupaya mencari solusi terkait akses jalan sejak 2 Juli 2021 langsung warga dimediasi yang di soal.

Setelah memasuki hari kelima pihak Dhani mencoba konfirmasi tentang kekuatan polisi tidur ke pihak Dinas Pekerjaan Umum dalam hal ini Bagian Sarana dan Pemeliharaan Jalan dan diperoleh informasi oleh Salah seorang staf jika Beton untuk akses jalan Decker secara utuh rentang waktu 28 hari tetapi jika hanya jalan untuk landasan naik atau turunnya Decker cukup 10 hari sedangkan untuk Polisi Tidur cukup tiga hari itupun sebetulnya harus ada legalitas dari Dinas Perhubungan.

Mendapatkan jawaban tersebut Dhani meminta penjelasan Dinas Perhubungan bertemu langsung Kepala Bidang lalulintas dan angkutan darat Sutardi Hadisaputra SE sembari menunjuk pasal tentang jalan

Sedangkan tentang pembuatan Polisi tidur atau Speed hump berdasar Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 82 Tahun 2018 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Jalan di Pasal 1 point’ (2) kemudian untuk pengadaannya warga meminta ke kelurahan atau Desa yang diteruskan ke Dinas Perhubungan yang selanjutnya berkoordinasi ke Dinas Pekerjaan Umum namun Taddi sapaan akrabnya mengatakan bahwa pemerintah tetap memberikan kebijakan selama bisa diyakini tidak terjadi sesuatu hal yang menimpa pengguna jalan.

Mendapatkan informasi tersebut Dhani hanya merespon tentang waktu Speed Hump bisa dilewati atas penjelasan Dinas Terkait tentang jangka waktu kekuatan Speed Hump untuk bisa dilewati apalagi untuk kendaraan roda dua maupun kendaraan minibus. Artinya penutupan jalan dari arah jl Langsat bisa digeser ke arah jl Ahmad Yani agar akses keluar masuk salah satu warga yang perlu melindungi kendaraan milik orang bisa juga tercapai.

Awalnya salah seorang warga status PNS di BKKBN memberikan kesempatan membuka akses jalan dan mengatakan bahwa jalan yang menghubungkan Ahmad Yani dan Manggis juga sudah bisa untuk motor dan mobil minibus namun setelah salah seorang warga dari Makassar datang ditutup kembali justru berupa perkataannya setelah Camat dan Muspika datang meninjau langsung di lokasi.

Sementara itu pula warga yang bekerja sebagai Tim medis juga tidak fair dalam menceritakan kepada muspika bahwa boleh dibuka dibuka tutup malahan sok omong “saya bantu kalau tidak kuat tarik atau angkat bambunya” namun kenyataannya saat mau parkir kenapa tidak teriak silahkan buka saja dan saya bantu kalau tidak sanggup.

Namun akhirnya keluarga Dhani istri dan anaknya meminta tidak usah digubris lagi jika begitu kehendak warga yang mayoritas menginginkan ditutup jalan, sehingga mobil parkir di halaman Kantor Dispeka sekitar 50 meter dari kediaman Dhani.

ril

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *