Camat Mantangai  Tinjau Langsung Tempat Terjadinya Kecelakaan Kerja Di PT. MPP

  • Whatsapp

 

Kuala Kapuas, Infobanua.co.id – Pasca terjadinya kecelakaan kerja di PT. Mineral Palangkaraya Prima (MPP) pada selasa (13/07/21)/saat melakukan kegiatan penambangan pasir kuarsa di desa Lahei Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah yang mengakibatkan satu orang pekerja lokal warga desa Lahei bernama Ahmad Albar (20) meninggal dunia dan tiga WNA asal China masing-masing Yan Hanxuan, Feng Quankun dan Chen Bibo harus menjalani perawatan di salah satu Rumah Sakit di Palangkaraya karena mengalami luka-luka dan bahkan satu diantaranya dikatakan mengalami cidera serius.

Seperti di ketahui, setelah insiden tersebut ada fakta mengejutkan dimana Tenaga kerja Asing tersebut kuat di duga sebagai Tenaga Kerja Asing (TKA) Ilegal. Hal ini di kuatkan pernyataan Kepala Dinas Tenga Kerja Kabupaten Kapuas Raison kepada wartawan.

“” Update data Disnaker Kapuas per Juli 2021 hanya ada 23 WNA dari 8 Perusahaan yang memiliki ijin kerja di wilayah Kabupaten Kapuas, sedangkan PT. MPP dan Tenaga Kerja Asing nya belum ada melaporkan keberadaannya ke Disnaker Kapuas. “Tegas Raison”

Camat Mantangai Yubderi, SPd, MA, juga mengatakan hal yang sama. Ia bahkan merasa kecolongan karena baru tahu keberadaan PT. MPP ini justru setelah insiden maut tersebut. Ia juga sangat kaget setelah mendengar adanya puluhan WNA yang bekerja di perusahaan ini.

Meski di hari libur, hari ini Sabtu (17/07/21), Camat Mantangai Yubderi melakukan peninjauan langsung ke PT. MPP, namun tidak satu orang pun dari Manajemen PT. MPP berada di tempat selain pekerja lokal, Herwin yang mengaku sebagai humas, namun pengakuannya tidak berada di tempat saat insiden kecelakaan kerja tersebut terjadi karena sedang cuti.

Yubderi minta agar Herwin menyampaikan pada manejemen agar perusahaan ini lebih membuka dirinya dengan melaporkan keberadaannya, kegiatannya dan Tenaga kerjanya ke Kecamatan bahkan juga ke Kepala desa.

“Yang tak kalah penting adalah Pihak Perusahaan harus memberikan perlindungan kepada tenaga kerjanya dengan asuransi Tenaga Kerja atau Jamsostek. ” Tegas Yubderi”

Di kesempatan yang sama, ketika dibincangi Infobanua.co.id – Herman mengatakan ada sekitar 10 tenaga kerja asal China di PT. MPP yang kesenuanya tidak bisa berbahasa Indonesia, namun ia mengaku saat ini tidak tau keberadaannya sejak adanya kecelakaan kerja.

Di samping itu, sejumlah pertanyaan yang di ajukan kepadanya termasuk luasan areal, jumlah karyawan dan bahkan alamat kantor di Palangkaraya pun Herwin “mengaku Humas”  mengaku tidak tahu.

[Nasution]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *