infobanua.co.id
Beranda Blitar Diduga Tidak Komitmen, Warga Cegat Ratusan Truk Tebu, Menuju Pabrik Gula RMI Kab.Blitar

Diduga Tidak Komitmen, Warga Cegat Ratusan Truk Tebu, Menuju Pabrik Gula RMI Kab.Blitar

Blitar, Infobanua.co.id – Diduga Pabrik Gula Rejoso Manis Renggo (RMI) melanggar komitmen yang dibuat sebelum musim giling tiba, maka warga disekitar pabrik mencegat ratusan truk Tebu yang menuju ke pabrik, Senin 30-08-2021.

Kemacetan truk terjadi mulai dari kawasan Hutan Jati wilayah Brongkos, keselatan hingga sekitar 500 Meter memasuki pabrik di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar.

Salah satu warga di Desa Rejoso, yang enggan disebut namanya mengatakan, jika kemacetan tersebut mulai tampak pada hari Minggu 29 Agustus 2021 malam dan bertambah parah menjelang Senin dini hari.

Akibatnya pagi ini aktivitas warga sekitar terganggu karena tidak bisa keluar rumah dengan menggunakan kendaraan, menuju ketempat kerjanya.

Bahkan sepeda motor saja tidak dapat mencari celah untuk melaju di jalanan yang kondisinya rusak tersebut.

“Mau naik sepeda motor saja tidak bisa, padahal kami mau kerja. Sebenarnya kami tidak menghalangi truk masuk pabrik. Kami hanya minta, truk-truk itu diatur dahulu, sebagaimana komitmen pabrik sebelum musim giling tahun ini,” katanya.

Selanjutnya dia menunjukkan surat pernyataan yang dibuat oleh PT RMI bernomor 003/RMI/site/VI/2021, tentang operasional penggilingan Tebu di PT RMI.

Surat tertanggal 14 Juni 2021 tersebut pada nomor 02 point a tertulis, pabrik bersedia melaksanakan seluruh rekomendasi dan kewajiban dokumen Andalalin, seperti yang tertuang dalam surat pernyataan nomor 120/RMI/XI tertanggal 09 November 2017.

Antara lain, membatasi jumlah kendaraan agar tidak melebihi kapasitas maksimum jalan.

Dan tidak menggunakan badan atau bahu jalan untuk parkir selama menunggu antrian masuk ke areal pabrik.

“Pabrik telah berjanji, jika Truk Fuso tidak boleh masuk. Dan parkir truk juga diatur. Sehingga tidak membuat kemacetan, jadi pabrik bisa jalan, kami warga juga bisa jalan,” jlentrehnya.

Lebih dalam dia menuturkan, jika pabrik saja yang jalan, sedang warga dipaksa untuk diam tidak bisa ke mana-mana. Untuk itu mereka minta agar truk diatur dahulu biar sama-sama dapat jalan.

“Jika kondisi seperti ini, pabrik saja yang jalan, sedang kami warga tidak bisa keluar, untuk itu truk diatur lebih dahulu, sehingga biar sama-sama jalan,” pungkasnya. (Eko.B) 

Bagikan:

Iklan