Oleh: Pribakti B 

 

 Kita hidup di zaman yang mungkin tak bisa kita pahami dengan baik justru karena ulah kita sendiri. Kita , umat manusia, telah menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengubah dunia dalam sekejap. Teknologi informasi, media, dengan mudah mengubah manusia yang kemarin sore bukan apa-apa dan bukan siapa – siapa,  pagi ini menjadi orang ternama. Media – tentu saja termasuk media sosial – berhasil menciptakan ustad, filsuf, ahli motivasi dan pemimpin masyarakat.

 

Ustad bikinan televisi kita berkhotbah untuk menyakinkan umat bahwa agama itu mudah. Filsuf mengajari pemirsa program televisinya tentang rahasia hidup bahagia dengan cara begitu mudah dan sederhana, dan pemirsa  menjadi tergila-gila. Ahli motivasi berbicara dengan fasih mengenai rahasia sukses dalam hidup,  dalam politik dan dalam bisnis.  Dan pemimpin masyarakat? Ini lebih mudah. Media cukup mengatakan bahwa dia jenis manusia istimewa. Cukup wajahnya dipotret dan disuruh nyengir. Jadilah sudah. Dia telah menjadi seperti yang diingini , kemudian ditulis dan di upload di media sosial . Pokoknya tidak diperlukan lagi proses apapun. Ini hanya sejenis kun fa yakun massa kini. Dan para pembacapun tersihir oleh pesona yang mengerikan itu.

 

Ustad, filsuf, motivator dan pemimpin masyarakat pun diciptakan oleh media kita dengan proses yang mungkin serupa. Mereka hanya muncul, ngomong sedikit – termasuk menguraikan hal yang tak diketahuinya dengan baik dan beres. Dia telah terkenal di muka bumi. Media , membuat orang  untuk cukup diam tak mengerjakan apa-apa, tak memiliki komitmen apapun, tapi pemimpin masyarakat bisa dibikin terkenal tanpa tandingan.

 

Persoalannya, di dalam situasi seperti sekarang ini, masih mungkinkah kita mencari kebenaran mengenai sosok pemimpin yang tak terkontaminasi media? Masih mungkinkah sekarang kita menemukan contoh seorang calon pemimpin yang tak dipoles-poles secara manipulatf oleh kepentingan politik-ekonomi media? Dengan kata lain, masih mungkinkah kita mencari pemimpin sejati di dalam masyarakat yang secara kebangetan memuliakan duit, popularitas , dan kemuliaan citra, tanpa mempedulikan kenyataan bahwa semuanya itu hanya kecanggihan menata kebohongan?

 

Pendek kata, di dalam abad teknologi imformasi ini, ilmu pengetahuan dan teknologilah yang harus maju. Tetapi manusia ironisnya, tak harus begitu. Manusia cukup plonga plongo apa adanya, agak culun sedikit juga boleh karena  ilmu pengetahuan serta teknologi bakal menutupi dengan sempurna segenap kekurangannya. Ilmu pengetahuan dan teknologilah yang maju menjadi joki, menggantikan peran kemanusiaan , atau peran orang yang disebut pemimpin tadi, untuk  tampil meyakinkan .

 

Bahkan kewibawaan politikpun juga bisa dibuat. Orang biasa bisa dibuat berpengaruh luas berkat teknologi komunikasi yang canggih. Tampaknya kita sudah biasa melakukan suatu rekayasa teknologi. Kata “rekayasa” menggambarkan sebuah usaha mengubah apa yang tak layak menjadi layak dan yang tak memenuhi standar menjadi memenuhi standar. Dengan begitu jelas bahwa rekayasa itu sebuah kepalsuan yang diterima oleh khalayak sebagai kebenaran. Dalam rekayasa itu pula unsur pengalaman diabaikan. Padahal kita tahu pengalaman itu penting agar seorang calon pemimpin, artinya pemimpin  tidak tampil dengan bekal kosong melompong.

Tapi  dalam negara demokratis , tentu saja semua orang boleh nekat maju ke gelanggang pencalonan walau tanpa pengalaman apa pun. Jika ditelusuri, memang rentang pengalaman buruk seharusnya dilupakan saja. Tapi karena ada pendukung yang juga mabuk, maka majulah calon pemimpin tersebut dengan kenekatan yang sukar untuk kita pahami. Rupanya , dia juga sedang mabuk. Mabuk tuak, bir dan anggur itu namanya mabuk. Mabuk kekuasaan pun kurang lebih serupa.  Cuma mabuk kekuasaan jauh lebih hebat lagi pengaruh kejiwaannya. Dan dalam era reformasi ini, elit politik kita , terutama sebagian besar para pemburu kekuasaan, kelihatannya juga sedang mabuk. Buktinya banyak orang agak gelap mata dan mudah berbuat nekat untuk mencalonkan diri dalam perebutan jabatan ini itu tanpa memiliki ukuran kepantasan.

Karena itu kata “sejati ” pada tulisan ini, jangan diartikan seperti makna guru sejati di dalam dunia ilmu makrifat, ilmu batin yang niscaya terlalu tinggi dan mungkin sudah tidak ada lagi.  Sebab menjadi seorang pemimpin  di bukan zaman normal, zaman yang penuh kesintingan, ambisi dan keserakahan, kira-kira hanya sejumlah manusia yang tak tergoda untuk turut menjadi serakah, tak terlalu ambisius, dan tidak sinting memandang jabatan sebagai segalanya.

 

Yang penting untuk diingat,  pemimpin sejati  adalah seorang pemimpin yang tampil apa adanya dengan segenap komitmen sosial politik yang jernih. Dia memimpin orang banyak demi panggilan hari nurani yang dilengkapkan kemampuan teknis yang lebih dari sekedar memadai. Dan kekuasaannya tak bakal dipakai buat kekuasaan diri sendiri, buat golongannya sendiri, melainkan buat menata kehidupan bangsanya yang adil, manusiawi dan tentu saja demokratis. Tidak ada ambisi pribadi yang berlebihan. Tidak muncul pamrih-pamrih pribadi untuk terlalu memuliakan diri sendiri. Dia memimpin untuk memimpin, untuk membuat dunia yang penuh ketidakadilan ini menjadi lebih adil. Menurut Anda, bagaimana?

Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *