Cianjur, infobanua.co.id – Bangunan rumah di lahan relokasi bagi korban terdampak gempa bermagnitudo 5,6 di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berkonsep tahan gempa. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terus melakukan upaya percepatan pembangunannya.

Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR, Iwan Suprijanto, menjelaskan salah satu lahan relokasi yang disiapkan bagi warga terdampak gempa berada di Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku. Lahannya seluas lebih kurang 2,5 hektare dengan kapasitas daya tampung sebanyak 200 unit,berukuran 60 meter persegi dengan type bangunan type 36.

“Di lokasi tersebut akan dibangun rumah tahan gempa. Pilihannya Risha (Rumah Instans Sederhana Sehat). Dalam manajemen kebencanaan yang kami lakukan, kami sudah menyiapkan stok Risha. Ini sudah kita mobilisasi,” kata Iwan di Pendopo Bupati Cianjur, Kamis (01/12/2022).

Saat ini sudah tersedia sebanyak 25 unit Risha. Iwan mengatakan pada Kamis (1/12) atas izin Menteri PUPR, akan dilakukan ground breaking di lahan relokasi.

“Makanya kami koordinasi dengan pimpinan daerah karena kami akan mulai pembangunannya. Ketika bapak Presiden yang insya Allah datang pada Senin (5/12), dua rumah insya Allah sudah bisa berdiri,” tuturnya.

Iwan memastikan lahan relokasi di Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku sudah dinyatakan aman. Kepastian itu setelah dilakukannya berbagai kajian dari berbagai elemen.

“Sejak Minggu (27/11) lalu kami sudah berkoordinasi dengan pak Bupati untuk menentukan satu titik lahan relokasi,” ucapnya.

Lahannya berada di Desa Sirnagalih Kecamatan Cilaku sebagai lokasi yang diverifikasi bersama BMKG untuk memetakan titik berada di zona aman atau tidak berada pada sesar episentrum gempa. Koordinasi juga dilakukan dengan Badan Geologi untuk mengkaji kondisi tanah, batuan, dan sebagainya sehingga dipastikan aman digunakan pembangunan perumahan.

“Kemudian dari pemerintah daerah sendiri memastikan lokasi zona aman untuk lahan perumahan. Sedangkan dari Kementerian PUPR sebagai entitas yang akan membangun, memastikan ketersediaan air, listrik, akses, dan kemungkinan bisa membangun secara cepat. Dari kaji cepat dan verifikasi di lapangan diputuskan dibuat berita acara bahwa lokasi clear and clean untuk siap dibangun. Pak Bupati sudah menetapkan SK penetapan lokasi,” terangnya.

Kementerian PUPR sudah menyiapkan penyedia jasa untuk melaksanakan pekerjaan di lahan relokasi. Hal itu sesuai Peraturan Kepala LKPP Nomor 13/2018 terkait penanganan bencana.

“Tahapan pertama yang dilakukan dari kemaren adalah pengukuran. Kemarin sudah 75%. Hari ini (Kamis) insya Allah pengukuran lahan sudah selesai. Kemudian land clearing kemarin sudah 25% sudah dilakukan. Insya Allah paling lambat hari ini (Kamis) atau besok (Jumat), lahan juga sudah siap,” tegas Iwan.

Langkah yang dilakukan Kementerian PUPR merupakan upaya reaksi cepat dalam proses pemulihan. Selain itu diharapkan juga bisa memberikan efek psikologis bagi para penyintas.

“Teman-teman menghitung, 200 unit bisa diselesaikan dalam waktu dua bulan. Saya coba lakukan lebih cepat lagi. Pengalaman di Lumajang, itu dua ribu unit bisa diselesaikan dua bulan. Kami ingin percepatan karena kemaren kita lihat ada pengungsi yang meninggal karena kedinginan,” katanya.

Prioritas yang nanti menempati lahan relokasi adalah warga yang kondisi rumahnya rusak berat serta berada di lokasi zona merah. Bagi Iwan, relokasi menjadi momentum menata ruang kembali serta meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak menempati kawasan permukiman di zona rawan.

“Lahan relokasi di Desa Sirnagalih itu sangat premium karena berada di lokasi yang strategis. Dekat dengan terminal dan mata pencaharian pun bisa dilakukan di sana. Memang, relokasi itu bukan hanya memindahkan orang, tapi juga kehidupannya,” pungkasnya.

Hasbi (Abi)

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *