Oleh: Wahyu Dwi Pambagyo

 

Kita hidup di dunia yang semakin hari terus berkembang secara cepat. Hal yang kita gunakan saat ini merupakan sebuah hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, adanya perbedaan serta waktu bukanlah menjadi kendala. Jika dahulu kita menggunakan sebuah teknologi yang dapat mendengar suara orang secara terpisah dengan menggunakan jarak dan waktu, dengan adanya globalisasi yang semakin cepat mengantarkan kita kepada untuk dapat menerima sebuah gambaran visual selain adanya audio. Secara pemikiran yang kita miliki, kita tidak dapat memprediksi teknologi yang akan terjadi dalam kurun waktu lima puluh tahun atau juga bisa seratus tahun yang akan datang.

Hal ini merupakan salah satu contoh dari adanya sebuah perkembangan teknologi yang dapat kita nikmati sekarang, dan jika diperkirakan masih banyak lagi dari dampak dari perkembangan globalisasi saat ini.

Perkembangan Revolusi Industri ditandai dengan adanya Revolusi 1.0, dimana revolusi ini dimulai pada mekanisme produk yang memanfaatkan energi air serta uap, dalam hal tenaga manusia dan hewan digantikan dengan adanya kemunculan mesin uap tersebut yang dapat memudahkan dalam hal produksi, dengan begitu negara-negara memanfaatkan dan memberikan dampak yang signifikan pada perekonomian mereka yang semakin meningkat.

Era industri selanjutnya bergerak pada Revolusi Industri era 2.0, pada masa ini produktivitas secara berkala mengalami perkembangan yang berkaitan pada efektivitas serta adanya efisiensi manufaktur, pada era ini berbicara mengenai bagaimana menghasilkan produk dalam jumlah besar dengan menggunakan biaya yang lebih kecil serta waktu yang lebih sedikit.

Era industri selanjutnya berpindah kepada era revolusi industri 3.0, pada era ini ditemukan sebuah chip elektronik serta adanya komputasi di tahun 1969, era revolusi industri 3.0 berfokus pada kegiatan manufaktur yang menggunakan mesin dalam produksi hal, hal tersebut mengalami perkembangan yang berkaitan dengan kemampuan manusia dalam menganalisa, monitoring serta beberapa kegiatan yang lainya digunakan secara digital.

Dan kita masuk pada revolusi industri 4.0 yang dimana hal tersebut kita rasakan dampak besarnya, yaitu dengan menghubungkan hal yang bersifat manufaktur yang dioperasionalkan dengan menggunakan komputer serta internet, kedua hal tersebut merupakan faktor utama dalam perkembangan kemajuan yang berbasis manufaktur pada masa sekarang dan akan terus berkembang dimasa yang akan datang.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang menerapkan revolusi industri 4.0 seperti kebanyakan negara-negara di dunia, akan tetapi pada kenyataannya Indonesia merupakan negara yang menduduki peringkat bawah dalam menyikapi persoalan revolusi industri 4.0 tersebut, hal tersebut tercantum dalam survei yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2018, mengapa hal tersebut terjadi karena adanya 2 faktor besar yaitu faktor internal (manusia) dan faktor eksternal (pemerintah). kedua hal tersebut yang menjadikan negara Indonesia lambat dalam menerapkan revolusi industri 4.0.

Faktor yang pertama yakni yang datangnya dari kita sendiri atau disebut internal, dalam kehidupan sehari-harinya, sebagian elemen masyarakat masih berada dalam bagian revolusi industri pertama, kedua, serta ketiga. Semua masyarakat mengharapkan untuk dapat ikut serta dalam sebuah perubahan dengan menjalankan revolusi 4.0, tetapi jika kita lihat dalam sektor pertanian saja, kebanyakan petani masih menggunakan cangkul untuk meratakan sawah mereka.

Dalam bidang industri di Indonesia, masih banyak menerapkan teknologi lama yaitu dengan menggunakan mesin uap, pekerjaan manufaktur dengan listrik serta adanya komputerisasi. Dalam bidang teknologi dan informasi, masyarakat indonesia terbilang masih belum banyak orang dapat mengoperasionalkannya untuk dapat memudahkan pekerjaan.

Dengan melihat banyaknya kendala yang datang dari faktor internal tersebut dapat disimpulkan bahwasanya SDM (sumber daya manusia) yang berada di Indonesia tergolong rendah dan tidak merata dengan orang yang memiliki kemampuan lebih.

Faktor yang kedua yaitu faktor eksternal yang datang dari pemerintah, dalam hal ini kita dapat melihat peraturan ataupun kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sering tidak sesuai dengan perkembangan industri 4.0, yang disebabkan oleh perubahan yang sangat cepat dan berdampak pada perubahan teknologi dan sosial, maka daripada itu sebuah hal yang keliru untuk dapat memastikan hasil yang tepat, apabila kita hanya mengharapkan legislasi serta regulasi yang dibuat oleh pemerintah, kita dapat menilai bahwasanya pemerintah belum siap dengan revolusi industri 4.0 dan pemerintah kita dihadapkan dengan sumber daya manusia di Indonesia yang masih belum merata.

Kita dapat melihat pada infrastruktur di Indonesia yang masih tergolong belum memadai dengan adanya platform digital yang dapat dikatakan belum optimal, contohnya pada teknologi seluler yang ada di Indonesia yang masih menggunakan 4G serta adanya ketidaksiapan pemerintah untuk merubah ke pada jaringan 5G.

Kedua faktor tersebut merupakan faktor yang menjadikan Indonesia lambat dalam menyikapi revolusi Industri 4.0, maka daripada itu diharapkan untuk Indonesia dapat menghadapi perkembangan dan mampu bersaing dengan negara lain, kita mengharapkan Indonesia mempu dapat berkembang dan tidak hanya menjadi target dari pasar, yang kita harapkan dapat menjadi sebuah pemain industri 4.0 yang dapat terlibat langsung dalam menghasilkan sebuah produk baik jasa maupun barang yang dapat dirasakan secara masif dan yang terpenting untuk dapat meningkatkan perekonomian bangsa yang menuju kesejahteraan dan hal tersebut didukung dengan regulasi pemerintah yang jelas dan terfokus pada menciptakan sebuah solusi yang digunakan untuk membantu menerapkan revolusi industri di seluruh elemen masyarakat Indonesia.

Mahasiswa : Hubungan Internasional. Universitas Muhammadiyah Malang

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *