Oleh: Pribakti B

 

Potret Indonesia hari ini tidak didominasi jiwa-jiwa mulia; melainkan jiwa-jiwa tercela, penuh prasangka, amarah, kebencian dan fitnah. Panggung politik bukan lagi sebagai arena untuk kebaikan bersama, melainkan kisah penaklukan bagi mereka yang haus kuasa. Korupsi yang merajalela, saling sikut dan saling mencerca jadi santapan getir sehari-hari . Banyak politikus menjalani hidup memilih asal beda , dengan suara-suara sumbang. Merasa paling membela rakyat meski publik sudah tahu semuanya karena ambisi kekuasaan. Jiwa-jiwa tercela akan membenamkan Indonesia ke dasar samudra terdalam.

 

Dalam keadaan bangsa ruwet begini, aku tetap berharap Indonesiaku juga Indonesiamu. Memang belum sangat jelas apakah Indonesiaku sama dengan Indonesiamu. Namun yang pasti, Indonesiaku adalah hasil sebuah dialog dan negosiasi politik yang lama, melelahkan, menyita kesabaran dan membutuhkan toleransi terhadap semua kemungkinan aspirasi yang bermunculan dari sana-sini. Tiap aspirasi harus diakomodasi dengan baik di dalam dan oleh semangat multikulturalisme yang tak henti-hentinya kita bangun.

 

Indonesiaku bukan hanya milikku, melainkan juga Indonesiamu, milikmu. Indonesiaku pelan-pelan kita dirikan diatas impian-impian dan aspirasi kultural yang sangat beragam, penuh variasi, nuansa dan membuat kita kaya bagaikan taman bunga yang semarak dan harum dalam benak, dalam alam ideal kita. Indonesiaku bukanlah sebutir kelereng , yang padat dan jelas sosoknya. Dengan akal pikiran aku bisa membayangkan bagaimana kira-kira rumusan politiknya. Namun , aku belum bisa merasakannya dengan hati dan jiwaku karena rumusan akal boleh jadi hanya bersifat teknis-politis dan itupun bukan mustahil ada unsur akal-akalan di dalamnya.

 

Selebihnya, konsensus politik sering tidak tulus mengabdi untuk kepentingan bersama. Di politik , kecerdasan dan kewarasan seakan kehilangan kapling. Narasi indah di politik rasanya cuma dalam text book saja. Tontonan terbanyak adalah sikap-sikap reaktif, asbun (asala bunyi) , suka menuding, selalu merasa paling benar. Dalam tradisi kenegaraan kita – politik sering hanya berarti tipu muslihat untuk meraih kemenangan jangka pendek dan tak peduli terhadap pentingnya membangun keadilan semesta alam bagai segenap warga negara dan manusia-manusia yang hidup di dalamnya.

 

Kerja politik sering agak sedikit dungu karena merasa sudah puas melihat hasil berupa terciptanya sosok besar sebuah struktur yang bagus wujudnya, Tetapi kering dan kosong tanpa jiwa. Padahal , yang kita rindukan  dan hendak kita wujudkan ialah jiwa keindonesiaan untuk memberi makna lebih riil terhadap pengertian “ adil dan beradab” bagi semua kalangan. Makna nyata itu juga , dan terutama berlaku bagi mereka yang selama ini tertindas oleh birokrat, pedagang dan para politisi busuk yang telah menggadaikan jiwa mereka kepada semua setan yang membunuh kemanusiaan. Dalam era yang konon penuh semangat perjuangan untuk rakyat banyak ini, masih terjadi wakitl rakyat terlibat suap dan korupsi; birokrat yang sewenang-wenang dan lebih pro pemilik modal daripada pro rakyat; rakyat kecil dibiarkan sendirian menghadapi ganasnya pemburu keuntungan.

 

Indonesiaku merupakan hasil sebuah kerja kreatif, hasil imajinasi tentang sesuatu yang luhur dan mulia dalam ukuranku dan ukuran-ukuranmu semua yang bukan hanya berbeda, melainkan juga berkebalikan satu sama lain. Namun tak berarti aku boleh dengan barisan massa milikku mengusirmu dari bumi milik Tuhan ini. Kaupun tak akan bisa mengusirku dari tiap jengkal tanah tempat aku berpijak karena di manapun berada aku tak menginjak di atas tanah warisan kakek moyangmu, melainkan diatas bumi milik Tuhan kita yang ramah dan serba akomodatif terhadap semua makhlukNya, kehendakNya dan tanggung jawabNya.

 

Jadi bagaimana mungkin di antara kita, sama-sama umat beragama, sama-sama makhluk beriman, justru hendak singkang-menyingkang dan usir – mengusir? Bukankah dialog dan negosiasi kita tentang Indonesiaku dan Indonesiamu belum lagi selesai? Aku tidak tahu, adakah generasi demi generasi di atas kita, apakah sudah gagal merumuskan keindonesiaan yang teduh , enak dan membawa rasa nyaman bagi kita semua? Aku hanya tahu mereka sudah berusaha dengan segenap cinta, tanggung jawab dan kesediaan berkorban. Lalu generasi kita, yang mungkin lembek dan kurang wawasan, akan bersedia gagal mewujudkan Indonesiaku dan Indonesiamu yang kita inginkan bersama. Lalu , kita memilih baku hantam seperti binatang di rimba raya?

 

Indonesiaku memang bukan surgaloka dan seharusnya juga bukan rimba raya. Maka siapa bilang ia tak mungkin diubah menjadi sejenis surgaloka yang bersedia memberi tempat bagi kita semua untuk bisa merasa aman dan nyaman didalamnya? Indonesiaku adalah sekeping negeri yang diciptakan Tuhan dengan kasih sayang dan tanggung jawab. Dengan kasih sayang dan tanggungjawabNya , kita diciptakan dalam corak yang berbeda warna kulit, etnis, tradisi dan bahasanya, serta cara pandang dan sikap-sikapnya terhadap hidup. Tuhan juga memelihara semua jenis perbedaan itu. Lalu apa hak kita – yang bukan nabi, bukan wali dan bukan orang suci- untuk bersikap seolah kita nabi, wali atau orang suci hingga perbedaan di mata kita menjadi musuh dan barang terkutuk serta harus dimusnahkan dari muka bumi? Siapa yang memberi kita hak seolah kita Tuhan? Adakah kau kira Tuhan terpesona melihat kelicikan seperti itu?

 

Politik memang bisa dan selalu menipu. Orang banyak, yang lemah status sosial politiknya, mudah ditipu. Kita puas melakukan persiapan demi penipuan selama Indonesiaku berdiri. Namun mengapa Tuhanpun kita tipu? Dimana kecenderungan mulia dan agung adalah hidup kita? Mengapa politik membunuhnya? Apa yang terbayang dalam benakmu ketika kita bicara tentang ”Ketuhanan Yang Maha Esa” ? Adakah arti “Ketuhanan” disitu? Pendeknya, jangan nodai Indonesiaku karena ia juga Indonesiamu. Indonesiaku ini, aku tahu , Indonesia kita semua .

Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *