Surabaya, infobanua.co.id- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan PT Garansindo Technologi (Garansindo) pada tahun 2015 melakukan kerja sama untuk membangun kendaraan motor listrik lokal pertama di Indonesia yang diberi nama Garansindo Elektrik Sekuter ITS (Gesits). Kerja sama tersebut dituangkan dalam Nota Kesepahaman Nomor 26/MoU/ITS/2015 atau Nomor 50/MoU/ST-ITS/DIR/2015 tanggal 10 Juni 2015. Setelah research yang dilakukan oleh ITS menghasilkan prototype, pada tahun 2016 ITS dan Garansindo mencari partner untuk memproduksi massal motor listrik dengan melakukan vendor gathering. Pada tanggal 30 November 2016 vendor gathering dilakukan dengan mengundang beberapa perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang perakitan dan pembuatan spare part kendaraan, diantaranya PT Wijaya Karya Industri dan Konstruksi (PT WIKON). PT WIKON dan Garansindo kemudian sepakat untuk bekerja sama dalam produksi massal motor listrik melalui pembentukan perusahaan patungan. Dalam rangka kerja sama tersebut, Garansindo membentuk anak perusahaan yakni PT Gesits Technologies Indo (GTI) untuk mewakili Garansindo. PT WIKON kemudian membentuk perusahaan patungan dengan GTI yang bernama PT WIKA Industri Manufaktur (PT WIMA).

Perjanjian pendirian perusahaan usaha patungan antara PT WIKON dan GTI dituangkan dalam Perjanjian Nomor SE.02.02/A.Dir.00393/2018 tanggal 8 Juni 2018 dengan modal dasar sebesar Rp50.000.000.000,00 berupa 50.000 lembar saham @Rp1.000.000,00, sedangkan modal yang disetorkan sebesar Rp7.500.000.000,00 atau sebanyak 7.500 lembar (60% Saham) oleh PT WIKON, dan sebesar Rp5.000.000.000,00 atau sebanyak 5.000 lembar (40% saham) oleh GTI. Sesuai dengan kebutuhan operasional PT WIMA, PT WIKON kemudian melakukan penambahan setoran modal kembali sebesar Rp4.500.000.000,00 pada tanggal 21 Juni 2019, sebesar Rp14.824.000.000,00 pada tanggal 8 November 2019, sebesar Rp18.176.000.000,00 pada tanggal 11 Desember 2019, dan sebesar Rp12.000.000.000,00 pada tanggal 22 Januari 2021 sehingga total setoran modal oleh PT WIKON adalah sebesar Rp57.000.000.000,00. Sedangkan GTI melakukan penambahan setoran modal sebesar Rp1.800.000.000,00 berupa sebagian nilai klaim biaya pra operasi yang disetujui pada tanggal 22 Januari 2021, sehingga total setoran modal oleh GTI adalah sebesar Rp6.800.000.000,00. Atas hal ini modal dasar berubah menjadi sebesar Rp63.800.000.000,00 dengan porsi kepemilikan saham pada PT WIMA adalah PT WIKON sebesar 89,34% atau Rp57.000.000.000,00 dan sebesar 10,66% atau Rp6.800.000.000,00. Perubahan tersebut dituangkan dalam Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT WIMA Nomor 17 tanggal 14 Januari 2021.

Pada tahun 2018 PT WIMA melakukan pembebanan biaya pra operasi atas pengeluaran untuk research & development Gesits yang dilaksanakan oleh PT WIKON dan GTI. Hal ini berdasarkan RUPS Nomor MJ.04.00/WIMA-A.00001/2018 tanggal 26 November 2018 yang menyepakati pembebanan biaya pra operasi yang dikeluarkan oleh PT WIKON dan GTI. Dalam rangka pengakuan biaya pra operasi yang diklaim oleh PT WIKON dan GTI, PT WIMA melakukan verifikasi bukti-bukti transaksi yang diajukan oleh PT WIKON dan GTI. PT WIMA kemudian menunjuk Kantor Akuntan Publik (KAP) Peter Uways & Rekan untuk melakukan audit pembebanan biaya pra operasi. Berdasarkan laporan akuntan independen tentang penerapan prosedur yang disepakati atas biaya pra operasi, dijelaskan bahwa perhitungan biaya pra operasi meliputi semua transaksi dalam periode 1 Januari 2016 sampai dengan 2 Januari 2019. Biaya pra operasi yang dimaksud merupakan biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung terhadap aset tak berwujud sesuai dengan PSAK 19: “Aset Tak Berwujud”. Dalam melakukan pemeriksaan biaya pra operasi, KAP melakukan prosedur yang telah disepakati oleh PT WIMA dengan rincian prosedur verifikasi sebagai berikut:

a. Memeriksa kelengkapan faktur atau tagihan
b. Memeriksa faktur pajak atau bukti potong pajak;
c. Memeriksa bukti pembayaran (rekening koran, bukti transfer, dan kuitansi); dan
d. Menguji biaya/pengeluaran yang bisa diatribusikan langsung terhadap aset tak berwujud

KAP menerima dokumen pengajuan klaim biaya pra operasi berupa pengeluaran biaya research & development Gesits dari masing-masing pihak dengan nilai pengajuan klaim sebesar Rp10.210.259.789,00 dengan rincian sebesar Rp3.886.713.260,00 dari PT WIKON dan sebesar Rp6.323.546.529,00 dari GTI. Hasil laporan verifikasi biaya pra operasi oleh KAP kemudian ditetapkan pada RUPS PT WIMA dan dituangkan dalam Berita Acara RUPS Nomor 5 yang diselenggarakan tanggal 7 Februari 2020. Pada RUPS tersebut disepakati bahwa besar biaya pra operasi yang telah diverifikasi menjadi biaya pra operasi PT WIMA yaitu sebesar Rp8.786.317.824,00 dengan rincian sebagai berikut

a. PT WIKON dapat mengklaim biaya pra operasi sebesar Rp3.667.055.877,00;
b. GTI dapat mengklaim biaya pra operasi sebesar Rp5.119.261.947,00, dengan rincian:
1) Biaya Research & Development oleh Italjet Moto sebesar Rp2.203.110.569,00;
2) Biaya Research & Development oleh ITS sebesar Rp2.600.745.202,00; dan
3) Biaya lain-lain sebesar Rp315.406.176,00.
Dari total biaya pra operasi GTI yang disetujui tersebut, dilakukan konversi menjadi setoran saham sebesar Rp1.800.000.000,00 melalui akta notaris Nomor 45 tanggal 22 Januari 2021.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Asisten Manajer Audit pada KAP Pieter Uways & Rekan, dijelaskan bahwa dalam melakukan verifikasi, auditor melakukan pengujian substansi pada bukti transaksi terkait hubungannya dengan operasional PT WIMA. Selain itu dinyatakan bahwa semua transaksi antara ITS dan Italjet Moto merupakan biaya research & development dari motor Gesits yang dikeluarkan Garansindo/GTI sebelum PT WIMA didirikan. GTI dengan ITS melakukan kerja sama berupa pengembangan prototype dan desain industri untuk motor Gesits, sedangkan antara GTI dan Italjet Moto melakukan kerja sama berupa desain motor Gesits.
Berdasarkan hasil pemeriksaan lebih lanjut terhadap realisasi pembayaran biaya operasi tersebut diketahui beberapa hal sebagai berikut :

a. Biaya Research & Development oleh ITS
Hasil konfirmasi kepada Direktur PUI-SKO ITS periode 2016 s.d. 2019 selaku ketua tim peneliti motor Gesits, diketahui bahwa ITS melakukan kerja sama dengan Garansindo untuk membuat prototype dan desain motor listrik Gesits. ITS telah memberikan prototype dan desain industri kepada Garansindo pada awal tahun 2016. Dalam perjanjian kerja sama ini disebutkan bahwa Garansindo akan membiayai semua biaya penelitian untuk membuat prototype dan desain motor listrik Gesits dengan sistem reimburse atas semua pembayaran yang dikeluarkan oleh ITS. Nilai yang diklaim oleh ITS dalam rangka pembuatan prototype dan desain motor listrik Gesits adalah sebesar Rp4.937.494.700,00 yang terdiri dari:
1) Kewajiban utama untuk biaya bahan dan alat sebesar Rp1.550.744.700,00; dan
2) Kewajiban payroll untuk expert sebesar Rp.3.386.750.000,00

Berdasarkan keterangan ketua team peneliti motor Gesits dari ITS pada tanggal 20 Desember 2021 secara daring melalui zoom meeting diketahui bahwa pembayaran dari GTI ditransfer ke rekening ketua tim peneliti dengan cara diangsur dengan nilai total sebesar Rp1.349.007.502,00, sedangkan sisa pembayaran sebesar Rp3.588.487.198,00 (Rp4.937.494.700,00 – Rp1.349.007.502,00) sampai dengan Desember 2021 tidak pernah diterima oleh ketua tim peneliti.
Nilai biaya pada kegiatan Research & Development oleh ITS tersebut berbeda dengan yang diajukan dan telah disetujui dalam klaim biaya pra operasi GTI ke PT WIMA. Pada Berita Acara RUPS Nomor 5 tanggal 7 Februari 2020, nilai biaya research & development yang diklaim oleh GTI dan dilaksanakan oleh ITS tersebut telah disetujui dan dibayarkan sebesar Rp2.600.745.202,00.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua tim peneliti motor Gesits dari ITS diketahui bahwa ITS hanya menerima pembayaran sebesar Rp1.349.007.502,00 dari GTI, sehingga terdapat selisih realisasi pembayaran kepada ITS sebesar Rp1.251.737.700,00 (Rp2.600.745.202,00 – Rp1.349.007.502,00).
Berdasarkan dokumen yang diterima oleh KAP diketahui bahwa seluruh bukti dokumen purchase invoice dan bukti transfer yang terdiri dari 16 dokumen pembayaran dari GTI kepada ITS hanya berupa fotokopian. Namun untuk pembayaran sebesar Rp1.251.737.700,00 tidak didukung dengan bukti valid dari bank sebagai bukti GTI telah melakukan pembayaran kepada ITS.

b. Biaya Research & Development oleh Italjet Moto

Pemeriksaan terhadap bukti transaksi atas biaya Research & Development oleh Italjet Moto sebesar Rp2.203.110.569,00 yang diklaimkan oleh GTI kepada PT WIMA tersebut, diketahui bahwa bukti transaksi yang ada belum dilengkapi dengan validasi dan/atau bukti transfer dari GTI kepada Italjet Moto.
Terkait bukti transaksi sebesar Rp3.454.848.269,00 (Rp1.251.737.700,00 + Rp2.203.110.569,00) tersebut, hasil konfirmasi kepada GTI pada tanggal 14 Januari 2022 disebutkan bahwa Deputi Direktur GTI akan melengkapi bukti kelengkapan tersebut dan akan diserahkan ke BPK, namun sampai dengan tanggal pemeriksaan berakhir, bukti tersebut belum diterima, sehingga biaya pra operasi GTI sebesar Rp3.454.848.269,00 (Rp1.251.737.700,00 + Rp2.203.110.569,00) belum dapat diyakini validitasnya.

Pengamat kebijakan dan Anggaran publik Ratama saragih berpendapat sudah waktunya PT.Telkom (Persero) Tbk me Reviu semua Program kegiatan yang berpola kerjasama vendor pihak ke tiga karena terbukti tak menghasilkan Produk yang signifikan bagi kepentingan publik.

Responden BPK.RI ini sangat prihatin melihat kinerja PT.Telkom (Persero) Tbk lantaran faktanya didapat laporan pertanggunggjawaban yang tak jelas, ini kan sudah nyata dari hasil pemeriksaan dengan metodologi Reviu Dokumen, Observasi, Verifikasi (Pengujian) konfirmasi, dan wawancara dengan aspek pertimbangan Keandalan (reliability) laoran audit yang digunakan Pungkasnya.

Tambah Ratama, bahwa dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).RI nomor.37/AUDITAMA VII/PDTT/04/202, tanggal 20 April 2022 ini sudah terang benderang jika terdapat uang negara yang di duga tak jelas validitasnya, ini tergantung niat baik Direksi PT.Wika dan jajaannya untuk melaksanakan Rekomendasi BPK.RI tutupnya

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *