Oleh: Pribakti  B

 

 Demam politik semakin memanaskan suhu negeri ini. Tak ada perhelatan politik besar saja, suhunya selalu tinggi, apalagi bila ada dua pesta besar demokrasi yaitu pemilu legislatif dan pemilihan presiden yang akan di gelar serentak pada tahun 2024.. Kemungkinan besar suhu politik bisa mencapai panas tertinggi. Sekarang saja sudah mulai panas-dingin , menggigil dan cenat-cenut. Biasanya dalam kondisi seperti itu, kadang-kadang tingkat kesadaran berkurang. Bisa saja ada gejala kebingungan sehingga tak dapat berpikir bening, disorientasi dan mungkin saja meracau.

 

Namun itulah demam Pilpres. Tak mengherankan menjelang Pilpres 2024 , meskipun politik identitas semakin kehilangan fondasinya, tetap saja rivalitas tidak dibangun dengan kesadaran berpikir yang benar-benar jernih. Rasanya jauh dari perdebatan gagasan.  Banyak politikus memperlihatkan sikap reaktif dan spontan, tetapi kurang diiringi etika. Bukannya menawarkan ide-ide brilian kepada publik, melainkan yang justru kentara adalah kampanye saling menihilkan.

 

Mencermati cara berpolitik seperti itu barangkali tak berlebihan jika disebutkan kapasitas berpolitik di negeri kita baru berada di posisi pinggiran. Sebab bukan persoalan substantif dan problematika yang dibahas, melainkan hal-hal sepele. Demokrasi dipenuhi hal-hal ”ecek-ecek”. Sepertinya demokrasi kita berhenti pada titik antagonistik ketika rival tetap sebagai musuh dan saling konfrontatif sama-sama saling menghancurkan.

 

Selain itu, bagi publik, tentu saja hal ini merupakan pembelajaran buruk. Sebab publik lebih banyak disuguhi informasi bertumpuk-tumpuknya sisi negatif ketimbang positif. Memberi suguhan negatif hanya melahirkan pesimisme, kemurungan dan tidak senang atas kesuksesannya pihak lain. Beda dengan suguhan positif yang menumbuhkan optimisme.

 

Sayangnya , banyak orang merasa tidak terhibur menonton pentas politik dan kalaupun dianggap menghibur, sangat tidak lucu. Ada yang bilang ceritanya tidak bagus, sebab terlalu sering politik itu mementaskan kisah tragedi: lebih mempertontonkan perangai rakus kuasa, saling menjatuhkan, sikut-sikutan, koruptif. Adegan-adegannya kurang bagus , tidak mengundang decak kagum. Akting para pemerannya pun norak-norak dan membosankan. Dialog-dialognya pun kurang inspiratif. Jadi , begitu layar pentas ditutup, penonton membawa pulang rasa kecewa. Dada terasa sesak, napas pun tersengal-sengal. Sampai ada penonton ogah menonton politik karena justru membuat detak jantung terus berdebar-debar.

 

Mengapa demikian? Karena politik bukan sibuk untuk membangun kebaikan bersama. Politik tidak menjadi ladang persemaian benih-benih kebaikan untuk ditanam dan dipanen di kemudian hari. Politik bukan untuk melayani rakyat, tetapi untuk kuda tunggangan. Politik bukan menjadi panggung berdialog para politikus dalam membicarakan persoalan rakyat. Politik justru menjadi arena gontok-gontokan merebut kekuasaan , tanpa menoleh lagi ke rakyat.

 

Politik bukan mengintegrasikan bangsa  melainkan justru membelah bangsa. Ini karena politikus mendapat mandat dari rakyat, tetapi sering berpaling dari rakyat. Beberapa peristiwa , politikus-politikus di DPR, misalnya, berseberangan dengan aspirasi rakyat.  Alih – alih memahami rakyat, malah mereka mempertanyakan rakyat yang mana?  Itu sudah kesalahan pikir yang amat mendasar. Rakyat semakin berjarak dengan mereka, Mereka asyik sendiri, tak mendengar lagi suara rakyat yang mulai serak. Malah dengan undang-undang MPR, DPR,DPD, DPRD, mereka yang kritis terhadap DPR dapat dipukul balik.

 

Begitulah politik kita pada zaman sekarang yang merupakan zaman paling canggih. Sekarang ini sudah memasuki era revolusi industri gelombang keempat (4.0) yang berbasis sistem cyber physical. Tidak hanya disrupsi teknologi, tetapi juga disrupsi perilaku karena memperlihatkan kontradiksi- kontradiksi. Era teknologi  pintar (smart technologi) tetapi tidak memperlihatkan perilaku kecerdasan (smart people) . Di politik , kecerdasan dan kewarasan seakan kehilangan kapling. Narasi indah di politik rasanya cuma dalam text book saja.

 

Tontonan terbanyak adalah sikap-sikap reaktif asbun (asal bunyi), suka menuding , selalu merasa paling benar. Mengapa banyak perilaku politik yang terlihat tidak  cerdas? Sulit menjawab bahwa perilaku politik yang selalu gaduh saat ini memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan cerdas. Inilah disrupsi-disrupsi yang bisa jadi juga anomali di panggung politik era industri generasi keempat (4.0). Fenomena yang marak di arena politik yang mulai berisik ini menjadi peringatan bagi rakyat untuk jeli memilih calon pemimpin pada Pilpres 2024. Salah memilih pemimpin , itu berarti  menjerumuskan bangsa dan negeri ini ke dasar jurang. Saatnya menjernihkan kesadaran berpolitik. Jangan terus menerus mengigau. Indonesia tidak sedang baik-baik.

 

Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *