Media Terverifikasi Dewan Pers
RedaksiPrivacy Policy
Opini  

Imlek, Bisnis dan Politik

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Pribakti B

 

banner 325x300

 Dulu sebelum reformasi, menjadi etnis Tionghoa  adalah menjadi minoritas yang sulit di negeri ini. Secara politik mereka digencet terus dan dieksplotasi untuk kepentingan rezim. Korupsi dan kolusi antara pengusaha dan penguasa selalu diasosiasikan dengan militer dan pengusaha Tionghoa. Jumlahnya yang kecil, tetapi secara ekonomi sangat dominan, membuat etnis ini menjadi sasaran empuk untuk mencari anggaran bagi penguasa. Maka tidak berlebihan bila mereka sangat berterimakasih kepada Gus Dur yang akhirnya membongkar semua sekat-sekat itu.

 

Dalam sejarahnya, budaya Tionghoa yang selama tiga dasa warsa yang dikekang, kini kembali mendapatkan kebebasan berekspresi . Barongsai kini ada dimana-mana. Mereka yang dulu takut menampakkan identitasnya, sekarang secara bebas mengekpresikan eksistensinya. Yang menyesakkan, Gus Dur sendiri dengan bangga mengaku sebagai keturunan Tionghoa. Sebuah pernyataan yang dilandasi tujuan politik untuk mencari dukungan dari para pengusaha Tionghoa. Diakui atau tidak, sumber daya dan jaringan dagang mereka mempunyai potensi ekonomi besar , membuat banyak orang tergiur untuk mendekati etnis ini.

 

Bahkan ada pejabat yang tidak punya asal usul pun menuliskan namanya dalam huruf mandarin sekadar supaya bisa diterima di pergaulan etnis Tionghoa, sekaligus menangguk keuntungan ekonomi darinya. Imlek dulu dirayakan dengan diam-diam. Doa-doa di kelenteng pun dilaksanakan tidak mencolok, karena Imlek merupakan bagian dari budaya Tionghoa yang ditolak rezim Soeharto. Tapi sekarang, Imlek telah menjadi bagian dari 4 pesta besar nasional hampir sejajar dengan Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.

 

Di hari Imlek banyak hotel dan tempat hiburan bersolek , berebut memberikan diskon. Televisi dan media beramai-ramai membuat program khusus menyambut Imlek. Sebuah hari yang mempunyai makna religius telah berubah menjadi momen bisnis yang harus dieksplotasi maksimal. Maka tidak mengherankan bila Imlek telah menjadi bagian dari budaya global yang erat kaitannya dengan bisnis. Imlek bukan hanya dirayakan dengan penuh sukacita di negara-negara yang mempunyai jumlah penduduk Tionghoanya mayoritas. Di negara-negara yang etnis Tionghoanya minoritas pun, Imlek dirayakan dengan besar-besaran juga.

 

Namun , menjadi etnis Tionghoa di Indonesia tetap sulit. Prasangka tidak pernah benar-benar bersih sampai sekarang. Pengalaman buruk kerusuhan Mei 1998 di Jakarta tidak akan bisa hapus dari memori mereka dalam bilangan tahun yang cepat. Kenangan itu akan tetap hidup atau bahkan dihidup-hidupkan karena setiap saat masih tetap bisa diledak-ledakkan. Ini karena meski etnis Tionghoa sudah masuk ke Indonesia ratusan tahun, tetapi prasangka masih tetap ada sampai sekarang. Prasangka yang muncul bisa jadi akibat arogansi perilaku orang Tionghoa sendiri karena adanya perbedaan ekonomi yang menyolok di masyarakat, namun juga bisa karena sengaja dihidup-hidupkan untuk kepentingan politik.

 

Sayangnya, Indonesia tidak pernah punya kebijakan politik yang tegas dan berkesinambungan terhadap etnis ini. Presiden Soekarno pernah menjalankan program untuk memberi kesempatan kepada pengusaha pribumi untuk mengejar ketertinggalan dari pengusaha Tionghoa. Program ini hanya melahirkan segelintir pengusaha pribumi yang dikarbit oleh fasilitas. Selanjutnya program ini terhenti selama Soeharto berkuasa. Pada masa itu, rezim Soeharto menekan etnis Tionghoa di satu pihak tetapi mengeksplotasinya untuk kepentingan kongkalikong mencari cuan.

 

Beda dengan negara tetangga kita Malaysia, Mahathir Muhammad ketika menjadi perdana menteri justru lebih tegas. Ia menerapkan kebijakan yang konsisten untuk mengangkat kekuatan bumiputra Melayu. Mahathir , yang seorang dokter itu mempertahankan kebijakannya  dengan keras dan tegas . Ia dituduh rasis dan diskriminatif , tetapi ia tidak peduli. Ia mempunyai justifikasi politik, budaya dan bahkan filosofis untuk mempertahankan kebijakannya. Ia pun tidak malu-malu mengungkap bahwa orang Melayu memang dari sononya tidak akan mampu bersaing dengan orang Tionghoa. Tidak tanggung-tanggung Mahathir mengkritik keras etnisnya sendiri dengan menganggap mereka malas, cepat puas dan secara intelektual kurang bergairah. Karena itu ia menganggarkan dana stimuli dari pemerintah supaya mereka bisa mempunyai  kesempatan untuk bersaing.

 

Mahathir menyediakan kredit murah untuk bumiputra. Ia juga memberikan pendidikan murah untuk bumiputra dan mengirim mereka bersekolah keluar negeri, serta diberi kemudahan-kemudahan yang tidak diberikan kepada etnis Tionghoa. Sekarang, dapat kita lihat etnis Melayu sudah bangkit dan bisa mengejar ketertinggalan dari etnis Tionghoa. Dari segi harmoni rasial Malaysia mempunyai rekor yang jauh lebih baik dari Indonesia. Dengan kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan yang sangat baik, potensi kerusuhan etnis sangat kecil disana. Bagaimana di Indonesia? Di Indonesia tak ada yang berani menjamin. Potensi kerusuhan etnis Tionghoa setiap saat bisa dengan mudah tersulut.

 

Sampai sekarang tidak ada kebijakan yang konsisten terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Akibatnya kecurigaan masih tetap hidup dan setiap saat bisa meledak. Prasangka tetap ada dan tersembunyi dibawah permukaan dan setiap saat bisa saja muncul tak terkontrol. Karena diakui atau tidak, kultur etnis Tionghoa yang sudah banyak dipraktekkan secara terbuka masih tetap dilihat sebagai kultur yang asing . Semua upaya integrasi hanya semu, sekadar untuk kepentingan kongkalikong politik dan cuan semata, tanpa kebijakan yang didasari pemikiran mendasar secara budaya, politik dan filosofis seperti yang dilakukan Mahathir. Sepertinya Indonesia masih tetap akan tertinggal dalam mengatasi persoalan rasial ini. Selamat tahun baru Imlek 2674!

 

Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

 

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *