Medan, infobanu.co.id – Mengaku dengan nama samaran Siska dari PT.Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk yang beralamat di jl.Ahmad Dahlan Medan menelepon awak media (DM) dengan dalih meminta nomor telepon sesorang yang dipersangkakan sebagai debitur BNI.46 yang bermasalah dan meklaim bahwa DM adalah keluarga debitur yang dimaksud.

Tak sampai di situ saja, penelpon gelap tanpa identitas personal yang jelas kembali menjalankan aksinya, kali ini target sasarannya adalah teman dari anak nya inisial BS yang dipersangkakan debitur BNI bermasalah.

Penelepon gelap yang mencatut nama PT BNI.46 ini selalu menggunakan nomor telepon/ handphone yang banyak dan selalu berganti nomor jika menteror targetnya.

Sampai berita ini diturunkan terhitung ada 24 ( dua puluh empat ) nomor hand phone yang digunakan penelepon gelap yang dimaksud, dan satu nomor Washap lengkap dengan foto profilnya untuk menteror targetnya

Praktek teror-meneror melalui telepon ini bukan lagi hal yang baru di Negeri ini.

Tercatat banyak korban akibat teror dari penelpon gelap ini untuk menagih hutang-piutang sesorang yang dikenal Pinjaman Online (Pinjol), namum anehnya kejadian yang di terima awak media kali ini mencatut nama perusahaan perbankan BUMN yang sudah punya nama besar dan Standart Operasi (SOP) yang terakredetasi oleh Bank Indonesia (BI) dan sudah masuk dalam sistem pengaturan dan pengawasan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sangatlah disayangkan apabila benar kalau kinerja Bank BUMN sekelas BNI.46 menggunakan cara-cara pinjaman online (pinjol) padahal perusahaan BUMN plat merah, namun dari riwayat, sepak terjang, dan trek record BNI.46 ini tak yakin jika penelepon gelap tersebut atas sepengetahuan dan penghunjukan oleh Bank yang dimaksud.

Dapat dipastikan jika ada debitur BNI.46 yang bermasalah pastilah diselesaikan dengan standart pelayanan minimal (SPM) perbankan yang di keluarkan Bank Indonesia (BI) dan dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bukan menggunakan cara-cara yang membuat masyarakat resah, tak nyaman, teror-meneror.

Pasal 27 ayat (3) Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) menyebut melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Pasal ini bisa menjerat pelaku penelepon gelap yang mencatut nama BNI.46 sebagai perbuatan perundungan dalam UU.ITE dalam Cyber Bullying, dimana setiap orang punya hak-hak digital yang dilindungi hukum.

Kondisi ini seharusnya menjadi pelajaran bagi masyarakat agar cerdas dan bijak dalam merespon, mananggapi jika ada penelepon gelap yang tak ada kaitan kepentingan langsung .

Rel/Ratama

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *