infobanua.co.id
Beranda BANJARMASIN Terapkan GCG, Pertamina Masuk Peringkat 141 Fortune Global 500

Terapkan GCG, Pertamina Masuk Peringkat 141 Fortune Global 500

Pertamina Group terus berkomitmen menjalankan prinsip good corporate governance (GCG) sejalan dengan tata nilai AKHLAK, seperti yang dilakukan oleh Subholding Upstream Pertamina. Tata kelola perusahaan yang baik atau GCG menjadi salah satu aspek penting yang perlu diterapkan tidak hanya untuk kepentingan perusahaan saat ini tapi juga untuk keberlanjutannya.

 

Keberhasilan iplementasi GCG yang diterapkan dalam proses kerja di Subholding Upstream Pertamina mendapatkan apresiasi dari Warta Ekonomi dalam ajang Indonesia Excellence Good Corporate Governance Awards 2023, Selasa, 31 Januari 2023.

 

Pertama, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) yang menjadi motor penggerak Subholding Upstream Pertamina mendapatkan penghargaan sebagai Indonesia Excellence Good Corporate Governance Ethics in Guiding Upstream Subholdings to Achieve Sustainable Growth yang diterima Novitri Lilaksari, Pjs. Manager Compliance PHE.

 

Selain itu, PT Pertamina EP yang merupakan Regional Jawa Subholding Upstream juga meraih Indonesia Excellence Good Corporate Governance Ethics in Maintaining Reliability of Oil and Gas Production, PT Elnusa Tbk sebagai Indonesia Excellence Good Corporate Governance Ethics in Support Energy Security and Accelerating Business Growth, dan PT Elnusa Petrofin, salah satu anak usaha PT Elnusa Tbk juga meraih Indonesia Excellence Good Corporate Governance Ethics in Providing Integrated Chemical Commodities Supporting Upstream.

 

Semua capaian prestasi Pertamina tersebut karena Pertamina menerapkan prinsip GCG dalam penerapan Environment, Social, Governance (ESG) pada setiap kegiatan operasi dan bisnis sehingga mampu memberikan dampak yang signifikan dan berkelanjutan. Implementasi GCG terus dilakukan di Subholding Upstream Pertamina, antara lain penerapan tata nilai AKHLAK, penerapan perilaku etika bisnis/Code of Conduct, serta penerapan pelaporan pelanggaran/Whistle Blowing System (WBS) yang dilakukan baik pekerja, manajemen hingga jajaran direksi dan komisaris.

 

PHE sebagai Subholding Upstream juga telah terdaftar dalam United Nations Global Compact (UNGC) sebagai partisipan/member sejak Juni 2022. PHE berkomitmen pada Sepuluh Prinsip Universal atau Ten Principles dari UNGC dalam strategi dan operasionalnya, sebagai bagian penerapan aspek ESG. PHE akan terus mengembangkan pengelolaan operasi di dalam dan luar negeri secara profesional untuk mewujudkan pencapaian menjadi perusahaan miga kelas dunia yang environmentally friendly, socially responsible, dan Good Corporate Governance.

 

Menjalankan Pola Partnership

Pertamina (Persero) saat ini semakin meningkat dan berkembang karena selaku perusahaan milik negara mengikuti pola partnership yang serupa dengan perusahaan milik swasta.

Pertamina menjadi penggerak perekonomian negara. Perkembangan perusahaan dalam lingkup ekonomi global membuat kegiatan bisnis kian berkembang pesat, sehingga mengubah bentuk domestik menjadi perusahaan multinasional.

Salah satu strategis Pertamina melakukan internasionalisasi. Ketika melakukan partnership dengan Lamborghini. Kerja sama yang terbentuk dalam partnership telah menjadi sebuah tren bagi beberapa perusahaan untuk bersaing di tingkat global. Berdasarkan model cross industry agreement yang dikemukakan Dussauge and Garrette, PT Pertamina (Persero) mengambil langkah partnership untuk mengejar keuntungan yang lebih besar dengan perusahaan yang memiliki core bisnis berbeda. Artinya, Pertamina menjalankan partnership tersebut sebagai bentuk mencari pangsa pasar besar dengan cara yang berbeda. Profit menjadi nilai utama bagi Pertamina dalam kerjasama ini.

Partnership yang telah dijalankan PT Pertamina (Persero) dengan Lamborghini telah menciptakan pola-pola yang terbentuk  dalam brand image dan jaringan antar perusahaan.      Brand image merupakan aset penting, namun hal ini juga sebagai tantangan bagi Pertamina. Tantangan tersebut adalah mempertahankan bentuk komitmen yang menjadi dasar brand image itu sendiri. Brand Image secara garis besar merupakan bentuk pelabelan atau merek. Brand image yang dibangun Pertamina ditujukan kepada nama perusahaan dan kemudian diikuti dengan produk-produk yang dihasilkan. Pengaruh merek pada nama perusahaan dapat meningkatkan persepsi terhadap konsumen. Penilaian-penilaian yang keluar dari konsumen tersebut merupakan hal yang harus dipertahankan.

Ciri khas dari kegiatan partnership selalu menciptakan produk kolaborasi yang dihasilkan    melalui inovasi dan teknologi dari Pertamina dan Lamborghini. Pada tahap ini, Pertamina telah      menjalankan bentuk transfer knowladge. Pertamina dilibatkan pada pengembangan produk  yang ditujukan kepada Lamborghini. Dalam melakukan pengembangan produk, Pertamina   dan Lamborghini  menghadapi  trial  and  error untuk terciptanya produk kolaborasi.

Kemudian wujud dari produk kolaborasi Pertamina dan Lamborghini adalah produk pelumas    Fastron dan Pertamax Turbo 1. Produk hasil kolaborasi tidak sebatas  pada  peningkatan kualitas melalui brand image, tetapi telah menggerakan Pertamina pada posisi jaringan strategis    diantara perusahaan lain yang terlibat dengan Lamborghini.

Dengan kata lain, Lamborghini merupakan sebuah media yang kemudian mengantarkan Pertamina dalam jangkuan atau skala bisnis yang lebih luas.

Pada pola jaringan bertujuan untuk memberikan fasilitas pada diversifikasi pasar dan atau  produk. Pengaruh pola jaringan pada Pertamina, jaringan memberikan  ruang gerak Pertamina  pada jangkauan yang tidak  terbatas, Pola jaringan tersebut dapat memberikan daya tawar terhadap Pertamina sekaligus menciptakan nilai trust.

Pola jaringan pada PT Pertamina (Persero) terlihat pada posisi Lamborghini yang berada pada   grup dibawah nama Volkswagen. Volkswagen (VW) membawahi perusahaan seperti Audi,      Porsche, Bentley, Bugatti, Skoda, Scania dan Lamborghini.

Sedangkan nilai trust terbentuk melalui komitmen Pertamina dengan Lamborghini terlihat pada perusahaan Ducati. Ducati merupakan salah satu diantara lingkaran raksasa otomotif Eropa telah menginisiasi Pertamina. Selama proses inisiasi pada Pertamina, Ducati masih menjalin kemitraan dengan Shell sebagai mitra teknisnya.

Dampak Kerjasama Pertamian dengan Lamborghini terjadi penjualan overseas yang dicapai Pertamina diantaranya, dipengaruhi untuk memenuhi industri otomotif, industri, hingga   kapal   laut. Disamping ekspor secara umum, juga dipengaruhi kerjasama dengan Lamborghini.

Pertamina telah dipercaya untuk menjadi oli resmi atau official lubricants Lamborghini, sejumlah 129 dealer Lamborghini yang tersebar diseluruh dunia telah menjadi daya tampung konsumsi tetap pada produk Pertamina diluar negeri. Peningkatan penjualan yang dilakukan Pertamina luar negeri juga sejalan dengan penjualan dari dalam negeri.

Keberadaan PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan negara tidak dapat dipisahkan dari campur tangan otoritas atau pemerintah dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Pertamina dapat ditafsirkan bahwa negara memiliki kuasa penuh atas kinerjanya. Begitu juga dengan keputusan strategis pada strategi internasionalisasi pada partnership PT Pertamina (Persero) dengan Lamborghini.

Pertamina telah menjadi pemain yang signifikan, khususnya dalam ajang kompetisi otomotif berskala internasional. Kolaborasi global ini memberikan nilai tambah yang strategis dalam hal aliansi, inovasi dan pemasaran, yang dapat meningkatkan performa dari produk-produk Pertamina.

Selain itu, kerja sama Pertamina dan Lamborghini menjadi bukti pengakuan dunia terhadap produk Pertamina, seiring pencapaian terbaru Pertamina yang menempati ranking 141 dalam Fortune Global 500, sekaligus satu-satunya perusahaan asal Indonesia di antara 500 perusahaan dunia lain.

*) ida yusnita, wartawan infobanua.co.id

Bagikan:

Iklan