Pribakti B
Oleh: Pribakti B
Kata orang, “uang bukan segalanya, tetapi segalanya perlu uang”. Jangankan makan-minum dan tempat tinggal, untuk kencing kita kadang harus bayar. Sekolah pun, yang katanya gratis, tetap saja ada pungutan ini itu. Begitu pula jika hidup berumah tangga. Cinta tak bisa dimakan. Semuanya perlu ongkos. Tanpa fulus, mampus!
Ada 2 tipe orang yang biasanya beranggapan uang bukanlah segalanya. Tipe pertama adalah orang yang keuangannya telah tercukupi atau tidak pernah benar-benar merasakan krisis keuangan. Sepanjang kehidupannya, baik orang itu miskin atau kaya, kebutuhannya akan uang selalu tercukupi atau dia tidak punya tujuan yang berkaitan dengan kekayaan harta. Sehingga ambisinya tentang uang itu tidak ada.
Tipe kedua adalah orang yang sudah merasakan semua kenikmatan yang bisa didapat dengan uang tapi tetap merasakan kekurangan karena apa yang tidak bisa didapat dengan uang. Tapi tetap saja dia adalah tipe orang yang kebutuhannya tentang uang sudah terpenuhi. Dibilang bermuka dua jelas tidak. Orang-orang seperti itu memang ada.
Pemikiran beragam seperti itu bisa tercipta karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Ini bukan berarti tidak ada orang bermuka dua yang menganggap uang segalanya tetapi mengatakan sebaliknya. Alasan dibalik tindakan itu juga tidak selalu berarti buruk. Barangkali ada sesuatu yang tidak kita tahu yang jadi alasan kenapa dia harus melakukan itu.
Yang pasti untuk hidup jelas perlu biaya. Apalagi di zaman sekarang, di era reformasi dan globalisasi. Di era telepon kabel, orang tak merasa kekurangan apa pun ketika pergi ke luar rumah tanpa alat komunikasi. Sekarang, ketinggalan ponsel di rumah seolah ketinggalan dompet. Di era mesin ketik, tak ada mahasiswa yang menenteng mesin ketik itu kesana kemari. Kini, di era elektronik, laptop adalah teman setia ransel mahasiswa.
Namun, di balik ungkapan segalanya perlu uang” tersirat berbagai kesesatan. Yang umum terjadi adalah, kata “perlu” tidak lagi berani “butuh”, tetapi ingin saja. Sebuah iklan dari seluruh penjuru angin dalam lingkungan yang semakin menghargai benda, membuat orang sulit membedakan antaran keinginan dan kebutuhan. Padahal kebutuhan itu terbatas, sedangkan keinginan nyaris tak terbatas.
Akibat dari keinginan yang amat banyak itu adalah pemujaan terhadap harta. Manusia dihargai bukan karena kejernihan pikirannya dan kemuliaan perbuatannya, tetapi karena harta yang dimilikinya. Para aktivis organisasi, yang sering berkoar-koar tentang segala macam idealisme, juga tidak luput dari godaan keinginan itu. Bagaimana mau melaksanakan kegiatan kalau tidak ada uang? katanya. Jelas , kegiatan perlu uang. Tetapi banyak kegiatan yang bisa dilakukan dengan biaya murah. Ternyata, uang yang dimaksud si aktivis bukan untuk kegiatan saja, tetapi untuk mengisi kantongya sendiri!
Kegilaan pada harta , akhirnya mendorong orang untuk merebut kekuasaan, karena kekuasaan adalah alat paling ampuh untuk mendulang uang. Untuk merenggut kekuasaan, yang terpelajar menggunakan kepintarannya, yang aktivis memakai jaringan organisasinya dan yang kaya menggelontorkan uangnya. Karena uang semakin disembah , maka diantara mereka , si kayalah yang paling menentukan.
Ketika uang terus diburu, diam-diam orang mulai yakin bahwa semuanya bisa dibeli. Meski dia sangat lantang mengutuk materialisme Karl Marx, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, dialah materialis sejati. Baginya , manusia seolah hanya seonggok daging dan tulang yang gampang dibeli. Ilmu yang rohaniah memang tak bisa dibeli, tetapi dia bisa membeli orang pintar, sederet gelar, hingga ijasah palsu.
Padahal materialisme Karl Marx justru ingin melawan materialisme yang serakah itu. Karena tiap manusia perlu materi alias memiliki kebutuhan ekonomi, maka Karl Marx sangat cemas dengan tingkah kaum kaya menguasai alat produksi dan memeras kaum miskin. Sayangnya, dia tidak melihat bahwa penyebab keserakahan adalah penyakit hati, yaitu tamak bin rakus, yang berada di alam batin, bukan lahir.
Materialisme serakah dalam bungkus agama (palsu) , mungkin lebih berbahaya daripada materialisme murni. Namun, dari sudut pandang kaum beriman, kedua-duanya berbahaya. Bagi mereka yang benar-benar percaya pada agama, manusia adalah jasmani dan rohani, roh dan tubuh. Jika hanya satu bagian yang diperhatikan maka manusia akan menderita. Apalagi jika yang diabaikan adalah sisi rohaninya.
Jadi, benarkah segalanya perlu uang? Ya, jika yang dimaksud perlu adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang wajar, bukan aneka keinginan yang berlebihan, akibat keserakahan. Serakah adalah penyakit jiwa. Lawannya adalah sifat pemurah dan pandai bersyukur. Kita mungkin tidak bisa hidup miskin dengan sukarela. Tetapi kita bisa memilih hidup sederhana secara sukarela. Namun, saya khawatir, maksud ungkapan “segalanya perlu uang” hanyalah silat lidah untuk mengatakan “uang adalah segalanya”.
Jose Ferrer Sualang, dulunya DJ di dunia malam Jakarta dan eks karyawan korporat, mengalami titik…
Banjarmasin, infobanua.co.id – Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah (HST), Gusti Rosyadi Elmi (Ustaz Rosyadi), menghadiri acara…
Rantau, infobanua.co.id – Bupati Tapin, H. Yamani, bersama Wakil Ketua DPRD Tapin, H. Midpay Syahbani, dan…
Rantau, infobanua.co.id – Kediaman pribadi Bupati Tapin, H. Yamani, di Tambarangan, Kecamatan Tapin Selatan, dipenuhi oleh…
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat tingginya minat masyarakat dalam menggunakan layanan kereta api selama…
Jakarta, 3 April 2025 – Proyek pembangunan Terowongan Jalan Sultan Alimuddin-Kakap yang digarap oleh PTPP…