Categories: Daerah

Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah: Kisah Markus Anumbon di Kabupaten Boven Digoel

Boven Digoel, infobanua co.id – Di pinggiran pusat kota Kabupaten Boven Digoel, tepatnya di salah satu desa yang terletak jauh dari pusat pembangunan, tinggal seorang petani sederhana bernama Markus Anumbon. Di tengah keterbatasan akses terhadap informasi dan alat pertanian modern, Markus berhasil menciptakan ketahanan pangan keluarga dengan memanfaatkan pekarangan rumah yang terbatas. Kisahnya menjadi contoh bagaimana usaha kecil yang didorong oleh pengetahuan dan ketekunan bisa membawa perubahan signifikan dalam memenuhi kebutuhan pangan.

Markus tinggal di daerah yang sebagian besar warganya bergantung pada sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan terbatasnya fasilitas dan informasi pertanian di desa tersebut, Markus memutuskan untuk mencoba bertani di pekarangan rumahnya yang sederhana. Ia mulai menanam berbagai jenis sayuran seperti cabai, tomat, kangkung, dan terong. Namun, percobaannya tidak berjalan mulus. Tanah di pekarangan rumahnya kurang subur, dan tanaman sering diganggu oleh hama, sehingga hasil yang ia peroleh jauh dari harapan.

“Meskipun saya sudah mencoba berbagai cara, hasilnya tetap tidak maksimal. Tanaman sering tumbuh tidak sehat, dan tanah di sini juga tidak terlalu subur,” kata Markus. Meskipun begitu, ia tidak menyerah dan terus mencari cara untuk memperbaiki kondisi pekarangan tersebut. Markus tahu, ketergantungan pada pasokan dari pasar yang sering tidak stabil bukanlah pilihan terbaik untuk keluarganya.

Suatu hari, kesempatan baru datang melalui program penyuluhan pertanian yang digelar oleh Dinas Pertanian Kabupaten Boven Digoel. Dalam program ini, Markus belajar banyak hal tentang teknik bertani yang lebih efisien. Ia mendapat pengetahuan tentang cara merawat tanaman dengan benar, memilih pupuk yang tepat, serta cara mengatasi hama dengan metode yang ramah lingkungan.

“Sebelumnya, saya hanya menanam dengan cara yang saya tahu. Setelah mengikuti penyuluhan, saya jadi tahu cara merawat tanaman yang benar, seperti kapan waktu yang tepat untuk memberi pupuk dan bagaimana mengatasi hama tanpa merusak tanaman,” ujar Markus dengan antusias.

Berkat pengetahuan yang diperolehnya, Markus mulai melihat perubahan pada tanaman-tanaman di pekarangan rumahnya. Tanaman yang sebelumnya kurang berkembang kini tumbuh subur, hasilnya pun lebih melimpah. Bahkan, selain untuk konsumsi keluarga, Markus juga bisa membagikan hasil panennya kepada tetangga. “Saya ingin lebih banyak orang di kampung ini yang menanam di pekarangan mereka, agar kita bisa mengurangi ketergantungan pada pasar dan lebih mandiri dalam hal pangan,” ungkap Markus.

Kini, pekarangan rumah Markus yang sederhana tidak hanya memberi makan keluarganya, tetapi juga memberi manfaat bagi orang lain di sekitar. Markus berharap, dengan semakin banyaknya warga yang menanam sayuran di pekarangan rumah mereka, ketahanan pangan di desa tersebut bisa lebih terjaga, dan mereka tidak lagi terlalu bergantung pada pasokan dari luar yang sering kali sulit dijangkau.

Kisah Markus adalah contoh nyata dari ketahanan pangan yang tumbuh dari ketekunan dan semangat untuk belajar. Dengan modal pengetahuan yang terus berkembang, bahkan dengan lahan terbatas, Markus dan keluarganya berhasil mencapai kemandirian pangan yang lebih baik, yang tidak hanya dirasakan oleh dirinya, tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya.

“Saya dulu hanya mengandalkan hasil dari pasar untuk kebutuhan sehari-hari, tapi sejak melihat perubahan yang terjadi pada Markus dan mendengar tentang cara bertani yang dia pelajari, saya mulai menanam sayuran di pekarangan rumah saya. Sekarang, saya bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Selain itu, saya juga bisa memberi sedikit hasil panen saya ke tetangga yang membutuhkan. Program penyuluhan ini benar-benar mengubah cara kami bertani,” ujar Yohana dengan penuh semangat.

Selain Yohana, Tulus, seorang petani muda yang juga ikut serta dalam penyuluhan tersebut, menceritakan bagaimana pengetahuan tentang pupuk dan perawatan tanaman yang tepat telah membantunya meningkatkan hasil pertaniannya. “Sebelumnya, saya tidak tahu banyak tentang pupuk dan cara yang benar untuk merawat tanaman. Setelah ikut penyuluhan, saya jadi lebih paham tentang pentingnya memilih pupuk yang tepat dan cara mengatasi hama secara alami. Hasil pertanian saya kini jauh lebih baik dan tidak hanya untuk keluarga saya, tetapi juga bisa saya jual ke pasar,” jelas Tulus dengan bangga.

Pentingnya Penggunaan Pupuk yang Tepat untuk Meningkatkan Kualitas Pertanian

Afredy Boyke Marpaung, PLT Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Boven Digoel, menjelaskan pentingnya penggunaan pupuk yang tepat dalam meningkatkan hasil pertanian di daerah ini. Di Papua, sebagian besar masyarakat memiliki lahan yang luas untuk bertani, namun ada juga mereka yang hanya memiliki pekarangan terbatas. Dalam kedua kondisi ini, pemilihan pupuk yang sesuai sangat berpengaruh terhadap kualitas hasil pertanian, serta kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Afredy menekankan bahwa melalui program penyuluhan yang digelar oleh Dinas Pertanian, petani di Kabupaten Boven Digoel diberikan pengetahuan tentang bagaimana memilih dan menggunakan pupuk dengan cara yang benar. “Kami mengajarkan petani cara menggunakan pupuk yang tepat, baik pupuk organik maupun pupuk pabrik, untuk menjaga kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal,” ungkap Afredy.

Selain itu, Afredy menjelaskan bahwa pupuk yang digunakan dalam pertanian memiliki peran yang sangat penting dalam menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dengan baik. Pupuk organik, seperti kompos atau pupuk kandang, memang memiliki manfaat jangka panjang dalam memperbaiki struktur tanah dan menambah kandungan mikroorganisme yang baik bagi tanah. Namun, untuk kebutuhan tanaman yang lebih cepat dan efisien, penggunaan pupuk anorganik atau pupuk pabrik pun sangat dibutuhkan.

Pupuk pabrik, yang diproduksi secara industri, mengandung unsur-unsur hara yang terkonsentrasi dan siap diserap oleh tanaman. Afredy menjelaskan bahwa jenis-jenis pupuk seperti urea, TSP (Triple Super Phosphate), KCl (Kalium Chloride), dan DAP (Diammonium Phosphate) memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Misalnya, urea mengandung nitrogen yang penting untuk pertumbuhan daun dan batang tanaman, sementara TSP kaya akan fosfor yang mendukung pertumbuhan akar serta pembungaan tanaman. Pupuk KCl yang mengandung kalium berperan dalam memperkuat sistem pertahanan tanaman dan membantu pembentukan buah, sedangkan DAP mengandung nitrogen dan fosfor yang baik untuk merangsang akar dan pembungaan.

“Penting untuk memberi pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman dan dosis yang tepat. Jika berlebihan, pupuk bisa merusak kesuburan tanah dan mencemari lingkungan,” kata Afredy. Oleh karena itu, program penyuluhan ini juga mengajarkan petani untuk tidak hanya bergantung pada pupuk kimia, tetapi juga bagaimana memanfaatkan pupuk organik yang lebih ramah lingkungan, agar ketahanan pangan dapat tetap terjaga tanpa merusak ekosistem.

Afredy juga menyampaikan bahwa penyuluhan mengenai pemanfaatan pupuk yang benar telah memberikan dampak positif bagi petani di Kabupaten Boven Digoel. Dengan memahami teknik bertani yang lebih efisien dan ramah lingkungan, petani kini lebih mampu mengelola pertanian mereka, baik yang memiliki lahan luas maupun pekarangan terbatas. Program ini telah berhasil menjangkau lebih dari seribu petani di daerah tersebut, banyak di antaranya kini telah memanfaatkan pengetahuan baru untuk menghasilkan panen yang lebih baik dan berkelanjutan.

“Penggunaan pupuk yang tepat dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan pupuk luar daerah. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang jenis pupuk yang sesuai dengan tanah dan tanaman, petani bisa lebih mandiri dalam mengelola pertanian mereka,” tambah Afredy.

Ke depan, Dinas Pertanian Kabupaten Boven Digoel berkomitmen untuk terus memperluas program penyuluhan ini, tidak hanya di daerah yang memiliki lahan luas, tetapi juga di kawasan yang memiliki lahan terbatas. Afredy berharap agar lebih banyak petani di Papua yang dapat memanfaatkan teknik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan mengoptimalkan penggunaan pupuk agar ketahanan pangan lokal bisa lebih terjaga dengan baik.

“Pupuk yang tepat adalah kunci untuk pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan. Kami akan terus mendukung petani untuk mengadopsi teknik-teknik yang dapat meningkatkan hasil pertanian mereka, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” tutup Afredy. [Linthon]

admin

Recent Posts

WateryNation Perkuat Komitmen Pelestarian Lingkungan Menyambut Earth Day, Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dan Hari Laut Sedunia

WateryNation, organisasi anak muda peduli lingkungan, menegaskan kembali komitmennya dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga…

2 jam ago

Pelanggan Puji Rental Mobil Listrik Evista, Proses Mudah dan Harga Terjangkau

Evista, perusahaan startup karya anak bangsa yang bergerak di bidang transportasi darat, semakin mendapat pujian…

3 jam ago

Jumlah Penyewa Mobil Listrik Evista Meningkat Drastis Jelang Mudik 2025

Semakin banyak pemudik yang beralih ke kendaraan ramah lingkungan, mencatatkan lonjakan signifikan dalam permintaan sewa…

4 jam ago

Perumda Tirta Taka Nunukan Serahkan Laba Bersih Tahun 2024 ke Pemerintah Daerah

NUNUKAN, infobanua.co.id – Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan menerima penyerahan Laba Bersih Tahun 2024 dari Perusahaan Umum…

9 jam ago

Kapolda Kaltara Tinjau Persiapan Pengamanan Operasi Ketupat 2025 di Nunukan

NUNUKAN, infobanua.co.id – Kapolda Kalimantan Utara, Irjen Pol Hary Sudwijanto, melaksanakan kunjungan kerja pada Selasa,…

9 jam ago

Kapolda Kaltara Tinjau Kesiapan Pengamanan Operasi Ketupat 2025 di Nunukan

NUNUKAN, infobanua.co.id – Irjen Pol Hary Sudwijanto, Kapolda Kalimantan Utara, melakukan kunjungan kerja pada Selasa,…

10 jam ago