Efek Balita Main Gadget Seburuk Apa Sih

oleh -9 views

Walau idenya sederhana, praktik membatasi waktu main gadget anak adalah hal yang pelik.

Anda mungkin pernah mendengar rekomendasi untuk menjauhkan anak dari gawai, minimal hingga usianya dua tahun, lalu senantiasa membatasi penggunaannya. Lebih jarang main dengan ponsel, tablet, atau sejenisnya, lebih baik.

Tujuannya satu, membantu mendorong perkembangan sosial dan mental anak.

Namun, sebagai orang tua masa kini, Anda hidup di antara ponsel pintar, komputer, tablet dan televisi. Sulit menjaga anak untuk menjauh dari layar.

Usah gelisah, sebab studi baru di jurnal Child Development menunjukkan bahwa mengatur waktu main gadget anak dengan ketat mungkin tidak seberapa bermanfaat seperti yang diyakini sebelumnya.

Pada tahun 2016, American Academy of Pediatrics (AAP) merilis panduan screen time baru. Saran mereka, orang tua memprioritaskan waktu bermain kreatif, tanpa bantuan gawai.

Panduan itu merekomendasikan agar bayi tak berhadapan dengan layar gawai, kecuali untuk video call, mulai 18 bulan.

Anak-anak boleh mulai menonton program anak berkualitas tinggi, mulai usia dua sampai lima tahun. Syaratnya, dibatasi satu jam per hari.

Orang tua juga harus mendampingi anak, membantu mereka memahami apa yang mereka lihat.

Sebagian dokter anak khawatir bahwa penggunaan media dapat menggantikan aktivitas fisik, eksplorasi langsung dan interaksi sosial dunia nyata, yang sangat penting untuk dipelajari.

Antara tahun 2011 dan 2012, periset dari Universitas Oxford melakukan wawancara telepon dengan hampir 20 ribu orang tua di AS yang anaknya berusia dua sampai lima tahun.

Dalam pembicaraan itu mereka mendiskusikan waktu main gadget anak-anak mereka dibandingkan dengan panduan AAP, juga kesejahteraan anak-anak dalam satu bulan terakhir. Anak-anak dalam studi ini mewakili etnis dan pendapatan populasi di AS secara umum.

Orang tua diminta menilai empat pernyataan selama sebulan terakhir dengan menggunakan skala 5 poin.

Pernyataan ini menilai kedekatan (“Anak menyayangimu dan bersikap halus padamu”); ketahanan emosional (“Anak cepat kembali normal saat sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya”); Keingintahuan (“Anak menunjukkan minat dan keingintahuan dalam mempelajari hal-hal baru”); dan pengaruh positif (“Anak tersenyum dan banyak tertawa”).

Secara keseluruhan, pertanyaan itu dimaksudkan untuk menilai kesejahteraan anak secara keseluruhan. Orang tua atau pengasuh kemudian memperkirakan berapa jam yang dihabiskan anak-anak di depan layar, baik ponsel atau gawai lain, maupun televisi.

Periset kemudian membandingkannya dengan penilaian orang tua terhadap kesejahteraan anak-anak mereka, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh, termasuk etnisitas, usia, jenis kelamin, pendapatan rumah tangga, dan pendidikan orang tua atau pengasuh.

Ditemukanlah, rata-rata anak-anak menghabiskan waktu sekitar dua jam bergawai setiap hari. Sekitar tujuh dari 10 anak-anak melampaui batas baru AAP dalam satu jam waktu layar setiap hari, dan empat di antara 10 anak melewati panduan sebelumnya, dua jam per hari.

Peneliti menemukan bahwa waktu yang dihabiskan anak-anak di depan layar meningkat seiring bertambahnya usia, dan dengan tingkat pendidikan orang tua atau pengasuh yang lebih rendah pada keluarga berpenghasilan rendah.

Meskipun anak-anak yang main gadget seusai pedoman AAP dinilai memiliki ketahanan lebih tinggi, mereka memiliki tingkat pengaruh positif yang lebih rendah daripada yang tidak ikut pedoman AAP.

Mereka cenderung tidak bersuasana hati positif, kurang sukacita, ketertarikan pada berbagai hal, juga tak terlalu waspada.

Namun saat peneliti melihat lagi demografi dan faktor latar belakang, perbedaan yang sangat kecil ini lenyap.

Bahkan, peneliti menunjukkan bahwa mungkin ada efek positif yang sangat kecil dari penggunaan media digital hingga tujuh jam per hari untuk media televisi dan media berbasis komputer.

Para peneliti menyimpulkan bahwa penelitian ini dan lainnya telah menunjukkan bahwa saat orang tua tidak mempraktikkannya, anak menunjukkan kesejahteraan keseluruhan yang sedikit lebih besar.

“Secara bersamaan, temuan kami menunjukkan bahwa hanya ada sedikit atau tidak ada dukungan untuk teori bahwa penggunaan gadget buruk bagi kesejahteraan psikologis anak-anak,” jelas penulis utama Andrew Przybylski, PhD, seorang profesor dan peneliti senior. Oxford Internet Institute, dilansir Science Daily.

Temuan peneliti menunjukkan konteks keluarga yang lebih luas. Misal, bagaimana orang tua membuat peraturan waktu main gadget. Juga, saat mereka secara aktif menjelajahi dunia digital bersama, lebih penting daripada anak main gadget sendirian.

Makalah ini menyebut bahwa rekomendasi AAP sudah kedaluwarsa, mengingat betapa sering kita beraktivitas dengan gawai dan sejenisnya dalam kehidupan kini.

Karenanya, harus dilakukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui bagaimana agar waktu main gadget bisa diubah menjadi pengalaman sosial yang benar-benar dapat membantu memperkuat ikatan orang tua dan anak.

“Ibaratnya kita tidak bisa memasukkan lagi jin digital ke dalam botol. Adalah keharusan bagi peneliti untuk melakukan penelitian terkini yang mengidentifikasi mekanisme dan sejauh mana paparan waktu di depan layar dapat memengaruhi anak-anak,” kata penulis riset Netta Weinstein PhD, dosen senior psikologi di Cardiff University.

Jadi orang tua sebaiknya bagaimana?

Penting untuk diingat bahwa walau survei studi itu tergolong besar, waktunya cukup singkat dan bergantung pada perkiraan yang sangat luas.

Lebih dari itu, penulis studi mencatat bahwa studi tersebut tidak mengamati kualitas waktu yang dihabiskan anak-anak di depan televisi, apakah mereka membiarkan anak-anak nonton sendiri, atau mendampingi? Sebab, menemani anak beraktivitas di depan layar adalah faktor penting.

Mengikuti rekomendasi AAP tentang waktu layar satu jam sehari atau kurang sebisa mungkin adalah hal baik. Namun penelitian menunjukkan bahwa main gadget lebih dari waktu itu juga sebenarnya tak terlalu jadi masalah.

Jadi tak perlu panik jika bayi atau balita Anda menghabiskan sedikit lebih banyak waktu di depan tablet atau televisi.

Namun, pastikan untuk mengikuti praktik terbaik. Misal, menggunakan ponsel atau tablet untuk mengalihkan perhatian anak dalam situasi tertentu–seperti di dalam pesawat dalam waktu lama–tidaklah masalah.

Di rumah, matikan televisi saat tidak ditontont untuk mengurangi paparannya pada anak.

Cobalah untuk selalu mendampingi anak saat bergawai. Bantu mereka memahami apa yang mereka lihat dan menerapkannya di dunia nyata.

 

brt/gar

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.