oleh

Berkat Disertasi Pembenahan Material Tanah Bekas Tambang Batubara, Rektor Uvaya Banjarmasin Diundang ke Jepang dan Boston AS

‘Batu bala’ hanya 1/3 yang akan menjadi energi, dan 2/3 menjadi abu, dll. Kenapa kita harus mengorbankan alam dan lingkungan demi alasan devisa negara? Banyak yang ikut nebeng di belakang ‘batu bala’ money loundry, bayar utang, dll.

Ironisnya, tenaga kerja yang terserap bukan dari bangsa sendiri. Apalagi orang Kalimantan, urang banua hanya jadi penonton di daerahnya sendiri. Melihat lahan dan lingkungannya hancur. Banyak mudarat ketimbang manfaat.

Banyak nggak orang Kalintan yang menikmati kesejahteraan dari batu bala ini?  Yang ada hanyalah kesengsaraan. Mohon maaf saya tidak mendukung adanya penambahan izin pertambangan BATU BALA.

Saya sebagai orang yang peduli lingkungan, susahnya bukan main untuk mengembalikan ekosistem di wilayah penambangan. Belum lagi pengembalian sosial ekonomi yang rusak.  Ingat!  Jangan sampai Allah SWT, menndatangkan BALA”.

Kutipan kalimat kegelisahan Dr Ir Hastirullah Fitrah MP, ahli micro biologi lulusan Unbraw Malang ini, infobanua.co.id ambil dari dinding facebook pria enerjik dan murah senyum yang saat ini dipercaya mengemban amanah menjadi Rektor Universitas Achmad Yani (Uvaya) Kota Banjarmasin.

Dr Ir Hastirullah Fitrah MP, bisa disebut ahli lingkungan di Kalsel yang beruntung, pasalnya,lewat disertasi ilmiahnya berjudul : “Pembenahan (Amendment) Material Tanah Bekas Tambang Batubara Untuk Media Tumbuh Tanaman Jagung Menggunakan Pupuk Organik Cair Mikro Organisme Lokal,”.

Ahli biologi ini diundang secara khusus ke Jepang pada tanggal 29 Januari 2018 guna melakukan presentasi di hadapan tehnokrat dan pejabat di negeri Matahari Terbit selama 4 hari. Dari Jepang, kemudian dianjutkan ke Singapura, Thailand dan berakhir ke Kota Boston AS.

“Kami memiliki pengetahuan dan konsep penambangan batubara moderen, dengan memperhatikan aspek lingkungan. Kita sedih ada pola perusahaan menerapkan tambang dengan cara gali lubang tutup lubang, itu merusak dan tak ramah lingkungan,” tandasnya, Sabtu (20/1/2018).

Hastirulah mengatakan, pertambangan yang tidak mengindahkan hutan lindung, tidak mengindahkan daerah resapan air, dan mata air sekitar, tentu membuat hukum di negeri hanya sebagai kiasan dan susunan kitab perudang-undangan .

Pada dimensi lain, menurut Hastirullah, aktifitas pertambangan dianggap seperti uang logam yang memiliki dua sisi yang saling berlawanan, yaitu sebagai sumber kemakmuran sekaligus perusak lingkungan yang sangat potensial. Sebagai sumber kemakmuran, sektor ini menyokong pendapatan negara selama bertahun-tahun.

Sebagai perusak lingkungan, pertambangan terbuka (open pit mining) dapat mengubah secara total baik iklim dan tanah akibat seluruh lapisan tanah di atas deposit bahan tambang disingkirkan. Hilangnya vegetasi secara tidak langsung ikut menghilangkan fungsi hutan sebagai pengatur tata air, pengendalian erosi, banjir, penyerap karbon, pemasok oksigen dan pengatur suhu.

Selain itu penambangan batu bara juga bisa mengakibatkan perubahan social ekonomi masyarakat disekitar kawasan penambangan. Upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pertambangan batu bara perlu dilakukan  tindakan-tindakan tertentu sehingga akan dapat mengurangi pencemaran akibat aktivitas pertambangan batubara dan memperbaiki kerusakan lingkungan yang telah terjadi di sekitar pertambangan.

Dalam pandangannya, harus selalu diutamakan daya kreativitas, inovasi serta entertainment. “Kalsel harus bisa membangun secara beradab dan memperhatikan lingkungan,” ujarnya.

Sebagai catatan, Rektor Uvaya Dr Hastirullah, selain dikenal memiliki pergaulan luas juga dikenal memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni. Terbukti setahun menjadi rektor beberapa kemajuan kampus terlihat, misalnya 9 prodi di Uvaya sudah raih akreditasi B, mendongkrak jumlah mahasiswa menjadi 4 ribu lebih.

idayusnita                               

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed