oleh

Bagaimana Mengembangkan Sistem Pendidikan Alternatif di Indonesia

Insiden guru honorer Achmad Budi Cahyono, yang menutup hayat usai diduga dianiaya muridnya, dinilai sejumlah kalangan sebagai persoalan sangat serius. Ini bukan hanya menjadi pelajaran penting evaluasi belajar mengajar di sekolah, tetapi juga cerminan menyeluruh acuan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia.

Apa yang perlu diperbaiki dalam sistem pendidikan kita, dirumuskan Tirto.id menjadi dua persoalan utama: bongkar pasang kurikulum dan kualitas guru.

Dalam rentang 1947-2013 saja, setidaknya terdapat 11 kali pergantian kurikulum. Artinya, jika guru tidak berkualitas, alias tidak paham betul mata pelajaran yang ia ajarkan serta kesulitan menyampaikannya dengan metode terbaik sesuai tingkatan umur siswa, pergantian kurikulum yang tergesa-gesa tanpa kajian mendalam justru akan sia-sia.

Hasilnya siswa jadi tidak kompeten, bahkan tak tertarik belajar dan sulit menentukan mau jadi apa.

Ini sesuai persepsi masyarakat tentang program pendidikan dalam riset Dompet Dhuafa University, bahwa pendidikan di Indonesia belum mampu memberikan dampak positif terhadap budi pekerti.

Terlebih lagi masih banyak siswa yang terkendala putus sekolah akibat kemiskinan dan akhirnya bekerja. Mereka enggan melanjutkan sekolah karena tidak menarik dan sudah kenal uang. Masalahnya, orang tua pun turut mendorong.

Jelas ini bukan lagi soal pemerataan pendidikan, tapi peningkatan mutu dan kesadaran bahwa pendidikan sedemikian penting bagi kemajuan individu dan bangsa.

Untuk itu, masalah pendidikan tidak bisa diselesaikan hanya oleh guru atau pemerintah, melainkan semua pihak di Indonesia.

“Kita berada dalam posisi darurat pendidikan. Harus muncul inisiatif-inisiatif. Publik mesti berdaya. Sektor swasta juga bisa berperan aktif,” ujar Najeela Shihab, pegiat pendidikan Indonesia pada Beritagar.id.
Upaya perbaikan pendidikan Indonesia

Inisiatif Najeela menggagas terciptanya Inibudi.org pada 2012, materi digital berupa video belajar bisa diunduh gratis atau disimak lewat Youtube. Pun Keluarga Kita, layanan daring yang berfokus pada pengasuhan anak. Juga kanal Youtube bermuatan pendidikan “Semua Murid, Semua Guru” dan Pesta Pendidikan yang mempertemukan para pegiat pendidikan.

Lebih dari itu, ia juga merintis munculnya sekolah Cikal sejak 1999 yang kini berkembang pesat. Cikal menitikberatkan kurikulum pengembangan kepribadian anak. Berupa laporan berkala pada orang tua mencakup keterampilan, sikap, dan kompetensi, juga bakat serta keunikan anak, sehingga tiap siswanya memiliki rencana pendidikan masing-masing.

Selain Cikal, kurikulum berbeda juga diterapkan Sanggar Anak Alam (Salam) di area persawahan daerah Nitiprayan, Yogyakarta. Vice.com melansir, sekolah organik ramah lingkungan yang bermula tahun 2000 ini berbasis riset, tanpa mata pelajaran, seragam ataupun pekerjaan rumah.

Di sini para siswa diizinkan memilih sendiri topik risetnya, yang berada di sekitar lingkungan dan dekat dengan keseharian. Dari satu topik semisal tanaman kangkung, pengetahuan siswa meluas karena perlu belajar juga soal jenisnya, cara bertanam, hingga geografi di tempatnya tumbuh. Otomatis, siswa tahu sendiri makna dari apa yang mereka pelajari.

Menurut Sri Wahyaningsih, sang pendiri yang akrab disapa Wahya, anak-anak yang belajar di sekolah formal mempelajari hal yang belum diperlukan di usianya. Sekadar menghafal tanpa tahu pada apa perlu diaplikasikan. Sebaliknya dengan riset, anak-anak terlatih berpikir kritis dan bersolusi.

Laporan evaluasi pun berfokus pada perkembangan, bukan kecakapan siswa pada bidang tertentu. Alhasil, para siswanya percaya diri dan minim persaingan antarteman.

“Mereka belajar soal diri sendiri, potensi diri, apa yang dia lakukan, dan kebutuhan dasar mereka,” ujar Wahya.

Sekolah alternatif macam Salam sudah menyebar di Indonesia. Di Yogya terdapat Sekolah Akar Rumput dan Sekolah Tumbuh. Sementara di Cipedak, Jakarta Selatan ada Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang juga buka cabang di Palembang. Ada juga Nature School Bandung, Sekolah Alam Bogor, dan banyak lainnya.

Ada pula pendidikan alternatif untuk anak-anak bernama Kampoeng Baca Taman Rimba (Batara) di Desa Papring, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur, yang didirikan Widie Nurmahmudy pada pertengahan 2014.

Kepada Merdeka.com, Widie menjelaskan, Kampoeng Batara ingin menyajikan bentuk pendidikan yang lebih humanis, meninggalkan kesan formal, kaku dan tegang. Bahkan yang tidak ada di sekolah formal seperti membangkitkan kembali permainan tradisional.

Di luar sekolah alternatif, banyak pula inisiatif di sekolah formal yang menerapkan pembelajaran unik agar siswa betah belajar.

Juli Eko Sarwono, guru matematika di SMP 19 Purworejo, Jawa Tengah, misalnya. Ia menerapkan metode belajar unik dengan alat peraga, yang membawanya meraih predikat guru kreatif dari Kemendikbud.

Begitu pula usaha Firly Savitri, pemimpin dan penggagas Ilmuwan Muda Indonesia (IMI). Ia dan tim menciptakan laboratorium dan planetarium mini, dengan misi sosial menginspirasi generasi muda agar berminat terhadap sains dan tertarik mempelajarinya lebih dalam.

Perbaikan pendidikan pun bisa dirangsang dari lingkungan. Sejumlah perpustakaan mengubah konsep sedemikian rupa agar bisa memberi kenyamanan bagi siswa dan khalayak yang berkunjung. Sebut saja Perpustakaan Freedom Institute di Jakarta, hingga Taman Baca Kesiman di Bali yang tidak hanya menjadi tempat membaca buku, tapi juga merangsang wawasan dan kreativitas.

Bahkan Loy Machedo, yang sudah membaca hampir 800 buku, menulis ribuan artikel, pun memiliki jutaan informasi penting sepanjang pengalamannya, sadar satu hal. Pengetahuan cuma sia-sia jika tidak diterapkan, dan hanya akan berguna bila bisa membuat perubahan positif dalam hidup.

Ya, belajar itu perlu terhindar dari keseragaman, karena tiap orang berbeda. Inisiatif, ciri khas, dan keterampilan siswa, itu yang perlu dibenahi dalam pendidikan kita.

rel/brt.gr

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed