oleh

Modernisasi Teknologi Pertanian Tepat Guna Dilahan Lebak Bergambut Solusi Alih Teknologi

-Info Banua-12 views

Oleh Nudin SP, Kepala BPP, Kecamatan Martapura Barat Kabupaten Banjar-Kalsel.

Perubahan iklim global berimbas pada kondisi lahan rawa lebak di Kalimantan Selatan. Disamping itu, perubahan iklim menggeser awal dan akhir tanam yang berdampak negatif pada pola tanam dan produksi tanaman pangan di lahan rawa lebak. Penelitian ini bertujuan menyusun peta kalender tanam lahan rawa lebak pada 3 (tiga) kejadian iklim tahun kering, tahun normal, dan tahun basah. Peta tersebut diharapkan bermanfaat sebagai panduan untuk menentukan potensi waktu dan pola tanam tanaman padi sampai level kecamatan di Kalimantan Selatan.

Pembuatan kalender tanam menggunakan kombinasi analisis antara curah hujan dan genangan di lahan rawa lebak. Selanjutnya dilakukan peta kalender tanam yang dikombinasikan dengan peta administrasi, peta agroklimat, peta lahan rawa lebak, dan peta sawah di lahan rawa lebak. Kalender tanam rawa dapat dijadikan salah satu alternative menghadapi perubahan iklim, waktu tanam di lahan rawa lebak berpotensi ditingkatkan dari 1 (satu) kali setahun menjadi 2 (dua) kali setahun.

Pada rawa lebak, adanya perbedaan topografi memunculkan perbedaan tinggi dan lama genangan: (1) lahan yang tergenang dengan tinggi muka air < 50 cm selama kurang dari 3 bulan (lebak dangkal), lahan yang tergenang dengan tinggi muka air 50-100 cm selama 3-6 bulan (lebak tengahan), dan lahan yang tergenang dengan tinggi muka air > 100 cm selama 6 bulan atau lebih (lebak dalam). Tipe luapan dan genangan tersebut sangat berpengaruh terhadap penetapan pola tanam. Kesimpulannya ,bahwa lahan rawa memerlukan penentuan musim tanam yang cocok untuk pertanaman padi. Tantangan lainnya adalah dinamika perubahan iklim seperti perubahan pola curah hujan, ketidakpastian kejadian iklim, dan intensitas periode kekeringan (El Nino) atau kebasahan (La Nina) makin rapat. Perubahan iklim global ini berimbas pada pergeseran awal dan akhir musim tanam serta berdampak negative terhadap pola tanam dan produktivitas tanaman,khususnya tanaman pangan.

Pola tanam sistem rintak sistem tanam tradisional. Pola Tanam padi sistem rintak /menyongsong air surut adalah musim tanam menjelang kemarau .Para petani sudah mulai membersihkan lahan dengan cara ditebas dengan alat khusus yang disebut tajak.Tajak adalah sejenis alat pertanian khas masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan .Bentuknya mirip parang panjang namun gagangnya seperti cangkul antara parang tebas dan gagang/tangkai pegangan membentuk sudut 70 derajat bengkok ke kiri dan caranya pun sama seperti menyangkul /diayun (diilai bahasa lokal) namun bukan menyangkul tanah tetapi memotong gulma agar mudah digulung kemudian ditumpuk/disimpuk dan dipermentasi secara alami dilahan tersebut dengan membentuk onggokan-onggokan kemudian kalau sudah membusuk menjadi pupuk organic, selanjutnya ditabur lagi dilahan yang akan ditanami.Lahan rawa lebak pada umumnya tidak diolah menggunakan bajak/traktor tapi hanya dibersihkan gulmanya saja,karena unsur haranya tipis lebih kurang hanya 15 cm diatas permukaan tanah.Namun dengan hadirnya teknologi pertanian yang semakin modern diharapkan dapat menjadi solusi dan membedah tradisi pertanian yang lebih menyejahterakan petani.

Musim tanam di lahan rawa lebak kecamatan Martapura Barat yang sejak lama diamati dan diteliti baik kondisi lahan dan iklimterutama hasil konsultasi penyuluh dengan para petani /Kelompok Tani ,pada umumnya sama seperti dilahan rawa lebak lainnya di Kalimantan Selatan tergantung kepada kondisi alam yang dua musim (Kemarau dan penghujan).Topografinya ada 3 (tiga) tipe yakni watun 1(satu) watun 2(dua) dan watun 3 (tiga) .Watun satu lebak dangkal bisa ditanami lebih dahulu ,watun 2 menunggu air surut dan watun 3 adalah lebak dalam atau biasa disebut masyarakat Banjar adalah baruh.Di kecamatan Martapura Barat luas lahan yang bisa ditanami pada musim kemarau /rintak sekitar 5900 ha. Musim tanam pada pase April –September (Apsep).Tiga pekan sebelum musim tanam , petani mulai manaradak atau menyemai benih dilahan kering biasanya dilakukan dipinggir /dibahu jalan raya dimana ada lahan tanah.

Alasannya selain aman dari serangan hama/tikus aman dari kebanjiran.Benih padi sudah berumur 3 minggu baru dlacak/dipindahkan dari semaian ke lahan sawah dengan rumpun yang banyak.Setelah itu umur 1 bulan baru diampak atau padi rumpun banyak diurai/dibagi dan biasanya 2 sampai 3 batang benih padi ditanam dengan menggunakan tatujah /semacam tongkat ukuran 30 cm ditancapkan ketanah untuk membuat lubang tanam karena tanahnya agak keras,selanjutnya tinggal pemeliharaan sampai panen .Varietas yang ditanam petani dominan padi lokal /Siam Unus,siam Cantik,siam Saba, siam Adil dll.,meskipun ada juga yang menanam varietas unggul Ciherang atau Impari 30 yang teraliri air irigasi Riam Kanan.

Budaya masyarakat Banjar di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sei.Martapura berpatokan kepada volume air sungai Martapura .Alasannya karena letak sungai dengan hamparan sawah sejajar .Naik dan turunnya air di sungai Martapura sulit diatur karena kondisi lahan gambut tidak padat atau berpori-pori sehingga rembesan air sangat mempengaruhi kondisi lahan .Bila air sungai turun masa tanam sudah tiba ,dan bila air sungai Martapura masih mendekati bibir sungai bahkan meluap artinya air masih dalam .Dari potensi 8000 ha .dikecamatan Martapura Barat yang bisa ditanami (MK –Apsep ) 5900 ha dan pada musim hujan (MH) pada bulan Oktobr-Maret(Okmar) hanya sekitar 500 ha,bahkan hanya puluhan hektar saja karena air dalam.Lahan lebak di Martapura Barat yang ditanami padi berada pada sayap sungai Martapura (letaknya di kiri dan kanan aliran sungai dan potensinya sangat baik dan subur meskipun tidak menggunakan pupuk anorganik full kapasity kecuali varietas unggul , karena unsur hara dari gulma sudah cukup (organik).

Rata-rata produktivitas setiap hektar antara 300 sampai 400 blek ,setara 3 sampai 4 ton) Gabah Kering Giling(GKG) dan unggul rata-rata 5 ton/ha.Produktivitas varietas unggul Ciherang atau Impari (30).pluktiasi tergantung tipologi lahandan bisa lebih 5 ton/ha.Pola tanam di Martapura Barat sedang disosialisasikan gerakan tanam Banjarsapa (Batanam jajar legowo satu kali mawiwit dua kali panen )sebagai alternative melipatgandakan produksi.Pola ini dapat dibuktikan hasilnya .Pola yang digagas oleh bupati kabupaten Banjar H.Khalilurrahman dan disosialisasikan kepala Dinas TPH kabupaten Banjar Ir.H.M.Fachry MP diterapkan petani diberbagai lahan potensial lahan rawa lebak dan gambut. Pola tersebut adalah alternative positive untuk meningkatkan produksi dan solusi akibat lahan tidak bisa direalisasikan secara maksimal dan akibat dari berkurangnya lahan karena alih fungsi lahan.Pola tanam Surung adalah masa tanam menjelang musim hujan sedangkan pola rintak menjelang kemarau namun masih ada hujan.

Perlu ada alternative lain untuk membedah tradisi dan membenah tanah rawa lebak bergambut .
Ada sebuah harapan .apabila 8000 ha. lahan potensial untuk pertanian khususnya tanaman padi ,dikawasan DAS kecamatan Martapura Barat ,hadir teknologi yang tepat guna seperti tersedianya embung-embung persediaan air di kala musim kemarau ,atau ada irigasi layang yang pernah digagas , bukan tidak mungkin Martapura Barat akan menjadi daerah penghasil padi kontributor terbesar untuk menambah isi kindai limpuar kabupaten Banjar . padi Paling tidak ,dengan pola Banjarsapa dari 8000 Ha ,dua kali tanam tanpa jeda dengan hasil 7 ton/ha saja.Kindai Limpuar kabpaten Banjar akan bertambah 54 ribu ton GKG/Thn..Produksi padi setiap tahun di Martapura Barat masih berkutat pada posisi 20 ribuan ton lebih/tahun tulah harapan para petani Martapura Barat dalam mendukung program Pajale.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed